Categories: BERITA UTAMA

Cerminan Demokrasi,  Sistem Noken harus Diubah Menjadi One man One Vote

JAYAPURA –  Kapolda Papua, Irjen Pol Mathius Fakhiri  mewanti proses Pemilu yang tersisa sekitar 7 bulan ke depan. Dikatakan pihak keamanan khususnya Polda Papua terus memetakan potensi persoalan yang memungkinkan terjadi saat pesta demokrasi nanti. Namun disini ia juga meminta KPU maupun Bawaslu untuk sama – sama berfikir terkait sistema pemilihan.

Menurut Kapolda ke depan sistem ikat atau sistem noken khusus untuk wilayah pegunungan sudah harus diubah menjadi pemilihan one man one vote atau satu orang satu suara. Ini juga bercermin pada penerapan demokrasi yang lebih maju sesuai dengan aturan main.

“Saya telah meminta kepada pemerintah daerah masing – masing termasuk lewat KPU dan Bawaslu untuk betul – betul mengontrol Daftar Pemilihan Tetapnya (DPT) dan sebisa mungkin bisa mengurangi sistem ikat noken sebab ini selalu menimbulkan korban dan dampak daripada pesta demokrasi,” kata Kapolda usai memimpin kegiatan di Aula Rastra Samara Polda Papua, Senin (10/7).

Pasalnya menurut Kapolda, sistema ikat ini akan mencari peluang suara untuk direbut khususnya sisa suaranya. Polda sendiri kata Fakhiri akan melakukan coffe morning keliling ke  sejumlah kabupaten  untuk menjelaskan potensi dan pemetaan kerawanan yang sudah dilakukan.

“Saya akan sampaikan ini kepada mereka agar kita pastikan Pemilu ini tetap one man one vote,” tambahnya.

“Memang pemerintah sudah mengambil langkah maju dengan mengambil perekaman mata tapi tidak bisa semua seperti yang kita mau sebab khusus daerah pegunungan ini masih sulit diterima,” tutupnya.

Sementara untuk Daerah rawan Pemilu sebagaimana yang telah dipetakan kata Kapolda jika ditarik dari tengah ada Intan Jaya, Dogiyai dan Deiyai kemudian naik ke atas ada Puncak dan turun ke selatan ada Nduga kemudian lintas batasnya yaitu Lanny Jaya dan Puncak Jaya. Lalu di daerah selatan ada Yahukimo dan seterusnya ada Pegunungan Bintang.

“Ini kami tambah Jayawijaya. Selain kabupaten di atas ada juga kabupaten dengan kejadian berulang yakni Tolikara maupun Yalimo dan ini menjadi antisipasi dari kami Polda Papua agar tidak berulang lagi dampak Pemilu itu,” paparnya.

Ditambahkan bahwa analisanya, pemicu konflik selama ini ujung – ujungnya ada di DPT dan kalau semua mau jujur kembali ke DPT maka tidak mungkin ada pergeseran massa dan pertentangan.

“Contoh misalnya di Jayapura Utara di Bhayangkara hanya 75 ribu tapi di DPT 200 ribu artinya orang pasti merebut sisa suara. Kami sering menemukan yang tidak masuk akal juga semisal 1 TPS disebutkan ada 1 juta padahal yang coblos hanya 75 orang  ya orang akan rebut sisa suaranya, membawa kabur formulir dan lainnya,” tutup Fakhiri. (ade/wen)

Daerah Berpotensi Rawan Pemilu

Papua Tengah:

Kab. Intan Jaya

Kab. Dogiyai

Kab. Deiyai

Papua Pegunungan:

Kab. Puncak

Kab. Puncak Jaya

Kab. Nduga

Kab. Lanny Jaya

Kab. Yahukimo

Kab. Pegunungan Bintang

Kab. Tolikara

Kab. Jayawijaya

 

newsportal

Recent Posts

Seorang Sopir Maxim Dibekuk Terciduk Jual Puluhan Amunisi

Pelaku yang berprofesi sebagai sopir transportasi online (Maxim) ditangkap di Jalan Manokwari, tepatnya di samping…

10 hours ago

Kasus Pembakaran Anak di Sentani Harus Tuntas

Selain penegakan hukum, pemerintah juga menekankan pentingnya penguatan perlindungan anak dan pola pengasuhan dalam keluarga…

10 hours ago

Tujuh Jadi Tersangka Pembunuhan Pilot AMA

Ketujuh tersangka masing-masing berinisial MB, AB (23), LS (26), DA, NS, KB, dan SP. Seluruhnya…

11 hours ago

Lapangan Terbang Rawan Mulai Didata

Langkah ini diambil sebagai respons cepat pasca-insiden pembakaran pesawat milik PT Associated Mission Aviation (AMA)…

11 hours ago

Masyarakat Berhak Tahu Kemana Dana Cadangan Papua Mengalir

Akademisi Program Studi Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Cenderawasih, Yakobus…

12 hours ago

Cafe dan Resto di Holtekamp Jadi Sumber Pajak Menjanjikan

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Jayapura, Rory Cony Huwae, mengatakan penyumbang terbesar penerimaan pajak…

12 hours ago