Categories: FEATURES

Modal Nekat Buka Bengkel, Kadang Sedih Karena Berulang Kali Dibobol Maling

Ia mengaku sedih karena dengan status penyandang disabilitas ia mencoba bekerja semampunya dan tidak menyerah pada keadaan. Meski hanya memiliki satu kaki, ia tak ingin dianggap lemah apalagi hanya menunggu bantuan.

“Jujur saya buka usaha ini tidak punya modal seperti orang di luar sana, saya modal nekat dan berjualan untuk keluarga kecil saya,” ungkapnya. Nawir sendiri sebelunya tinggal di Biak, ia memutuskan hijrah ke Jayapura tahun 2019 lalu kemudian menikah dan kini memiliki2 anak. Meski sebagai orang baru ia mengaku tak ingin merepotkan keluarga di Jayapura. Ia awalnya bekerja membantu di bengkel mertuanya selama 1 tahun lebih dan kemudian memutuskan untuk membuka usaha sendiri.

Berangkat pagi dan harus pulang malam agar tetap bisa bertahan dan menghidupi keluarganya. Nawir menceritakan bahwa dirinya memilih membuka usaha bengkel kecilnya di Hamadi karena cukup memahami soal perbengkelan. Dari keuntungan yang belum seberapa iapun pelan-pelan membeli peralatan yang dibutuhkan.

Namun sayangnya selama membuka bengkel tambal ban ini, ia sering diterpa musibah. “Ada empat kali bengkel kecil ini kebobolan, bahkan satu kali sempat dibakar. Untungnya ada warga yang melihat dan mencoba memadamkan sehingga api hanya membakar bagian luar saja. Nawir menggunakan konsep kontener sebagai bengkelnya. Kontener ini sejatinya hanya  terbuat dari seng dengan rangka besi kemudian dicat hitam.

Ukurannya juga tak lebih dari 2 meter. Di bagian samping kiri kanan diletakkan kompresos dan tumpukan ban bekas. Sedangkan di bagian belakang digantung kipas dan bagian atas diletakkan speaker kecil yang selalu diputar. Ketika tak ada kostumer, ia mendengarkan ayat suci Al Quran. Jadi pada Minggu malam itu, bengkelnya kembali dibobol dan seluruh peralatan bengkelnya kecuali kompresor dicuri.

Stok ban dalam yang menyimpan keuntungan lebih juga dibawa serta oleh pelaku.

“Kalau untuk ban dalam saya pikir tidak apa-apa, tapi ini alat-alat semua dibawa. Saya seperti tidak bisa bekerja lagi akhirnya sementara cari pinjaman atau menggunakan alat seadanya,” ceritanya. Nawir mengaku sedih karena ia memulai dari nol dan berjuang untuk keluarganya.

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Recent Posts

Perbatasan RI-PNG Bukan Sekadar Garis Batas

   “Perbatasan tidak boleh hanya dipandang sebagai garis pemisah, tetapi harus menjadi ruang perjumpaan, ruang…

11 hours ago

Kemarau Panjang Bikin Stok Beras Merauke Menurun

Stok beras di Merauke, Papua Selatan, mulai mengalami penurunan sejak Agustus 2026. Kondisi tersebut dipengaruhi…

11 hours ago

Pedagang Luar Kota Jayapura Wajib Patuhi Aturan Pasar

   Penegasan tersebut terutama ditujukan kepada pedagang yang berasal dari luar wilayah Kota Jayapura, seperti…

12 hours ago

Penyuluh Pertanian Harus Jadi Agen Transformasi Pertanian Modern

Papua Selatan dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu kawasan strategis dalam pembangunan lumbung…

12 hours ago

Abisai Rollo: Penertiban Untuk Kembalikan Fungsi Pasar

  Abisai mengatakan, keberadaan area parkir menjadi salah satu bagian penting dalam penataan pasar. Masyarakat…

13 hours ago

Cegah Tawuran Malam, Polisi Razia Sajam di Bundaran Petrosea

Maraknya aksi tawuran yang berulang pada malam hari memaksa aparat kepolisian memperketat pengawasan di titik-titik…

13 hours ago