Categories: FEATURES

Digelar di Dalam Hutan Sagu, Sendimen Banjir Bandang 2019 Masih Terlihat

Jimi menjelaskan bahwa pagelaran seni ini merupakan kolaborasi seni budaya dan lingkungan dan ia bersyukur karena respon publik sangat antusiasi dan positif. “Kami baru bisa menggelar 1 hari karena ini baru pertama dan pasti banyak kekurangan. Ke depan kami tetap membuka ruang bagi siapa saja yang ingin berkolaborasi dan mau bergandengan tangan untuk berbicara penyelamatan hutan sagu dan pengembangan sumber daya masyarakat di kampung,” tambahnya.

Disini juga terlihat jika moment ini dimanfaatkan oleh warga kampung untuk berjualan. Ada yang menjual kerajinan tangan, produk kuliner hingga kopi berbahan campuran pinang. Para pengunjung juga disuguhi puluhan foto dari beberapa fotografer di Sentani yang menceritakan tentang human interest, kehidupan masyarakat yang berdampingan dengan alam dan budaya. “Kami coba ikut berkontribusi, ada foto teman-teman yang memang sudah dicetak kami coba pajang dan ikut memeriahkan,” ujar Engel Wally, salah satu penyumbang produk foto pameran.

Tak hanya itu, ada juga pesan penyelamatan lingkungan yang disampaikan Bank Sampah Khenambai Umbai maupun dari Earth Hour dan juga Rumah Bakau Jayapura. Dari Rumah Bakau menitipkan puluhan papan ajakan untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai karena hingga kini produk plastik masih terus menjadi produk yang memicu pemanasan global. Menariknya disini MC juga terus mengingatkan pengunjung untuk tidak nyampah sebab ada banyak kantong yang disiapkan panitia.

Event ini terlihat lebih tertib dibanding event besar yang menghabiskan anggaran ratusan hingga   miliaran namun minim tong sampah dan semua berakhir dengan banyaknya sampah berserakan dimana-mana. Event juga dimeriahkan dengan tim dari Rapper Epo D’Fenomeno termasuk para Stand Up Indo Jayapura dan Music Anak Comment.

“Kami sangat terbantu dengan kolaborasi teman-teman ini. Mereka bukan kali pertama tapi sudah beberapa kali dan kami mengapresiasi. Mereka hanya sampaikan bahwa karena ini bicara tentang hutan sagu sehingga mereka hadir untuk ikut menyuarakan dan kami sangat menghargai itu,” tambah Jemy.

Meski perdana, pameran tersebut mendapatkan sambutan hangat dari para kelompok-kelompok sanggar seni, hingga para pengunjung yang datang untuk menyaksikan pameran tersebut. Sayangnya pertunjukan ini hanya digelar sehari, dengan waktu yang cukup singkat pula. Dalam pegelaran seni tersebut, mengambil kolaborasi antara sangar seni Robongholo dan masyarakat kampung Sereh. Yang menceritakan tentang bagaimana masyarakat dapat menghargai alam,  mencintai dan menghargai pohon sagu demi keberlangsungan hidup kedepan.

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Tokoh Agama Papua Padukan Langkah Demi Kemanusiaan dan Perdamaian

   Keberagaman ini menurutnya harus dipelihara sebagai modal dasar untuk membangun tatanan sosial yang adil…

20 hours ago

13 Tahun Melayani Sebagai Sopir Justru Berakhir Tragis

Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz-2026, Kombes Pol Yusuf Sutejo, mengatakan kasus tersebut bermula ketika korban…

20 hours ago

Revitalisasi Penyidikan  29 Proyek Revitalisdasi  Unmus Terus Berjalan

Kejaksaan Negeri (Kejari) Merauke masih terus mendalami dugaan tindak pidana korupsi dalam program revitalisasi Universitas…

21 hours ago

Seharian Duduk di Depan Laptop? Ini Risiko Kesehatan yang Perlu Kamu Tahu

“Sebentar lagi selesai.” Kalimat ini mungkin sering muncul saat sedang mengerjakan tugas atau mengejar deadline.…

21 hours ago

Elay Giban Resmi Jabat Sekda Definitif Papua Pegunungan

Usai melalui beberapa tahapan test yang dilakukan dari oleh pansel dan BKN, akhirnya Gubernur Papua…

22 hours ago

Bahasa Inggris Ciri Utama Pembelajaran Termasuk Bercerita dan Interaksi dengan Lingkungan

Selama ratusan bahkan ribuan tahun, bumi dan laut telah menghidupi miliaran manusia.  Lebih dari 17…

22 hours ago