Categories: FEATURES

Beroperasi Sejak 1998, Hingga Kini Menunggu Status WPR

Sepintas lokasi tambang ini berada di lembah. Lokasinya tak jauh dari gedung IPDN Papua. Lokasinya tidak sulit didatangi karena motor bisa langsung berada di titik lokasi penambangan. Saat tiba pertama ada beberapa pondok terbuat dari papan dan atap seng. Ini digunakan oleh pendulang untuk tinggal dan menetap di lokasi. Ada anak istri juga yang tinggal disini. Selain itu ada juga warung atau kios yang didirikan oleh keluarga pendulang.

Saat didatangi terdengar seorang wanita sedang memasak, menyiapkan makanan untuk suami atau keluarganya yang sedang bekerja. Cuaca di lokasi ini cukup terik karena berada di kawasan terbuka. Dari kejauhan sudah terdengar suara mesin alkon yang menyiram tumpukan material tanah berwarna kecoklatan. Tanah-tanah ini disaring untuk mendapatkan biji emas. “Ukurannya seperti pasir.

Ya kalau beruntung bisa dapat seperti gula pasir atau beras,” ujar seorang pemuda yang tak mau menyebut namanya saat ditemui di lokasi, Sabtu (13/12).

Luasan tambang yang sudah tergarap juga membentang. Beberapa kubangan air terlihat layaknya kolam –kolam namun berisi air berwarna kuning kental. Lalu ada selang-selang berukuran besar yang diurai puluhan meter ke bawah.

Sesekali mesin excavator bergerang menuju tebing dan menggeser material. Dari pemandangan ini selang beberapa hari kemudian barulah Cenderawasih Pos bertemu Adolof Ohee.

Adolof sendiri bukan sosok yang pelit bercerita. Ia besedia menjawab semua yang ditanyakan dan disampaikan secara terbuka. Nama lokasi tambang yang sedang digarap saat ini adalah Pokhla. Dikatakan lokasi tambang di Buper dikelola oleh tiga orang yang semua masih keluarga. Setiap pemilik memiliki pekerja masing-masing. Ia sendiri memiliki 7 pekerja. “Kalau lokasi saya itu di bagian bawah. Yang tadi lewat itu tempat saya, kalau ke atas lagi ada kakak dua yang garap,” Akunya.

Ia menjelaskan bahwa lokasinya seluas 12 hektar dan semua berawal ketika tahun 98 dimana ketika itu krisis moneter melanda Indonesia. Tak lama aktifitas penambangan bermunculan tak terkecuali di wilayah Sentani Timur.

“Dulu diawali dari Jembatan II (Sentani Timur) dan terus naik hingga ke Pokhla ini. Tahun 2007 saya kembali ke Papua kemudian pelajari dan ketika itu sedang nganggur akhirnya saya mulai kerja dan berkecimpung di tambang,” beber Adolof.

Lalu pada tahun 2011 pihak Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) datang dan melakukan penelitian selama 3 hari. Adolof dan keluarga mendapat jawaban jika potensi mineral emas di lokasinya baik sehingga itu juga yang memotivasinya untuk terus bekerja. Meski begitu, Adolf memahami bahwa ia harus mengantongi ijin. Iapun berupaya mendapatkan ijin dari pemerintah.

Page: 1 2 3 4

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

BPKAD dan Bapperida Harus Evaluasi Ketat Serapan APBD 2026

Wakil Wali Kota Jayapura, Dr. Ir. H. Rustan Saru, MM., meminta Badan Pengelolaan Keuangan dan…

23 hours ago

TPP Diberikan Berdasarkan Kinerja ASN

Penjabat Sekretaris Daerah Papua Christian Sohilait di Jayapura, Selasa, mengatakan ASN tidak boleh hanya hadir…

1 day ago

Pemerataan Akses Energi Harus Jangkau Kampung Terpencil

   “Energi bukan sekadar soal pembangkit, jaringan dan investasi. Energi adalah kebutuhan dasar untuk menerangi…

1 day ago

Kebutuhan Meningkat, PMI Ajak Warga Rutin Donor Darah

  Menurut Rustan, kesadaran masyarakat untuk mendonorkan darah secara sukarela saat ini mulai menunjukkan perkembangan…

1 day ago

12 Tahun Injil di Skouw, Abisai Rollo: Generasi Muda Harus Takut Tuhan

   Abisai mengajak seluruh masyarakat di tiga kampung Skouw untuk menjadikan perjalanan 112 tahun Injil…

1 day ago

Pemkot Perkuat Lembaga Pemberdayaan Perempuan

  Dalam sambutannya, Nyoman Sri Antari mengatakan kegiatan tersebut merupakan langkah konkret Pemkot Jayapura bersama…

1 day ago