Categories: BERITA UTAMA

IAGI Papua Sebut Semburan Gas Tidak Berbahaya

JAYAPURA – Fenomena semburan gas yang mengeluarkan api di Kampung Bugis, Holtekamp, Distrik Muara Tami mengundang perhatian berbagai pihak tak terkecuali para ahli. Setelah informasinya menyebar 4 hari lalu, pada Jumat (27/10) sejumlah ahli geologi dari Uncen maupun Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Provinsi Papua mendatangi lokasi ini.

Para ahli ini ikut mengecek penyebab semburan gas dengan mengecek lapisan tanah permukaan menggunakan alat Georadar. Hanya untuk  kepastian penyebab dan apakah kondisi  semburan akan terus berlanjut masih harus dilakukan penelitian lebih dulu.

Para ahli menyatakan akan segera mengumumkan ini. “Dalam waktu sesingkat – singkatnya kalau sudah selesai akan langsung kami sampaikan ke public,” kata Dr Enos Karapa, Ketua Program Studi Teknik Pertambangan Uncen saat ditemui di lokasi semburan.

Enos datang bersama beberapa pengurus IAGI lainnya yakni Marcelino Yonas dan Indra.  Enos menjelaskan bahwa dengan alat georadar ini pihaknya ingin mengamati kondisi bawah permukaan disekitar titik api. Harapannya bisa mendapat lapisan void atau kondisi ruang kosong di dalam tanah sebab gas selalu berhubungan dengan lapisan ini.

“Semoga kami bisa mendapatkan gambaran penampang kondisi daerah seperti apa lalu kita akan analisa apakah factor Biogenic atau Hydrothermal. Segera kami disimpulkan,” jelas Enos.

Dikatakan, pihaknya tidak bisa menyimpulkan hanya dengan melihat secara fisik dari semburan api melainkan harus diteliti dan dikaji.

Ia menjelaskan factor Biogenik terjadi karena ada organisme yang terperangkap dalam lapisan tanah dan tertutupi dengan lapisan lain kemudian menghasilkan gas karena terperangkap tadi.  Lalu selama sekian lama di lapisan bawah tiba – tiba ada aktifitas pengeboran akhirnya gas tersebut keluar lewat titik pengeboran tadi.

“Batu bara juga sama prosesnya seperti itu. Umum biasa digunakan dengan istilah gas rawa atau gas sawah. Di Jawa ada beberapa lokasi yang dimanfaatkan,” imbuhnya. Nah georadar ini nantinya akan membaca seperti rekaman jantung dan ada grafik.

Dari grafik itu  barulah akan diinterpretasi  lapisannya seperti apa. Misal ada void di bawah nanti tergambar dari grafik tersebut namun ada standart untuk menghitung semuanya. Lanjut Enos, prinsip  adalah selalu mencari  celah untuk keluar dan aktifitas manusia satu hal yang bisa memicu.

Faktor lainnya adalah patahan.  “Gas selalu berusaha mencari jalan  keluar dan kebetulan kemarin ada pengeboran makanya dia keluar lewat situ,” tambahnya.  Disinggung soal gas tersebut apakah bisa dikelola dalam konsep ekonomi menurut Enos jika gas ini jika memiliki cadangan dan nilai ekonomis maka sebaiknya dimanfaatkan namun bila tidak sarannya sebaiknya ditutup.

Page: 1 2

Juna Cepos

Recent Posts

Kapolres Merauke: Jangan Sampai Kejadian di Puncak Terjadi di Merauke

Leonardo mengatakan, kejadian tersebut menjadi perhatian bersama karena menimbulkan kerugian. Karena itu, berbagai potensi persoalan…

14 minutes ago

Ini Alasan Fatal Mengapa Bendera Merah Putih Haram Menyentuh Tanah!

Pengibaran Bendera Merah Putih menjadi salah satu bagian paling dinantikan dalam upacara peringatan Hari Kemerdekaan.…

44 minutes ago

Potensi Besar di Sektor Retribusi, Tapi Terbentur Kepentingan Masyarakat Adat

   Car Free Day (CFD) yang digelar setiap Sabtu tersebut kini menjadi salah satu ruang…

1 hour ago

Meriahkan HUT RI, Joged Veronika dan Yospan Asaibori di Mandala

  Salah satu atraksi yang akan menjadi perhatian dalam peringatan HUT ke-81 RI tahun ini…

2 hours ago

Gebyar Pajak 2026, Cara Pemprov Papua Dorong Warga Taat Bayar Pajak

  Gebyar Pajak 2026 yang digelar di halaman Kantor Bapenda Papua, Kamis, 13 Agustus 2026,…

2 hours ago

Pimpinan OPD Wajib  Kawal Kehadiran ASN di Upacara HUT RI

  Menindaklanjuti arahan Wali Kota Jayapura, Dr. Abisai Rollo, Pelaksana Tugas (Plt.) Sekretaris Daerah (Sekda)…

3 hours ago