Kata Frits, dengan memberdayakan anak-anak Papua di institusi Polri, maka kita membangun sebuah pola dialog yang lebih partisipatif dan jangka panjang yang secara perlahan mereduksi konflik kekerasan di Papua.
Sekaligus anak-anak Papua bisa membangun kepercayaan ke pada saudaranya, keluarganya, orang tuanya dan lingkungannya tentang bagaimana pentingnya pembangunan, kesejahteraan dan persatuan.
“Bahwa di Papua ada problem ideologi iya, karena itu tidak bisa selamanya kita mendorong polisi atau TNI untuk terus menggunkan senjata. Dalam buku ini, penulis ingin mendorong apa yang disebut dengan dialog kemanusiaan. Karena itu kami mendorong presiden membentuk tim untuk memitimigasi konflik di Papua,” tandasnya. (*/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Wakil Gubernur Papua Selatan, Paskalis Imadawa, menyampaikan apresiasi kepada Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Wanita Islam,…
Kabid Destinasi dan Pemasaran Pariwisata Disbudpar Jayawijaya Naftali F. Rumbiak, S.Sos, M.Si menyatakan, untuk tahun…
Roda aktivitas warga di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, kembali berputar normal. Situasi…
Pj. Sekretaris Daerah Papua Tengah Silwanus Sumule di Nabire, Sabtu, mengatakan pengendalian inflasi tidak lagi…
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Selatan mencatat lebih dari 100 pendaftar untuk program studi…
Branch Communication and CSR Department Head Bandara Internasional Sentani Jayapura Citra Mahesa Nusantara, dalam keterangannya…