Categories: FEATURES

Ikuti Volume dan Kuantitas Latihan Akademi Sepak Bola di Eropa

Papua Football Academy dan Masa Depan Sepak Bola Indonesia

Sejak diresmikan Presiden Jokowi, 31 Agustus 2022, 30 orang talenta Papua terus diasah bakatnya di Papua Football Academy (PFA) Bagaimana para talenta Papua ini menjalani rutinitasnya?

Laporan: Selvi/Timika

DI bawah komando Wolfgang Pikal sebagai direktur, 30 pemain PFA didapatkan dari hasil pencarian bakat di tiga kota di Papua yaitu Timika, Merauke dan Jayapura, terus didik dan diasah kemampuannya bermain sepak bola.

Secara perlahan, PFA mengikuti volume dan kuantitas latihan akademi sepak bola di Eropa. Ini diklaim pertama di Indonesia. Sekarang ini seminggu dijadwalkan 12 jam latihan. Rencananya akan ditambah lagi jadi 16 jam per minggu mulai Juli 2023. Ditarget pada September 2023 ditambah lagi jadi 20 jam per minggu. Penyesuaian dilakukan perlahan untuk menghindari cedera pada anak karena beban latihan yang tidak biasa.

Latihan dilakukan setiap hari Senin-Sabtu. Mulai jam 08.00-10.00 WIT. Siang, istrahat makan siang. Sore pukul 15.00 WIT lanjut sekolah akademik. Malam hari diisi dengan teori analisis dan evaluasi perkembangan individu pemain. Ini sesuai pembinaan sepak bola usia dini yang melihat teknik, taktik dan mental individu. Karena sebuah tim akan lebih baik jika sukses secara individu.

Disibukkan dengan jadwal latihan padat, tak membuat para pemain ketinggalan secara akademik. PFA bekerja sama dengan Sentra Pendidikan untuk menjalani sekolah formal. Ditambahkan kursus keterampilan untuk meningkatkan kemampuan literasi, keahlian komputer, dan pemahaman budaya Indonesia.

Akademi yang dibiayai sepenuhnya oleh Freeport ini juga memberikan pendidikan karakter untuk merubah mindset anak-anak Papua yang selalu dipandang kasar, tidak disiplin, respek dan attitude. Ini diyakini menjadi kunci utama pemain Papua bisa menembus liga Indonesia bahkan luar negeri.

Wolfgang Pikal yang pernah berdiskusi dengan Direktur Bayern Munchen Academy menyebut lifestyle atau gaya hidup sama penting dengan bakat. Bakat di Papua sangat bagus tapi gaya hidup sangat kurang dan menjadi penghambat karir.

Maka selama di akademi, anak dididik untuk berlaku sopan, ketika berbicara harus menatap mata lawan bicara. Menjaga kebersihan lingkungan dan utamanya kebersihan badan agar tidak bau ketek. Bahkan sikat gigi dan potong kuku menjadi bagian dari pembinaan.

Dalam mendidikan dan melatih pemain, PFA menerapkan FIFA  Safeguarding Child, perlindungan terhadap anak dan itu sesuai regulasi FIFA. Jajaran pelatih membina tidak menggunakan kekerasan tapi memanggil dan bicara dari hati ke hati. Tidak ditegur di depan orang banyak yang bisa membuat anak down.

Akademi juga memberlakukan beberapa aturan salah satunya pemakaian telepon genggam yang hanya bisa dilakukan pada akhir pekan. Ini dilakukan karena pemakaian HP sangat mempengaruhi memori anak.

Pola pendidikan ini tidak sebatas hanya untuk melahirkan pemain sepak bola profesional tapi PFA juga berupaya melahirkan generasi Papua menjadi manusia sukses dalam komunitasnya dengan berbagai disiplin ilmu.

Masa pendidikan dan pelatihan di PFA dilakukan selama dua tahun. Selanjutnya pemain diarahkan memasuki kompetisi elite academy. Beberapa elit pro academy di Indonesia bahkan sudah tertarik dengan pemain PFA.

Tapi Wolfgang Pikal nampaknya akan selektif mengingat ada elite pri di Liga 1 tidak semuanya serius. Ada yang hanya sewa satu SSB tapi setelah kompetisi dikembalikan. Namun ada juga yang serius menjalankan program.

Sukses tidaknya PFA belum bisa dilihat sekarang. Waktu dua tahun untuk menilai perkembangan anak usia dini sangatlah sedikit. Nothing kata Wolfgang. Butuh waktu 8-10 tahun. Pemain muda Eropa bahkan juga membutuhkan waktu selama itu untuk bisa mencapai level top. Tapi, ketika ada beberapa yang langsung bergabung dengan elite pro academy merupakan pencapaian yang luar biasa dari akademi sepak bola anak usia dini.

PFA kembali melakukan pencarian bakat untuk tahap kedua. Diharapkan lebih banyak peminat. Tidak seperti pada tahap pertama yang ikut serta sangat sedikit. Bahkan yang memenuhi kriteria kelompok umur hanya 25 persen. Pada tahap kedua ini syaratnya adalah untuk kelahiran Tahun 2010.(*)

newsportal

Share
Published by
newsportal
Tags: SEPAKBOLA

Recent Posts

Temuan Pemborosan Anggaran Jadi Perhatian DPRP di APBD Perubahan

   Ketua DPR Papua, Denny Henrry Bonai, mengatakan pembahasan tindak lanjut akan dilakukan oleh masing-masing…

9 hours ago

DPR Kota Jayapura Tetapkan 12 Raperda Dibahas Tahun Ini

  Regulasi ini mencakup empat (4) Raperda kategori APBD dan Delapan (8) Raperda Non-APBD guna…

10 hours ago

Mantan Bendahara Bunda PAUD Papsel Divonis 4 Tahun Penjara

Putusan Majelis Hakim Tipikor Jayapura tersebut  lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum sebelumnya yang…

11 hours ago

Pergaulan Bebas dan Faktor Ekonomi Jadi Penyebab 1000 Lebih Anak Berhenti Sekolah

  Sejumlah mama Papua datang dari berbagai Distrik di Kota Jayapura mengenakan sandal jepit, menggandeng…

12 hours ago

Stok Obat Menipis, Pelayanan Puskesmas Mopah Baru Terancam Terganggu

Kepala Puskesmas (Kapus) Mopah Baru Severina SH. Wiratwanti menyampaikan, stok obat, terutama jenis obat yang…

13 hours ago

Kemarau Panjang di Papua Pegunungan, Sejumlah Sumur Bor Milik Warga Mulai Mengering

Forecaster BMKG Wamena Ahmad Armanda menyatakan musim kemarau di wilayah Papua Pegunungan ini dimulai dari…

14 hours ago