Mama Yolanda Sanyi dan keluarganya, hampir setiap malam menyaksikan tingkah laku tidak terpuji dari beberapa oknum warga kota yang selalu datang dan menjadikan tempat itu sebagai lokasi nyaman untuk bermaksiat. Dia mengisahkan, oknum-oknum ini seperti sudah putus urat malu dan hilang kesadaran, mempertontonkan perbuatan tidak terpuji. Padahal, berulang kali ditegur untuk tidak berpesta miras di lokasi itu.
“Kalau kami tegur, nanti dong (mereka) lempar rumah dari atas sana,” ujarnya sambil menunjuk ke arah atas jembatan.
Dia mengisahkan, kengerian yang terjadi di lokasi itu, kala malam hari tiba, hingga dijulukinya sebagai tempat angker. Karena saat ini dan setiap malam, kawasan di bawah Jembatan Youtefa itu, sudah menjadi langganan orang berkumpul untuk berpesta miras, bahkan dari malam hari hingga menjelang pagi hari.
Dia sangat mengharapkan kawasan itu bebas dari aktfitas seperti itu. Karena tidak saja menganggu, tapi mengancam keberadaan daerah wisata tersebut. Satu saat nanti, lokasi itu bisa saja tidak lagi diminati dan tinggal cerita.
Ancaman paling serius dan nyata misalnya banyaknya botol kaca bekas minuman yang sudah dihancurkan dan dibiarkan beserakan begitu saja. Ini jelas membuat orang akan takut mengunjungi kawasan itu. Karenanya, peran aparat keamanan tentunya sangat dinantikan untuk kedepanya bisa menertibkan kawasan tersebut.
“Sudah lapor pak RT, tapi tidak ada perubahanya, kami harap polisi rutin razia kesini,” pungkasnya. (*/tri)
Page: 1 2
Anggota Komisi II DPR RI, Azis Subekti, menilai pernyataan Presiden Prabowo tersebut mencerminkan harapan rakyat…
Di sisi lain, Palestina sama sekali tidak dilibatkan dalam proses konsultasi sejak awal pembentukan Board…
Surat yang ditulis dalam bahasa Ngada itu berisi pesan agar sang ibu merelakan kepergian korban,…
“Amar putusan, mengadili, menyatakan permohonan tidak dapat diterima,” ujar Suhartoyo saat membacakan putusan. Dalam pertimbangannya,…
Meski begitu, aktivitas judi online masih melibatkan sekitar 12,3 juta orang yang melakukan deposit melalui…
Artinya, aparatur negara mulai “menabung” untuk pensiun mereka sendiri melalui iuran yang dikelola secara berkelanjutan.…