Categories: FEATURES

Tugas di Kota yang Penuh Dinamika Sosial, Perlu Kepekaan dan Kesigapan

“Saat jadi Kasat Reskrim, kita langsung bersentuhan dengan masyarakat. Di situlah tantangannya bukan hanya soal hukum, tapi bagaimana masyarakat memandang kinerja Polri,” ungkapnya.

Tahun 2020 menjadi titik balik penting dalam hidupnya. Kompol Numbery dipanggil pulang oleh Polda Papua untuk bergabung dalam Satgas Nemangkawi, satuan gabungan yang menangani konflik keamanan di wilayah rawan Papua. Ia bertugas di sejumlah titik panas, seperti Intan Jaya dan Ilaga di Kabupaten Puncak, Papua Tengah.

“Di sana saya lihat langsung bagaimana masyarakat di pedalaman berjuang hidup tanpa infrastruktur yang memadai. Sementara di luar Papua, semua merasa pembangunan sudah sampai ke sana. Padahal kenyataannya sangat berbeda,” ujarnya.

Pengalamannya menyaksikan ketimpangan sosial membuatnya memahami mengapa sebagian warga terjerumus dalam paham separatisme. “Bukan semata-mata ideologi. Kadang itu lahir dari perasaan diabaikan, dari kemiskinan dan keterbatasan yang tak kunjung diatasi,” katanya.

Desember 2024, Kompol Numbery akhirnya resmi kembali ke Polda Papua setelah lebih dari satu dekade bertugas di luar. Ia menyadari banyak hal yang harus dikejar. “Papua tertinggal jauh, jujur saja. Tapi itu bukan alasan untuk menyerah. Justru harus jadi semangat agar kita membangun dari apa yang kita punya,” ujarnya.

Penugasan sebagai Kabag Ops Polresta Jayapura Kota menjadi tantangan baru. Meski tak sekompleks pekerjaan sebelumnya di satuan reserse, baginya, tugas di kota yang penuh dinamika sosial ini juga membutuhkan kesigapan dan kepekaan tinggi.

“Jayapura ini, miniaturnya indonesia. Berbagai suku, agama, ras semua ada. Dinamika sosialnya tinggi. Tapi saya optimis bisa menyesuaikan dan menjalankan tugas dengan baik,” katanya percaya diri.

Bagi Kompol Numbery, tugas aparat tidak hanya menegakkan hukum, tetapi juga menjaga kepercayaan publik. Ia menilai peran media sangat penting dalam hal ini. “Polisi tidak bisa alergi dengan media. Mereka itu pilar demokrasi, sekaligus partner dalam menyampaikan kebenaran kepada masyarakat,” tegasnya.

Dalam era digital yang serba cepat, misinformasi bisa menyebar sebelum klarifikasi resmi muncul. Oleh karena itu, komunikasi antara kepolisian dan media harus erat, agar masyarakat tidak terjebak dalam narasi menyesatkan.

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Hampir Sepekan Akhirnya Palang Kampus Uncen Dibuka

​Kordinator Lapangan Aksi sekaligus Menteri Hukum dan HAM BEM Uncen, Darki Uropmabin, memberikan klarifikasi bahwa…

6 hours ago

Keluarga Pelaku dan Korban Sepakat Serahkan ke Polisi

Kapolres mengatakan, aktivitas masyarakat di Kota Agats telah kembali berjalan normal. Kegiatan perekonomian, pelayanan publik,…

7 hours ago

Wali Kota: Sikapi Keluhan Warga, Tak Boleh Ada Ancaman!

  Dalam sidak tersebut, Wali Kota menerima laporan dari warga yang mengaku mendapat ancaman dari…

8 hours ago

​Drainase Tersumbat, Banjir Meluap di Pasar Youtefa

  Kawasan Pasar Induk Youtefa yang berada di Distrik Abepura menjadi salah satu titik terdampak…

9 hours ago

Tiga Kabupaten Terkendala Penilaian Ketahanan Bencana

  Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Papua, Robert L.N. Awi mengatakan, dari sembilan kabupaten/kota…

10 hours ago

Pengendara Motor Tewas, Diduga Korban Tabrak Lari

Penyidik Satuan Lalu Lintas Polresta Jayapura Kota bersama Polsek Muara Tami masih menyelidiki kasus kecelakaan…

11 hours ago