Ia menambahkan, meneladani Santo Fransiskus Asisi berarti guru dituntut tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai orang tua yang membentuk karakter siswa. “Kalau karakter anak-anak terbentuk dengan baik, kualitas pendidikan kita akan semakin bermutu,” ujarnya.
Lebih dari sekadar kegiatan rohani, rekoleksi ini memberi pesan mendalam, guru YPPK harus menjadi kabar sukacita bagi anak didiknya. “Kami tidak hanya dituntut menguasai materi ajar, tetapi juga menghidupi spiritualitas pelayanan, peduli pada mereka yang kesulitan, dan hadir sebagai sumber harapan,” tutur Feliks.
Di tengah derasnya arus zaman, YPPK berharap kegiatan ini terus berlanjut setiap tahun. Karena sejatinya, pendidikan Katolik bukan hanya soal angka dan prestasi, melainkan juga soal hati dan iman. Dengan semangat Santo Fransiskus, guru YPPK dipanggil untuk melayani dengan rendah hati dan mendidik dengan kasih. (*/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Fungki yang didampingi Kepala Seksi Kepatuhan Internal dan Penyuluhan (KIP) Eston Erlangga mengatakan, secara keseluruhan…
Mengingat rata-rata pelayanan penugasan rutin hanya mencapai 250 ton per bulan, stok yang ada saat…
Akibat pencurian tersebut, ikon kebanggaan Papua khususnya Kota Jayapura itu hingga kini tampak gelap gulita…
Pantauan media ini di lapangan, sejak pukul 07.00 WIT para guru hingga pelajar dari empat…
Selain itu bermodal di putaran pertama Persipura juga berhasil mengkandaskan mimpi Barito saat bertandang ke…
Kepala Kejaksaan Negeri Merauke Dr. Paris Manalu, SH, MH, didampingi Kepala Seksi Pemulihan Aset Arief…