Categories: FEATURES

Kadang Pelaku Berkelompok, Tindakan Kerap Tidak Manusiawi dan Merendahkan

Usaha ini seakan tidak mempan, lantaran kasus kekerasan perempuan di Indonesia terutama di Papua setiap tahunnya menanjak. Berdasarkan informasi yang dihimpun Cenderawasih Pos, dalam periode Januari – Desember 2025, kasus kekerasan yang terjadi ke perempuan Papua mencapai ribuan kasus. Kondisi ini diprediksikan terus meningkat setiap tahunnya.

Kepada media, Koordinator Koalisi Enam Belas Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 HAKTP) Kota Jayapura Novita Opki mengatakan pihaknya memulai rangkaian kampanye tahunan, yang diselenggarakan mulai, Selasa (25/11) hingga Rabu (10/12).

Dengan tema “Kami Ada, Kami Melihat, Kami Mendengar, Kami Merasakan, Kami Tidak Tinggal Diam, dan Kami Melawan” , gerakan ini menegaskan kembali keberpihakan perempuan Papua terhadap korban kekerasan yang terus terjadi di Tanah Papua.

Dalam kampanyenya ada survei kasus kekerasan terhadap perempuan, podcast tematik soal HAM dan ekoteologi, diskusi tentang marital rape, workshop zine, hingga kampanye HAM di media sosial. Rangkaian agenda akan ditutup pada Hari HAM Internasional. Ia menegaskan bahwa aksi 16 HAKTP bukan hanya seremonial, tetapi ruang untuk menyuarakan kekerasan yang jarang terdengar dan sering tidak dicatat dalam laporan resmi.

“Momen ini menjadi momen penting bagi kita semua perempuan dan semua kelompok yang terus perjuangkan keadilan di atas tanah Papua,” kata Novita dalam konferensi persnya di Gedung Sopie P3W Padangbulan, Jayapura, Senin (9/10).

Lebih lanjut perempuan yang akrab di sapa kaka Nov itu mengungkapkan bahwa peringati hari kekerasan perempuan sedunia menjadi moment untuk merefleksikan. Menurutnya perempuan Papua hingga sekarang masih berada dalam jurang penindasan, baik dilakukan secara struktural maupun secara kultural. Di Papua ruang aman bagi perempuan Papua sangat sulit didapatkan oleh perempuan terutama di daerah yang konflik.

Kehidupan perempuan Papua di daerah konflik hingga saat ini sangat tidak aman. Mulai, dari tempat mereka berkebun mencari makan, maupun ruang-ruang kehidupan terus diambil dengan segala cara.

“Di camp-camp pengungsi segala aktivitas perempuan terbatas, sering mendapatkan kekerasan berlapis-lapis dirasakan perempuan yang ada di daerah konflik dari tahun 2018 hingga sekarang (2025),” ungkapnya.

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Total 527 Pasien yang Diduga Alami Keracunan MBG

dr. Beeri I.S. Wopari, M.Kes., mengatakan data tersebut mencakup warga yang mendapat pelayanan kesehatan, baik…

1 day ago

Butuh Tiga Tahun Lebih, Ribuan Artefak dan Rekaman Budaya Papua Akhirnya “Pulang”

   Ribuan objek yang berhasil dipulangkan mencakup, sekitar 1.000 unit artefak kehidupan sehari-hari dan ritual,…

2 days ago

Hentikan dulu Program MBG di Papua

Ia mengapresiasi langkah cepat Pemerintah Kabupaten Jayapura, tenaga kesehatan, TNI-Polri, serta masyarakat yang bergerak menangani…

2 days ago

Tolak Eksekusi Lahan, Warga Blokade Ruas Jalan Cenderawasih Mimika

Aksi pembakaran ban dan penutupan jalan dengan batang kayu ini dilakukan sebagai bentuk protes keras…

2 days ago

Bukan Berasal dari Menu Makanan, Melainkan Air yang Terkontaminasi Bakteri E. coli

Rama mengatakan BGN akan melakukan evaluasi total terhadap pelaksanaan MBG menyusul dua kejadian dugaan keracunan…

2 days ago

Pemprov Papua Selatan dan Kementrans Bahas Penyelesaian Masalah Tanah

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Transmigrasi Kementerian Transmigrasi (Kementrans) bersama Pemerintah Provinsi Papua Selatan…

2 days ago