“Misalnya umbi-umbian atau ikan kuah, itu harus dimasukkan karena di Kota Jayapura makanan lokal seperti ini sudah melekat pada lidah anak-anak. Mereka tumbuh dengan makanan itu,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa kehadiran program MBG idealnya tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi, tetapi juga memiliki dampak sosial-budaya. Melalui penyajian menu berbasis pangan lokal, anak-anak dapat belajar mencintai dan melestarikan makanan khas dari daerahnya masing-masing. “Ini penting agar di tengah gempuran perkembangan zaman, adat dan budaya tidak dilupakan oleh anak-anak muda Papua,” tegasnya.
Christian juga mengingatkan agar bahan pangan yang dipakai dalam MBG sebaiknya dibeli dari para petani dan nelayan lokal, bukan dari pasar modern. Langkah ini, menurutnya, mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat dan membuka peluang pemberdayaan.
Lebih jauh, ia menyarankan agar BGN juga memberikan kesempatan kepada masyarakat Papua, terutama pelaku usaha lokal, untuk ikut terlibat dalam pengelolaan dapur Sentra Produksi Pangan Gizi (SPPG). Menurutnya, pelibatan masyarakat lokal akan memberikan dampak ekonomi langsung dan memperkuat keberlanjutan program.
“Banyak pengusaha lokal di Kota Jayapura. Kasih ruang kepada mereka untuk mengelola dapur SPPG. Ini penting bukan hanya soal gizi anak, tapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal,” ujarnya.
antor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan Papua mencatat per Januari 2026 nilai…
Kegiatan yang berlangsung di main hall Kantor Wali Kota Jayapura tersebut dihadiri langsung oleh Abisai…
Menurut Fakhiri, dengan membangun kerja sama tersebut maka Pemprov Papua bisa hemat dalam dana belanja…
Kepala Dinas Sosial Kota Jayapura, Matius Pawara, menjelaskan bahwa proses pengaktifan kembali kepesertaan bagi warga…
Penegasan tersebut disampaikan melalui Kepala Diaspora Kota Jayapura, Bobby J.E Awi, yang menilai turnamen ini…
"Secara umum, pola curah hujan di Provinsi Papua dipengaruhi oleh Angin Monsun, sehingga intensitas hujan…