Categories: EKONOMI BISNIS

Ungkea Jungle Resto Tawarkan Menu Tak Biasa

JAYAPURA – Sebuah cafe bernuansa alam hadir di Kabupaten Jayapura.  Selain lokasinya  yang tak biasa, menu yang  ditawarkan juga tak biasa. Jika pada cafe umumnya konsumen bisa menikmati kentang rebus, roti bakar, sosis dan menu-menu fast food lainnya, lain halnya dengan Cafe Ungkea Jungle Resto. Cafe yang digagas oleh Ketua Papua Jungle Chef, Charles Toto ini justru menawarkan menu yang dipastikan sangat jarang ditemui.

Charles Toto (tengah) menjelaskan kepada pengunjung saat makan besar dalam peresmian Cafe Ungkea Jungle Resto di Kwadeware, Distrik Waibu, Sentani, Kamis (29/10). (FOTO: Gamel Cepos)

Bahkan bisa dibilang menu yang disiapkan Chales Toto dan kawan – kawan ini hanya bisa diperoleh dalam acara – acara resmi seperti festival. Lokasinya juga di tengah hutan sagu sehingga suasana alamnya sangat kental.

“Dalam soft opening ini menu yang kami tawarkan adalah ouw, kha ebehele, swamening, sayur paku panggang, jamur dan pisang bakar. Semua adalah makanan lokal yang bahan – bahannya juga diperoleh dari hutan sekitar,” kata Charles Toto saat soft opening Ungkea Jungle Resto, Kamis (29/10).

Untuk lokasinya memang tidak segampang cafe – cafe di tengah kota.  Chato dan kawan-kawan justru mengambil lokasi di tengah hutan sagu di Kampung Kwadeware Distrik Waibu, Sentani yang untuk ke lokasi ini cukup berpatokan pada bukit Teletubies. “Lokasinya di sebelah kiri di bawah bukit Teletubies,”ujarnya.

  Selain menu dan lokasi yang tak biasa, cafe ini juga menawarkan edukasi yang berkearifan lokal. Chato tak pelit ilmu dan mau menjelaskan tentang proses memasak, termasuk nama lokal dan  cerita tentang menu yang disajikan.

“Kalau selama ini orang hanya tahu, spagethi, cap cay, samyang atau menu modern,  maka saya menawarkan menu tradisional. Menu yang justru biasa dimakan oleh masyarakat lokal plus cara memasak,” imbuhnya.

Di lokasi cafe ini juga disiapkan air minum gratis dengan catatan pengunjung menyiapkan tumbler. Piring dan sendok, gelas  serta garpu juga dipastikan terbuat dari bahan lokal semisal daun,   bambu maupun tempurung kelapa.

“Ada pondok yang kami siapkan termasuk menu ulat sagu dan sagu bakar tapi sekali lagi semua proses kembali ke alam, kami tidak gunakan bahan – bahan yang terlalu modern tapi menggali kembali kuliner daerah yang mulai dilupakan,” pungkasnya. (ade/ary)

newsportal

Recent Posts

Ribuan Warga Binaan Dapat Remisi, 36 Orang Langsung Bebas

   Dari total penerima tersebut, sebanyak 1.970 orang memperoleh Remisi Umum I (pengurangan masa pidana…

9 minutes ago

Kemerdekaan Harus Dirasakan Rakyat Papua

   Ketua DPD PDI Perjuangan Papua, Benhur Tomi Mano (BTM), mengatakan kemerdekaan Indonesia tidak boleh…

1 hour ago

Beda Versi Polisi dan Mahasiswa

   Di satu sisi, Kapolresta Jayapura Kota Kombes Pol Fredrickus W.A. Maclarimboen secara tegas membantah…

2 hours ago

KNPI Harus Bangkit dengan Semangat Kemerdekaan

  Menurutnya, setelah tiga tahun mengalami kevakuman, KNPI Kota Jayapura dengan kepengurusan baru tidak boleh…

3 hours ago

Tugu Pendidikan Abepura Dipercantik

   Tugu yang menjadi salah satu penanda kawasan Abepura tersebut secara resmi diresmikan pada Selasa…

4 hours ago

Prihatin Gempa di NTT, Wali Kota Ajak Warga Beri Dukungan Doa

   Di hadapan para peserta dan tamu undangan, Abisai mengajak seluruh hadirin sejenak menghentikan aktivitas…

5 hours ago