Categories: FEATURES

Sadar Krisis Identitas Generasi Muda, Jalan Kaki Mencatat Sejarah Klaten

Cara Airell Luthfan-Naufal Sa’ad Hidupkan Sejarah Kolonial Lewat Klaten Lampau

Selama ini, ingatan kolektif masyarakat tentang sejarah Kabupaten Klaten seolah selalu tertambat pada kemegahan candi-candi batu dari era klasik Hindu-Buddha. Klaten kerap diidentikkan dengan Prambanan atau Plaosan, seakan-akan linimasa kotanya berhenti setelah runtuhnya era kerajaan kuno.

Laporan: Angga Purenda

Namun, di tangan dua pemuda berusia 26 tahun, Airell Luthfan Ababiel dan Naufal Sa’ad, narasi usang itu coba didekonstruksi. Alumnus Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini sepakat turun ke jalan, membedah arsip-arsip berdebu, demi menghidupkan kembali romatika Klaten masa kolonial hingga era berdarah mempertahankan kemerikaan. Melalui wadah bernama Komunitas Klaten Lampau, keduanya sedang menuntun generasi Z untuk mengenal kembali jati diri kota mereka sendiri.

Komunitas ini tergolong masih seumur jagung, resmi dideklarasikan pada 20 Desember 2025 lalu. Kelahirannya dipicu oleh kegelisahan mendalam melihat minimnya ruang literasi yang membahas sejarah modern Klaten.

“Keresahan kami berdua melihat potensi Klaten dari segi sejarahnya jarang digali. Yang sering muncul kan masa klasik, nah yang belum muncul itu masa kolonial dan kemerdekaan. Kami ingin membentuk wadah pembelajaran bagi generasi muda di Klaten untuk mengenal tanah kelahirannya,” ujar Naufal.

Bergerak mandiri secara swadaya dengan tim inti tiga orang dan dibantu enam relawan, mereka rajin blusukan menyusuri sudut-sudut kabupaten. Bedanya, mereka tidak membawa cangkul ekskavasi, melainkan membawa lembaran salinan arsip kolonial Belanda, koran-koran jadul sezaman, hingga jurnal ilmiah yang valid untuk dicocokkan dengan sisa-sisa arsitektur yang masih berdiri.

Sadar betul bahwa mata kuliah sejarah kerap dicap sebagai momok yang kaku dan membosankan, Klaten Lampau mengadopsi konsep yang sedang naik daun di kota-kota besar seperti Solo, Jogja, dan Semarang, yaitu walking tour (wisata jalan kaki). “Kaum muda itu tertarik dengan kegiatan yang sifatnya fun dan jalan-jalan. Maka kami aplikasikan metode walking tour ini di Klaten,” jelas Naufal.

Melalui wisata jalan kaki ini, peserta diajak menyusuri trotoar kota, berhenti di depan bangunan tua yang sering terabaikan, lalu mendengarkan cerita tentang apa yang terjadi di titik tersebut ratusan tahun lalu. Tak sekadar jalan-jalan, komunitas ini juga menyelipkan sesi diskusi mendalam dengan menghadirkan narasumber kompeten agar informasi yang didapat tidak menguap begitu saja.

Meskipun saat agenda perdana mereka pada Januari lalu sempat dihantam hujan lebat—sehingga hanya dihadiri tiga orang dari sepuluh pendaftar—semangat mereka tidak gembos. Strategi edukasi dialihkan ke ruang digital melalui akun Instagram yang dikemas lewat infografis estetis dan modern.

Page: 1 2

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Persipura Punya Pelatih Baru

Tim Persipura Jayapura sudah dipastikan akan kedatangan pelatih kepala baru. Ini setelah juru taktik musim…

2 days ago

Ada yang Salah Dalam Penetapan Tersangka Jampidsus

Menurut Anthon, penetapan tersangka yang dilakukan setelah penggeledahan dan kemudian dilanjutkan dengan pelimpahan berkas perkara…

2 days ago

Putra Misionaris Korban Pembunuhan Minta Hentikan Kekerasan

Dari rekaman suara selama 13,56 menit yang tersebar terdengar jelas jika Wesley nampak ikut berduka…

2 days ago

Ada Batu Bogor yang Harus Bunyikan Klakson

Ada sejumlah rute dan salah satunya menuju Mamberamo Raya. Ya jika hanya mengandalkan pesawat tentu…

2 days ago

Dokter Spesialis Anak Jelaskan Penyebab Paru-paru Basah

Paru-paru basah atau pneumonia merupakan infeksi pada jaringan paru-paru yang menyebabkan kantung udara terisi cairan…

2 days ago

Ratusan Ular Kobra Lepas saat Banjir , Warga Digigit hingga Dilaporkan Tewas

Peristiwa tersebut terjadi setelah hujan lebat selama beberapa hari yang dipicu Topan Maysak mengakibatkan banjir…

2 days ago