Categories: FEATURES

Jadi Alarm Akademik dan Sosial yang Harus Disikapi Secara Serius, Kritis, dan Konstruktif

Namun demikian ia mengatakan, proyeksi tersebut perlu dipahami secara hati-hati karena kondisi bahasa di Papua tidak homogen. “Ada bahasa yang masih kuat bertahan, ada yang mulai mengalami pergeseran, ada yang terancam punah, kritis, bahkan ada yang sudah punah,” ungkapnya.

Sebutnya, kepunahan bahasa daerah dipicu karena beberapa faktor diantaranya; jumlah penutur sangat kecil, tidak diwariskan kepada generasi muda, wilayah penggunaan terbatas, telah tergantikan oleh bahasa dominan dan mengalami penyempitan ranah pemakaian. Berdasarkan data situasi bahasa di Papua, sejumlah bahasa yang berada pada kategori sangat kritis antara lain; Bahasa Mapia, pernah tercatat hanya memiliki satu penutur aktif; Bahasa Bonerif, penuturnya sangat terbatas; Bahasa Saponi; Bahasa Woria; Bahasa Kanum Badi; Bahasa Kwerisa; Bahasa Dusner; Bahasa Kembra; Bahasa Mander; dan Bahasa Mor.

Sementara itu, Bahasa Tandia bahkan telah dinyatakan punah karena tidak lagi memiliki penutur aktif. Bahasa-bahasa tersebut dapat dipandang sebagai kelompok bahasa dengan status moribund language, yakni bahasa yang tidak lagi diwariskan kepada generasi muda. Dalam teori pemertahanan bahasa Joshua Fishman, kondisi ini merupakan indikator utama menuju kematian bahasa (language death).

Menurutnya, benteng terakhir pelindungan bahasa daerah adalah keluarga. Jika dalam keluarga sudah tidak menggunakan bahasa daerah (bahasa ibu) dalam berkomunikasi, ancaman kepunahan suatu bahasa daerah akan terjadi. Salah satu penyebab bahasa daerah terancam punah adalah minimnya pewarisan bahasa daerah oleh oramg tua kepada anaknya atau generasi muda. “Orang tua lebih sering menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi dengan anak-anaknya daripada bahasa daerah,” tuturnya.

Hal ini menyebabkan pembelajaran atau pengenalan kosakata bahasa daerah dalam lingkungan keluarga tidak terjadi sehingga generasi muda tidak mengenal kosakata-kosakata bahasa daerahnya. Selain itu, penyebab lain bahasa daerah di Papua punah adalah migrasi dan urbanisasi, tingginya arus migrasi dan urbanisasi penduduk ke wilayah perkotaan atau pesisir menyebabkan komunitas penutur asli bahasa daerah menjadi minoritas di tanah sendiri.

“Kematian penutur jati (generasi tua) yang menguasai atau yang fasih menggunakan bahasa daerah tanpa ada pewarisan bahasa kepada generasi muda menyebabkan bahasa daerah tersebut kehilangan penuturnya,” tambahnya.

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

BTM: Pemekaran Papua Utara Menyatukan Harapan Masyarakat

   Daerah Otonom Baru (DOB) itu, kata dia, bertujuan mempercepat pemerataan pembangunan, meningkatkan kualitas pelayanan…

1 day ago

Jangan Tunggu Ada Keluhan Jantung, Biasakan Hidup Sehat dan Rutin Periksa

Dari senam bersama hingga pemeriksaan kesehatan, Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Provinsi Papua mengajak masyarakat lebih…

1 day ago

​Bangunan Liar Marak, Satpol PP Diminta Tertibkan Fungsi Trotoar

Pemerintah Kota (Pemkot) Jayapura kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga kebersihan, kerapian, dan keindahan wajah kota.…

1 day ago

Kasus Perjalanan Dinas DPRP Memanas

   Ketua Aliansi, Jansen Previdea Kareth, mengatakan pihaknya menghormati proses hukum yang sedang berjalan. Namun,…

1 day ago

Anggaran Pemerintah Harus Tepat Sasaran dan Bermanfaat Nyata

  Menurut Rustan, DPR Kota Jayapura telah menetapkan APBD perubahan, sehingga diharapkan seluruh organisasi perangkat…

2 days ago

Penghubung KY Papua Dorong Mahasiswa Kawal Integritas Hakim

  Kegiatan dengan tema “Optimalisasi Peran Penghubung KY dalam Menjaga dan Menegakkan Integritas Hakim" tersebut…

2 days ago