

Prof. Dr. Wigati Yektiningtias, M.Hum, (foto:Karel/Cepos)
Mencermati Kekayaan Budaya Papua yang Mulai Tergerus Budaya Modern
Di sela Wisuda Institut Seni dan Budaya (ISBI) Papua pekan kemarin, ada hal yang menarik, yakni orasi ilmiah yang dipaparkan Guru Besar Pendidikan Bahasa Inggris Uncen, Prof. Dr. Wigati Yektiningtyas-Modouw tentang pentinya merawat pusaka budaya di Papua. Dimana kekayaan seni dan budaya asli Papua, yang kini mulai banyak yang hilang dan tidak lagi dikenali.
Laporan: Karolus Daot-Jayapura
Guru Besar Pendidikan bahasa Inggris Uncen, Prof. Dr. Wigati Yektiningtyas-Modouw menyebut bahwa Tanah Papua selain dengan kekayaan alamnya yang sangat indah, juga ribuan folklor yang lahir dari ratusan suku dengan ratusan bahasa daerah di Tanah Papua.
Folklor ini adalah adat istiadat tradisional dan cerita rakyat yang diwariskan secara turun temurun, tetapi tidak dibukukan. Folklor meliputi legenda atau cerita rakyat, musik, sejarah lisan, pepatah, lelucon, takhayul, dongeng, dan kebiasaan yang menjadi tradisi dalam suatu budaya, subkultur, atau kelompok.
Dahulunya folklor dijadikan sebagai pedoman dalam mengelola alam dan menjalin kehidupan sosial. Termasuk di sejumlah suku yang tersebar di Pantai Utara, Pantai Selatan, dalam tujuh wilayah yaitu Tabi, Saireri, Domberai, Bomberai, Ha-Anim, La-Pago, dan Me-Pago.
Berbagai folklor seperti cerita rakyat baik berupa mite, legenda, sage, fabel, dan dongeng, maupun lantunan lisan, folksong, ungkapan tradisional, olahraga dan permainan, arsitektur, lukisan, serta ukiran ini marak diperaktikan dalam kehidupan masyarakat Papua.
Akan tetapi, kini kekayaan folklor ini sudah tidak dikenali lagi oleh sebagian masyarakat Papua, terutama para generasi muda. Hal itu terjadi karena pola kehidupan masyarakat sekarang ini tergerus oleh perkembangan zaman, sehingga kadang kala pola kehidupan, baik didalam keluarga maupun pada lingkungan masyarakat. Kebiasaan kebiasaan lama orang Papua uang dahulunya cukup kental dengan budaya, justru kini terpolarisasi dengan pengaruh budaya luar.
Misalnya di dalam rumah orang tua, jarang menggunakan bahasa daerah, ataupun kegiatan lain seperti yang kental dengan budaya Papua, tapi karena perkembangan zaman sekarang ini maka pola kehiduoan masyarakat mulai tergeser, sehingga foloklor ini akhirnya lupa atau tidak lagi dikenali,” ujar Guru Besar Pendidikan Bahasa Inggris Uncen, Prof. Dr. Wigati Yektiningtyas-Modouw saat orasi Ilmiah pada Acara Wisuda ISBI tanah Papua, Selasa (29/10).
Dikatakan kehilangan folklor ini seperti sebuah legasi, bagaikan sebuah perpustakaan yang terbakar. Bukan hanya gedung dan koleksi buku saja yang hilang, tetapi seluruh kekayaan ilmu pengetahuan, bahasa lokal, sejarah, filosofi, dan nilai sosial-budaya yang ada di dalamnya.
Aktivitas kantor di Sekretariat DPR Papua, Jumat (25/9) mendadak tegang. Ini lantaran sejumlah penyidik kejaksaan…
Kedatangan para tokoh adat dipimpin Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Waropen di Tanah Tabi, Karlos…
Alih-alih masuk ke blok hunian utama, tim Ombudsman justru menemukan deretan bangunan yang menarik perhatian.…
Presiden Prabowo Subianto memutuskan membentuk Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) untuk memperkuat pencegahan…
Juru Bicara BGN Tysa Novenny mengatakan keterlibatan sekolah menjadi bagian penting dalam membangun sistem pengawasan…
Banyak sekali kebun yang dibuat oleh warga. Lokasi yang harusnya ditumbuhi pepohonan besar tiba-tiba berubah…