Categories: BERITA UTAMA

Istri Mengungsi Dihadang Massa, Suami Sembunyi di Plafon Rumah

GENDONG ISTRI: Darno saat menggendong istrinya Sri Lestari saat turun dari pesawat CN-235 di Base Ops Lanud Silas Papare, Sentani, Kabupaten Jayapura. (FOTO : Yewen/Cepos)

Kisah Pasutri Pedagang Pakaian Keliling yang Selamat dari Kerusuhan di Wamena 

Sri Lestari dan Darno pasangan suami istri (Pasutri) yang selamat dari kerusuhan di Wamena, Senin (23/9). Bagaimana Pasutri ini bisa selamat ? 

Laporan: Roberth Yewen, Sentani

Dengan menumpang Pesawat CN-235 milik TNI AU, empat orang korban kerusuhan di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, tiba di Base OPS Lanud Silas Papare Jayapura, Rabu (25/9) sekira pukul 12.00 WIT. Dari kempat korban ini, terdapat Pasutri Darno dan Sri Lestari. 

Saat turun dari pesawat, Darno bersama istrinya memilih tidak naik ke mobil ambulance yang disiapkan. Darno bersama istrinya yang langsung melanjutkan penerbangan ke kampung halamannya di Jawa Timur, akhirnya memilih menggendong istrinya yang menjadi salah satu korban dalam kerusuhan di Wamena.

Menggunakan jaket dan topi berwarna biru, Darno langsung menggendong istrinya yang terlihat dibalut perban di bagian kening mata, dagu, dada dan di punggung bagian belakang.

Sang istri tidak bisa berjalan, sehingga Darno memilih menggendong istri tercintanya dari pesawat yang membawa mereka dari Wamena ke ruang tunggu Base Ops Lanud Silas Papare. Sri Lestari dan Darno merupakan warga yang selamat dari aksi demo yang berujung anarkis di Wamena, Senin (23/9) lalu.

Pasutri Darno dan Sri Lestari bukan orang baru di Wamena. Keduanya sudah tinggal di Wamena sejak tahun 2001.

Selama kurang lebih 18 tahun di ibukota Kabupaten Jayawijaya, Darno dan istrinya menjadi pedagang pakaian keliling. Di Lembah Baliem, mereka mengontrak rumah di daerah perkotaan. 

Kepada Cenderawasih Pos, Sri bercerita tentang kejadian yang menimpa dirinya bersama sang suami. Saat kerusuhan pecah, mereka semua masih berada di rumah. Kemudian ia bersama enam orang kerabatnya dan empat anak-anak hendak menyelamatkan diri ke Mapolres Jayawijaya. Namun dalam perjalanan,  mereka dihadang dan dianiaya massa.

“Saya diminta sama suami untuk menyelamatkan diri bersama kerabat ke Mapolres Jayawijaya dengan mobil. Namun dalam perjalanan, kami dihadang massa dan disuruh keluar dari mobil, lalu mobil dibakar,” ujarnya sambil menangis di Base Ops Lanud Silas Papare Jayapura, Rabu (25/9) siang.

Selain membakar mobil, massa kemudian menganiaya semua penumpang termasuk sang sopir menggunakan alat tajam dan benda tumpul. Bahkan sang sopir menurut Sri saat itu dianiaya hingga tewas di lokasi kejadian. 

Sri sendiri terkena panah di bagian punggung belakang dan mengalami penganiayaan menggunakan pisau di bagian pelipis mata, dagu dan bagian dada.

Tidak hanya itu, barang-barang berharga milik Sri bersama kerabatnya. Seperti perhiasan, uang, dan barang-barang berharga lainnya dibawa kabur oleh massa yang melakukan penganiayaan.

“Sopir dipukul hingga meninggal. Sementara saya dipanah di pinggang kemudian ditusuk di dada dan dagu dekat bibir.  Selain itu, kerabat saya ditusuk pada mata. Bahkan satu anak yang bersama kami dipukul oleh massa. Barang yang kami bawa diambil kabur oleh massa dan tidak ada yang tersisa,” ucapnya sambil mengenang peristiwa tersebut .

Beruntung, sejumlah anggota Brimob tiba dengan cepat di lokasi kejadian dan melepas tembakan ke atas untuk membubarkan massa, sehingga Sri bersama kerabatnya yang lain bisa diselamatkan.

Sri kemudian bersama kerabatnya langsung dibawa oleh anggota polisi ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan dari tim medis. Luka panah dan luka terkena pisau dari massa membuat Sri langsung dioperasi untuk mengeluarkan panah yang masih menancap di pinggangnya. Selain itu, luka yang cukup serius membuat ia harus dijahit dan diperban.

” Kita ditolong oleh anggota polisi yang datang. Mereka membubarkan massa dan membawa kami ke rumah sakit.  Saya langsung dioperasi untuk mengeluarkan panah dari pinggang saya,”jelasnya sambil dipeluk salah seorang wartawan.

Sementara saat kejadian, Darno sang suami memilih bertahan di rumah dan menyelamatkan diri dengan cara bersembunyi di atas plafon rumah. Hal ini erpaksa ia lakukan lantara massa datang dan masuk ke dalam rumah lalu mencari orang-orang di dalam rumah. Untungnya tidak lama kemudian aparat kepolisian datang dan menyelamatkan dirinya di atas plafon.

Darno mengakui bahwa massa yang melakukan penyerangan tidak hanya siswa yang menggunakan seragam, tetapi bercampur dengan warga lainnya. Massa yang bercampur ini kemudian melakukan penganiayaan terhadap warga. Massa juga mengambil barng-barang miliknya di dalam rumah maupun rumah warga yang lainnya.*** 

newsportal

Recent Posts

Gubernur Papua Tiadakan Penerimaan CPNS

Gubernur menegaskan, keputusan tersebut merupakan kebijakan yang tidak populer, namun harus diambil demi menjaga stabilitas…

16 hours ago

3 Hari Berturut-turut Masyarakat Sipil Diserang

Insiden pertama terjadi pada Senin (27/4), disusul kejadian serupa pada Selasa (28/4) sekitar pukul 11.22…

17 hours ago

Pola Pengamanan di Papua Bakal Dievaluasi

Ia menegaskan, tujuan utama negara adalah melindungi seluruh rakyat Indonesia. Karena itu, pendekatan keamanan tidak…

18 hours ago

Bupati Silih Berganti Kondisi Jalan dan Selokan Tak Pernah Berubah

Hingga hari ini, meski zaman berubah, Pasar Lama Sentani tidak pernah benar-benar sepi. Di setiap…

19 hours ago

Serap Keluhan dan Aspirasi Hakim, Mulai Masalah Pengawasan hingga Kesejahteraan

Pertemuan tersebut dihadiri Ketua Bidang Pengawasan Hakim dan Investigasi KY, Abhan, yang memaparkan materi sekaligus…

19 hours ago

Sanksi Menanti yang Live Saat Jam Kerja

​Langkah ini diambil guna memastikan integritas pelayanan publik tidak terganggu oleh aktivitas pribadi di platform…

20 hours ago