Sementara pada, krisis komunikasi dan perselingkuhan, seringkali pasangan kurangnya keterbukaan, pudarnya rasa saling percaya, serta hadirnya pihak ketiga (perselingkuhan) yang kerap dipicu oleh penyalahgunaan media sosial.
“Tindakan kekerasan, baik secara fisik, verbal, maupun psikis, menjadi alasan mutlak yang membuat salah satu pihak memilih untuk menyudahi pernikahan demi keselamatan diri,” tambahnya.
Selain itu, ungkap Abdul, banyak pasangan yang menikah tanpa memahami hak, kewajiban, dan realitas kehidupan pasca-pernikahan, sehingga kaget saat menghadapi dinamika rumah tangga yang asli.
Menurutnya, perceraian bukanlah akhir dari masalah, melainkan awal dari babak baru yang membawa dampak signifikan bagi lingkungan sekitar, terutama dampak bagi Anak, yang memungkinkan anak rentan mengalami trauma, stres, depresi, merasa tidak aman, hingga kehilangan figur teladan dalam hidupnya.
Kondisi ini juga dapat memicu ketidakharmonisan orang tua yang sering kali mengganggu fokus belajar anak di sekolah dan memicu perilaku menyimpang (kenakalan remaja) di luar rumah.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua menargetkan 1.000 mahasiswa menerima bantuan pendidikan melalui program Mahasiswa Cerdas (Mace)…
Ketua Komisi IV DPR Papua, Joni Y. Betaubun, menegaskan bahwa selama lebih dari satu tahun…
Propam Polresta Jayapura Kota, Papua, dalam menyambut Hari Bhayangkara Ke-80 menggelar kegiatan penegakan ketertiban dan…
Kegiatan strategis ini dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Papua, serta para pemangku kepentingan…
Menurutnya, pengurus yang bergabung dalam organisasi olahraga harus memiliki tujuan yang sama, yakni membangun prestasi…
Wali Kota Abisai Rollo menegaskan bahwa olahraga merupakan sarana penting untuk membentuk karakter generasi muda…