Categories: METROPOLIS

Mahasiswa Jangan Terprovokasi Konflik di Wamena

JAYAPURA-Guna menyikapi konflik sosial yang tengah melanda Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, gabungan mahasiswa yang berasal dari Kabupaten Lanny Jaya, Yahukimo, dan Jayawijaya sepakat menyatakan sikap bersama. Mereka menyerukan dengan tegas agar seluruh pihak yang bertikai segera menghentikan aksi perang suku demi keselamatan dan kedamaian masyarakat di atas Tanah Papua. Pernyataan sikap bersama ini dibacakan di tengah kekhawatiran yang mendalam atas jatuhnya korban jiwa, kerusakan materiil, serta lumpuhnya aktivitas pendidikan dan perekonomian warga di wilayah tersebut.

Dalam konferensi pers yang digelar pada, Sabtu (16/5) di Wamena, para mahasiswa menilai konflik tersebut sangat merugikan masyarakat Papua sendiri dan mengancam masa depan generasi muda di wilayah pegunungan. Konferensi pers dengan tema “Jangan Saling Hancurkan Sesama Papua” itu, mahasiswa mengajak seluruh masyarakat Papua Pegunungan, khususnya mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di berbagai kota studi, agar tidak mudah terprovokasi oleh isu maupun informasi yang dapat memperkeruh situasi.

“Kami mengimbau kepada seluruh mahasiswa dan masyarakat asal pegunungan di kota studi dimana pun agar tidak terprovokasi dengan peristiwa perang yang sedang terjadi di Wamen. Kita harus tetap menjaga kebersamaan sebagai anak-anak Papua,” kata Edison Payage Ketua Ikatan Mahasiswa Jayawijaya, dalam rilis yang diterima Cenderawasih Pos, Minggu (17/5).

Dalam keterangannya ia menyampaikan bahwa konflik yang terjadi di Wamena khususnya di daerah pegunungan secara keseluruhan yang notabene jumlah penduduknya sedikit, hanya akan membawa penderitaan bagi masyarakat sendiri. Untuk itu, Edison meminta Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan dalam hal ini Gubernur Papua Pegunungan bersama para bupati dari daerah yang terlibat konflik dapat duduk bersama mencari solusi damai.

“Kita ini tinggal sedikit, bukan banyak. Jangan sampai kita saling menghancurkan sesama saudara sendiri,” tegarnya dengan tegas.

Menurutnya, situasi yang terus memanas berpotensi mengganggu keamanan dan stabilitas di ibu kota provinsi. Selain pemerintah, mahasiswa juga meminta para tokoh gereja, tokoh adat, dan para kaum intelektual untuk ikut berperan aktif menenangkan situasi.

“Konflik ini sangat berbahaya bagi masa depan daerah pegunungan,” ujarnya.

Di saat yang sama, Geri Lagowan perwakilan himpunan mahasiswa Lani Jaya menyatakan bahwa mahasiswa sebagai agen perubahan memiliki tanggung jawab moral untuk menyuarakan perdamaian.

Untuk itu mahasiswa berharap perang tersebut tidak meluas ke daerah lain maupun di kota-kota studi tempat mahasiswa Papua berada. Tetap fokus belajar untuk membangun masa depan, dan menjaga persatuan di tanah Papua tercinta.

Page: 1 2

Juna Cepos

Recent Posts

Pesawat Dibakar, Pilot Ditembak, Pelaku Langsung Berpose

Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) atau Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) mengklaim bertanggung…

3 days ago

Marinus Yaung: KKB Tidak Akan Mendapat Dukungan dan Simpati Asing

Menurutnya para elit politik Papua di wilayah Papua Pegunungan, harus bisa membuka ruang-ruang komunikasi dengan…

3 days ago

Presiden Perlu Evaluasi Operasi Keamanan di Papua

Menyikapi peristiwa itu, Kepala Komnas HAM RI Perwakilan Papua, Frits Ramandey, mengeluarkan pernyataan sikap yang…

3 days ago

Singgung Demo Ditahan, Konvoi Bola Dibebaskan

Kepercayaan masyarakat merupakan modal utama bagi setiap institusi penegak hukum. Sekali kepercayaan itu tumbuh, masyarakat…

3 days ago

Okto Disebut Sebagai Wakil Komandan TPNPB-OPM

Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna, menjelaskan bahwa insiden tersebut bermula…

3 days ago

Cetak Sawah Baru di Sota Masih Terkendala Penolakan Warga

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Merauke Leo Patria Mogot menjelaskan,   secara…

3 days ago