Categories: FEATURES

Koridor Sempit dan Titik Gelap Ciptakan “ruang peluang” Kejahatan

Kemudian dengan dashboard data terbuka, target kinerja yang jelas, dan anggaran partisipatif untuk penerangan dan CCTV komunitas jika ini dilakukan maka Jayapura bisa mematahkan siklus begal tanpa mengorbankan hak-hak warga. “Keamanan yang manusiawi, inklusif, berbasis bukti, dan peka konteks Papua adalah fondasi kota yang kembali hidup setelah senja,” papar Melyana.

Ia melihat dinamika curas di Jayapura juga dipengaruhi ekologi informasi yang rapuh. Ini bisa terlihat dari kabar yang tak terverifikasi baik di grup-grup WhatsApp, informasi ditingkat RT yang kebanyakan tanpa ferivikasi serta komunitas yang cepat berubah menjadi kepanikan, stigmatisasi wilayah atau kelompok, bahkan ajakan persekusi.

“Itu yang menjadi problem,” tambahnya. Lalu dijelaskan bahwa dalam kerangka keamanan manusia Buzan, arus disinformasi ini diyakini bisa merusak sektor sosial-budaya atau trust dan kohesi, politik (legitimasi aparat), dan keamanan langsung (risiko vigilantisme).

“Saat voice note atau tangkapan layar tanpa sumber menyebar, warga mengubah pola mobilitas secara ekstrem, pedagang menutup lebih awal, dan korban enggan melapor karena takut ‘diadili’ warganet. Ini akhirnya memunculkan problem lain,” katanya.

Mirisnya, informasi yang salah memperluas “zona ketakutan” melebihi risiko faktualnya serta menciptakan rasa tidak aman yang kronis. Untuk memutus siklus ini, tata kelola keamanan perlu memasangkan patroli jalan dengan patroli informasi.

Progresnya adalah kanal resmi cepat (WhatsApp Business/Telegram) yang dimotori Pemkot–Polresta–BPBD. Jika ada sebuah insiden atau kejadian maka segera diverifikasi yang mempublikasikan klarifikasi dalam format singkat baik pada teks, infografik, peta hotspot dan cap waktu yang jelas.

Perlu menerapkan mekanisme “rumor control center” berbasis dashboard data kejadian, bukan kabar berantai yang kemudian menjadi rujukan tunggal media lokal. Model prebunking mengedukasi pola hoaks yang berulang sebelum muncul dan micro-training literasi digital di kelurahan, kampus, serta komunitas ojek online diyakini akan menaikkan ambang kritis warga terhadap pesan berantai apalagi yang belum terverifikasi kebenarannya.

“Saya pikit ketika kanal resmi yang dibuat tiga komponen di atas ditindaklanjuti dengan responsif,konsisten dan insentif maka penyebarakn ‘broadcast panik’ bisa berkurang drastis,” sambung Melyana Pugu. Kemudian ini dibarengi dengan di hilir dilakukan pemulihan rasa aman pascakejadian.

“Tapi ingat harus memasukkan protokol komunikasi krisis yang melindungi martabat korban atau anti doxxing maka dengan sendirinya bisa menutup celah ekonomi bayangan dan memfasilitasi laporan terintegrasi semisal Hotline 110, aplikasi SP4N-LAPOR, dan posko kelurahan,” ujr Melyana merincikan.

Page: 1 2 3 4 5

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Polisi Kembali Bongkar Sindikat Narkotika Golongan I

Satuan Reserse Narkoba (Sat Resnarkoba) Polres Mimika melakukan tindakan tegas dalam upaya pemberantasan peredaran gelap…

2 days ago

Tiga Warga Australia Segera Jalani Siidang di PN Merauke

Ketua Pengadilan Negeri Merauke, lanjut Yuri Ardiansyah, telah menunjuk 3 hakim untuk menangani 2 perkara…

2 days ago

Bupati Merauke Ingatkan Kepala Distrik Bekerja Lebih Optimal dan Efektif

Bupati Merauke, Yoseph Bladib Gebze mengingatkan para kepala distrik untuk melaksanakan tugas dengan optimal serta…

2 days ago

Pria 40 Tahun di Boven Digoel Ditemukan Tewas di Kos-kosan

Kapolres Boven Digoel melalui Kasat Reskrim AKP Ishak O. Runtulalo menyampaikan, laporan awal diterima pihaknya…

2 days ago

Korban Curas di Libarek Berhasil Selamat

Polsek Wamena Kota memastikan dua korban pencurian dan kekerasan (curas) terhadap dua saudara DW dan…

2 days ago

Konflik Hanya Timbulkan Kerugian Besar

Pemkab Jayawijaya meminta konflik yang melibatkan dua kelompok masyarakat harus dihentikan.  Wakil Bupati Jayawijaya Ronny…

2 days ago