Categories: BERITA UTAMA

Papua Harus Siap Hadapi Kekeringan

JAYAPURA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi Indonesia akan memasuki musim kemarau lebih awal dan cuaca semakin kering serta panas dalam beberapa bulan ke depan.

Kepada Cenderawasih Pos, Finnyalia Napitupulu, selaku Ketua Tim Meteorologi Publik BMKG Papua, menjelaskan Indonesia secara keseluruhan akan memasuki fase El Nino.

Berdasarkan data terbaru dari BMKG dan pusat iklim di dunia, kondisi dinamika atmosfer masih diprediksi akan netral sampai pertengahan 2026 nanti. “Tapi kita harus mulai waspada di paruh kedua tahun ini, karena diprediksi akan terjadi transisi ke kondisi El Nino lemah hingga moderat, dengan peluang kejadian yang cukup tinggi, yaitu di angka 50-80 persen untuk semester 2 tahun 2026,” jelas Finnyalia, Rabu (15/4).

Selain itu, ramai juga dibahas soal El Nino ‘Godzilla’ yang digambarkan sebagai kejadian dengan intensitas yang ekstrem. Termasuk El Nino sangat kuat, seperti yang pernah kita alami di tahun 1997 dan 2015. Namun sebelumnya, Finnyalia menegaskan secara ilmiah dan formal istilah El Nino ‘Godzilla’ tidak ada dalam kategori El Nino.

Disatu sisi Ketua Tim Meteorologi Publik BMKG Papua itu menjelaskan berdasarkan prediksi iklim, kondisi beberapa bulan ke depan di Papua terdapat potensi terjadinya fenomena El Nino dengan kategori lemah hingga sedang. Kondisi ini umumnya berdampak pada penurunan curah hujan, khususnya saat memasuki puncak musim kemarau.

Dengan berkurangnya curah hujan dan meningkatnya periode kering, BMKG memprediksikan akan berpotensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan, termasuk di wilayah Kota Jayapura.

BMKG juga menyebutkan tiga karakter utama musim kemarau tahun ini, yakni curah hujan di bawah normal, puncak kemarau yang diperkirakan terjadi pada Agustus 2026, serta durasi kemarau yang berpotensi lebih panjang, yakni sekitar empat hingga lima bulan.

Namun demikian, BMKG menerangkan bahwa, kejadian kebakaran tidak hanya dipengaruhi oleh faktor iklim, tetapi juga oleh aktivitas manusia serta kondisi lokal seperti ketersediaan bahan bakar kering dan pengelolaan lahan. Sehingga diperlukan kewaspadaan dan langkah antisipasi dari pihak terkait maupun masyarakat.

Kondisi tersebut dinilai dapat memicu sejumlah dampak yang perlu diwaspadai, antara lain kekeringan meteorologis, berkurangnya ketersediaan air bersih, gangguan pada sektor pertanian, serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.

Page: 1 2

Juna Cepos

Recent Posts

Temuan Pemborosan Anggaran Jadi Perhatian DPRP di APBD Perubahan

   Ketua DPR Papua, Denny Henrry Bonai, mengatakan pembahasan tindak lanjut akan dilakukan oleh masing-masing…

5 hours ago

DPR Kota Jayapura Tetapkan 12 Raperda Dibahas Tahun Ini

  Regulasi ini mencakup empat (4) Raperda kategori APBD dan Delapan (8) Raperda Non-APBD guna…

6 hours ago

Mantan Bendahara Bunda PAUD Papsel Divonis 4 Tahun Penjara

Putusan Majelis Hakim Tipikor Jayapura tersebut  lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum sebelumnya yang…

7 hours ago

Pergaulan Bebas dan Faktor Ekonomi Jadi Penyebab 1000 Lebih Anak Berhenti Sekolah

  Sejumlah mama Papua datang dari berbagai Distrik di Kota Jayapura mengenakan sandal jepit, menggandeng…

8 hours ago

Stok Obat Menipis, Pelayanan Puskesmas Mopah Baru Terancam Terganggu

Kepala Puskesmas (Kapus) Mopah Baru Severina SH. Wiratwanti menyampaikan, stok obat, terutama jenis obat yang…

9 hours ago

Kemarau Panjang di Papua Pegunungan, Sejumlah Sumur Bor Milik Warga Mulai Mengering

Forecaster BMKG Wamena Ahmad Armanda menyatakan musim kemarau di wilayah Papua Pegunungan ini dimulai dari…

10 hours ago