Ia menambahkan, meneladani Santo Fransiskus Asisi berarti guru dituntut tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai orang tua yang membentuk karakter siswa. “Kalau karakter anak-anak terbentuk dengan baik, kualitas pendidikan kita akan semakin bermutu,” ujarnya.
Lebih dari sekadar kegiatan rohani, rekoleksi ini memberi pesan mendalam, guru YPPK harus menjadi kabar sukacita bagi anak didiknya. “Kami tidak hanya dituntut menguasai materi ajar, tetapi juga menghidupi spiritualitas pelayanan, peduli pada mereka yang kesulitan, dan hadir sebagai sumber harapan,” tutur Feliks.
Di tengah derasnya arus zaman, YPPK berharap kegiatan ini terus berlanjut setiap tahun. Karena sejatinya, pendidikan Katolik bukan hanya soal angka dan prestasi, melainkan juga soal hati dan iman. Dengan semangat Santo Fransiskus, guru YPPK dipanggil untuk melayani dengan rendah hati dan mendidik dengan kasih. (*/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
"Pelaksanaan ekstraksi dan cellebrite terhadap barang bukti berupa tiga buah telepon seluler, dua milik korban…
Korban diduga terjatuh ke sungai saat hendak memperbaiki tali jangkar kapal. Kejadian tersebut dilaporkan kepada…
Ribka menyampaikan hal tersebut dalam rapat evaluasi penyaluran Dana Otsus dalam keterangannya di Jakarta, Kamis,…
Korban ditemukan dalam kondisi selamat pada Kamis pagi (6/8), setelah perahunya karam dihantam ombak besar…
Marince, salah seorang orang tua murid, mengaku lega dan bahagia karena anak-anak akhirnya bisa kembali…
Skema transmisi ini merupakan bagian dari kebijakan nasional untuk menekan tingkat impor bahan bakar fosil…