Categories: BERITA UTAMA

DPD PDIP Papua Tegas Tolak MBG, PSN, dan Kopdes

JAYAPURA– PDI Perjuangan nampaknya masih konsisten untuk menempatkan diri sebagai pihak yang memberikan masukan dari perspektif berbeda untuk penerapan kebijakan yang diambil oleh pemerintah. PDIP menyatakan berdiri bersama rakyat dan mengoreksi apa yang dirasa kurang.

Dan kali ini bukan menjadi hal mengejutkan jika PDIP menolak program pemerintah pusat yakni Makan Bergizi Gratis (MBG) Proyek Strategis Nasional (PSN) dan juga Koperasi Desa Merah Putih. Ketua DPD PDI Perjuangan Papua, Benhur Tomi Mano (BTM), mengatakan penolakan tersebut bukan didasarkan pada posisi partainya sebagai oposisi pemerintah, melainkan karena pertimbangan terhadap dampak yang ditimbulkan dari berbagai program tersebut bagi masyarakat dan perekonomian.

Menurut BTM, program Makan Bergizi Gratis yang saat ini menjadi salah satu program unggulan pemerintah dinilai belum menjadi prioritas utama dalam menyelesaikan berbagai persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat Indonesia. “Penolakan ini bukan karena kami oposisi. Kami melihat dampaknya terhadap kondisi ekonomi masyarakat. Menurut pandangan kami, program MBG bukan menjadi prioritas dalam menyelamatkan generasi muda Indonesia saat ini,” kata BTM di Jayapura, Rabu (17/6).

Ia menilai pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program tersebut. Bahkan, menurutnya, penghentian program MBG dapat menjadi salah satu langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional ke depan. “Solusi dari PDI Perjuangan salah satunya adalah program MBG ini harus dihentikan. Begitu juga dengan Koperasi Merah Putih. Program-program ini perlu dievaluasi karena kami melihat belum memberikan solusi yang nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Selain MBG, BTM juga menyoroti Program Strategis Nasional (PSN) yang dinilai harus melibatkan masyarakat adat sebagai pemilik hak ulayat sebelum pelaksanaan pembangunan dilakukan. Menurutnya, pembangunan tidak boleh mengabaikan hak-hak masyarakat adat yang telah turun-temurun menjaga tanah dan wilayah mereka. “Kami adalah partai wong cilik. Kami berbicara tentang keadilan dan kesejahteraan masyarakat. Karena itu setiap pembangunan harus dikomunikasikan dengan masyarakat sebagai pemilik hak atas wilayah tersebut. Jangan sampai ada kesan tanah masyarakat adat diambil atas nama pembangunan tanpa komunikasi yang baik,” tegasnya.

Terkait Koperasi Merah Putih, BTM menilai program tersebut berpotensi menghabiskan anggaran tanpa memberikan dampak yang signifikan apabila pelaksanaannya tidak tepat sasaran. “Di banyak tempat, koperasi dibangun tetapi tidak sesuai kebutuhan masyarakat. Akibatnya bukan menyelesaikan masalah, justru berpotensi menambah persoalan baru,” katanya.

Page: 1 2

Juna Cepos

Recent Posts

Empat Tersangka Korupsi Beras Bulog di Wamena Ditahan

Asisten Tindak Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Papua, Adyantana Meru Herlambang, mengatakan penyidikan perkara ini telah…

2 hours ago

Diburu Sejak April, KKB DPO Tewas Ditembus Timah Panas

Terkait ini Satgas Operasi Damai Cartenz (ODC) 2026 bersama Polres Yahukimo membantah tuduhan yang sempat…

8 hours ago

Batu Bara Aman, Bahlil Pastikan Tak Akan Ada Pemadaman Listrik Lagi

Meneri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pasokan batu bara untuk…

13 hours ago

Bejat! Seorang Balita Diperkosa Ayah Kandung hingga Tewas

Aksi bejat yang tidak bisa diterima akal sehat mengguncang Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra). R…

14 hours ago

Keberadaan Jenazah Nahkoda Kapal Belum Diketahui

Keberadaan jenazah Nahkoda KMN Sardi Utama bernama Ahir yang sehari-harinya dipanggil Rizal belum jelas. Nahkoda…

1 day ago

Susah Tidur, Susah Fokus, dan Selalu Gelisah?

Pikiran melayang ke mana-mana padahal kamu sudah mencoba fokus. Menyalahkan diri sendiri malas, tidak disiplin,…

1 day ago