“Misalnya umbi-umbian atau ikan kuah, itu harus dimasukkan karena di Kota Jayapura makanan lokal seperti ini sudah melekat pada lidah anak-anak. Mereka tumbuh dengan makanan itu,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa kehadiran program MBG idealnya tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi, tetapi juga memiliki dampak sosial-budaya. Melalui penyajian menu berbasis pangan lokal, anak-anak dapat belajar mencintai dan melestarikan makanan khas dari daerahnya masing-masing. “Ini penting agar di tengah gempuran perkembangan zaman, adat dan budaya tidak dilupakan oleh anak-anak muda Papua,” tegasnya.
Christian juga mengingatkan agar bahan pangan yang dipakai dalam MBG sebaiknya dibeli dari para petani dan nelayan lokal, bukan dari pasar modern. Langkah ini, menurutnya, mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat dan membuka peluang pemberdayaan.
Lebih jauh, ia menyarankan agar BGN juga memberikan kesempatan kepada masyarakat Papua, terutama pelaku usaha lokal, untuk ikut terlibat dalam pengelolaan dapur Sentra Produksi Pangan Gizi (SPPG). Menurutnya, pelibatan masyarakat lokal akan memberikan dampak ekonomi langsung dan memperkuat keberlanjutan program.
“Banyak pengusaha lokal di Kota Jayapura. Kasih ruang kepada mereka untuk mengelola dapur SPPG. Ini penting bukan hanya soal gizi anak, tapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal,” ujarnya.
Pihak manajemen dan tenaga kesehatan justru menjadikan kondisi ini sebagai pemantik untuk terus maju…
Kapolres Jayawijaya melalui kasat Narkoba Iptu Jan Benyamin Saragih, SH, menekankan dari hasil pemeriksaan yang…
Polres Jayapura menetapkan EW (43), seorang ibu rumah tangga sebagai tersangka dalam kasus kekerasan terhadap…
Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Grace Linda Yoku, S.Pd.,…
Pertandingan ini diprediksi berjalan ketat mengingat rivalitas kedua tim di Grup Timur. Selain itu, laga…
Ketua Panja DPRK Kota Jayapura, Ismail Bepa, meminta Wali Kota Jayapura, Dr. Abisai Rollo,…