Categories: FEATURES

Mengira Wajah Dilumuri Lumpur Karena Berduka Tapi Malah Menyerang Membabi Buta

Minggu, 23 Maret 2025, aparat gabungan TNI-Polri mengevakuasi Kosmas dan korban lainnya, termasuk jenazah almarhumah Rosalia, menggunakan helikopter dan pesawat ke Jayapura. Mereka langsung dirujuk ke RS Marthen Indey untuk mendapat perawatan medis dan psikologis.

Setelah sembuh, Kosmas dan rekan-rekannya dipulangkan ke Sentani. Namun sejak saat itu, mereka tidak pernah kembali ke Anggruk. Yayasan tempat mereka mengabdi, Yayasan Serafim memutuskan untuk menarik seluruh guru dari 31 distrik di Yahukimo, termasuk Anggruk.

“Kami memang belum kembali mengajar di sana. Trauma kami terlalu besar. Dan lebih dari itu, wajah kami sudah dikenal oleh pelaku. Kami tak mau kejadian serupa terulang,” tegasnya.

Meski begitu, Kosmas menyebut bahwa proses belajar masih diusahakan tetap berjalan. Anak-anak di Anggruk kini hanya mendapatkan tugas melalui grup Whatsapp. Nilai akhir diserahkan ke yayasan, lalu ke Dinas Pendidikan Kabupaten Yahukimo.

Namun Kosmas tahu, pendidikan yang berjalan tanpa tatap muka bukanlah solusi baik. Anak-anak yang mereka cintai kini kehilangan kesempatan belajar yang layak, dan para orang tua pun tentunya kecewa.

“Tapi ini soal nyawa, kami tahu orang tua murid pasti kecewa dengan sistem pembelajaran seperti ini, tapi kondisi keamanan tidak memungkinkan untuk kami kembali ke Yahukimo,” tuturnya.

Kini, meski luka fisik telah mengering, batin Kosmas dan rekan-rekannya masih terus berdarah. Semangat mengajar masih ada, namun tidak untuk daerah Yahukimo. “Di Papua, kami masih ingin mengajar. Tapi tidak di Yahukimo. Cukup sampai di situ. Biarlah itu jadi awal dan akhir dari semua penderitaan,” tandasnya.

Ia berharap tragedi kelam ini menjadi pelajaran berharga. Agar tidak ada lagi guru yang pulang tinggal nama, tidak ada lagi anak-anak yang ditinggal tanpa pendidik, dan tak ada lagi kemanusiaan yang dibakar begitu saja.

Kini ia dengan rekanya termasuk guru guru lain yang ada dibawa naungan Yayasan Serafim tengah mengikuti pelstihan Training as Healing di Kota Jayapura, berharap pelatihan tersebut mennyembuhkan luka dan trauma yang kini masih membekas. “Semoga dengan pelatihan bisa menghilangkan trauma yang kami rasakan,” imbuhnya. (*)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Perkuat Pemberdayaan Linmas untuk Ketertiban dan Ketahanan Sosial

Kegiatan yang digelar oleh Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Papua dan Satpol PP Kabupaten Sarmi…

1 day ago

Gubernur Briefing Seluruh Perangkat Layanan Kesehatan

Gubernur mengatakan, langkah itu merupakan tindak lanjut dari hasil audit Kementerian Kesehatan yang dilaksanakan atas…

1 day ago

377 Kepala Keluarga Terdampak Banjir dan Longsor di Kabupaten Jayapura

Kepala BPBD Kabupaten Jayapura, Lefinus Ragainaga, menjelaskan bahwa dari total tersebut, 345 KK merupakan warga…

1 day ago

Yahukimo Tegang, Seorang Pelajar Dilaporkan Tewas Terkena Serpihan Bom

Dikatakan perwakilan mahasiswa ini tindakan sewenang-wenang ini itu bukan hal tetapi sering terjadi. Karena itu…

1 day ago

Waket III DPRK Jayapura Desak Penegak Hukum Periksa Mantan Pengurus Perusda

Desakan ini disampaikan karena adanya dugaan penyimpangan penggunaan penyertaan modal yang nilainya mencapai sekitar Rp11…

1 day ago

Puncak Jaya “Menyala” Lagi, Satu Tewas

Kapolres Puncak Jaya, AKBP Achmad Fauzan, membenarkan adanya peristiwa tersebut. Ia menjelaskan, bentrok bermula ketika…

1 day ago