Categories: BERITA UTAMA

Engros “Dikepung” Sampah, Seniman Berbicara

Wanggo-wanggo Arsip Hidup yang Diwariskan dari Generasi ke Generasi.

JAYAPURA – Teluk Youtefa adalah ruang hidup yang menyatu antara manusia dan alam. Bagi masyarakat Kampung Enggros, laut, lumpur, dan mangrove bukan sekadar elemen ekologi, tapi juga penjaga tradisi, sumber pangan, dan ruang spiritual. Namun dalam bayang-bayang pembangunan kota dan ekspansi ekonomi yang tak memihak masyarakat lokal, wilayah ini terus mengalami degradasi ekologis dan kultural.

“Setelah hampir tiga minggu proses residensi terbuka di Kampung Engros, bermain lumpur, menggambar bersama, mendengar cerita dari orang tua, mengolah sampah dan menapaki hutan mangrove akhirnya kami coba presentasekan,” kata Julio, Direktur Program HabitArt Manggo-manggo di Kediaman Indonesia Art Movement, Entrop, Minggu (15/6).

Ia menyebut bahwa warga kampung yang mendiami Teluk Yotefa terancam pencemaran, reklamasi, dan pergeseran nilai hidup modern secara perlahan menjauhkan generasi muda dari relasi intim dengan ruang hidupnya sendiri. Ketika lumpur menjadi kotor, air tercemar, dan hutan mangrove terkikis, maka budaya yang bersandar pada kedekatan tubuh dan alam juga ikut terkikis, seringkali tanpa disadari.

“Kami juga mendengar keluhan banyaknya sampah disekitar kampung dan ini tidak habis-habisnya,” beber Julio. Kegiatan pameran yang ditampilkan mengambil tajuk Wanggo Wanggo atau dalam bahasa Enggrosnya memiliki arti bermain. Para seniman peserta residensi terbuka ini mencoba mendalami kebiasaan apa yang masih dipertahankan masyarakat di Kampung Enggros dan salah satunya lewat Wanggo – wanggo ini.

Melihat kebiasaan anak-anak di kampung lewat cata bermain dan merespon kondisi lingkungan sekitar. Di masa angin timur, kolong rumah yang kering membuka ruang permainan bagi anak-anak. Mereka berlari di atas lumpur, menandai waktu lewat gerak tubuh, dan menciptakan makna baru di ruang yang terancam hilang. Permainan ini bukan sekadar hiburan, tapi bentuk arsip hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi.

“Dalam permainan, tubuh belajar membaca musim, menghormati tanah, dan menjaga relasi sosial. Ia menjadi praktik pengetahuan yang lama-lama tergerus oleh sistem pendidikan formal, layar digital, dan gaya hidup konsumtif yang tak memberi ruang bagi relasi ekologis,” beber Julio.

Page: 1 2

Juna Cepos

Recent Posts

Tahun 2025, Curanmor Kasus Paling Menonjol di Mimika

Dalam pemaparannya, Kapolres menyampaikan bahwa jumlah kasus yang terjadi dan ditangani oleh Polres Mimika di…

32 minutes ago

Pemprov Papua Selatan Bahas Persiapan Pindah Kantor Baru

Pembahasan ini diikuti oleh seluruh Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan Kepala Biro di lingkup…

2 hours ago

Puncak Arus Balik, 9 Januari 3000 Orang Akan Masuk Mimika

Rachmansyah menjelaskan bahwa sebelumnya saat puncak arus mudik di pelabuhan Poumako Timika terpantau berjalan aman…

3 hours ago

Anggota MRP Diminta Berpegang pada Aturan

Gubernur Apolo menegaskan, pertama bahwa dalam melaksanakan tugas harus senantiasa meminta petunjuk dari yang Maha…

5 hours ago

Pembayaran Denda Adat Berujung Saling Serang, Satu Orang Luka -luka

Kapolres Jayawijaya AKBP Anak Agung Made Satriya Bimantara, S.I,K menyatakan membenarkan adanya aksi saling serang…

6 hours ago

Pemadaman Listrik di Mimika Karena Faktor Cuaca Ekstrem

Ia mengungkapkan, cuaca ekstrem seperti hujan lebat yang disertai angin kencang serta aktivitas petir yang…

7 hours ago