Categories: BERITA UTAMA

Di Arena FBLB, Wisatawan Keluhkan Aksi Copet

TARIAN PERANG: Sejumlah wisatawan mancanegara saat menyaksikan atraksi tarian perang pada hari kedua pelaksanaan FBLB di Distrik Welesi, Kabupaten Jayawijaya, Kamis (8/8). ( FOTO : Denny/ Cepos )

WAMENA-Kemeriahan atraksi budaya yang ditampilkan pada Festival Budaya Lembah Baliem ke-30 yang memasuki hari kedua, Kamis (8/8) tercoreng ulah segelintir orang yang melakukan aksi copet. 

Tidak sedikit wisatawan dari manca negara yang datang menyaksikan atraksi budaya di arena FBLB di Distrik Walesi, Kabupaten Jayawijaya mengaku menjadi korban copet. Ada yang mengaku kehilangan dompet, handphone dan kamera. 

Kapolres Jayawijaya AKBP. Tonny Ananda Swadaya  melalui Kasat Lantas Polres Jayawijaya, AKP. Ardie Demastyo mengakui adanya dua laporan kasus pencurian yang dilaporkan wisatawan di lokasi FBLB. Laporan tersebut menurut Ardie, dilaporkan kepada pihak panitia yang kemudian diteruskan kepada anggota Polres Jayawijaya yang bertugas di arena FBLB. 

“Dari penelusuran tadi sudah diamankan salah satu pelaku yang masih di bawah umur. Pelaku beroperasi di lokasi FBLB dan sudah dibawa ke Mapolres untuk dimintai keterangannya,”ungkapnya Kepada Cenderawasih Pos, Kamis (8/8).

Dalam kejadian ini, Ardie menyebutkan sejumlah saksi melihat sejak pembukaan FBLB, anak-anak yang diamankan kemarin, diduga bekerja sama dengan beberapa temannya melakukan aksi pencurian. 

“Modusnya, mereka berjumlah 3 sampai 4 orang menghampiri wisatawan, kemudian mengambil barang seperti dompet dan handphone. Barang yang berhasil diambil kemudian diestafet ke teman komplotannya,” jelasnya. 

Aksi pencurian secara berkelompok ini sempat direkam sejumlah warga. “Kami dibantu rekan-rekan dari TNI dan Satpol PP melakukan razia di sekeliling area festival untuk mencegah terjadinya aksi pencurian. Jangan sampai kelakuan oknum ini,  nama dari FBLB menjadi tercemar,” tambahnya. 

Sementara itu, memasuki hari kedua kegiatan FBLB ke-30 tahun 2019, ada 7 tarian yang ditampilkan warga dari beberapa distrik seperti Distrik Asotipo, Walelagama dan Trikora.

Berbagai variasi tarian perang-perangan ditampilkan yang ceritanya diangkat dari permasalahan yang terjadi dalam masyarakat seperti perkawinan satu marga, membawa lari anak orang, perselisihan hak ulayat atau kebun masyarakat.

Disamping pertunjukan tari perang-perangan, panitia juga melakukan beberapa acara perlombaan. Seperti lomba meniup alat musik pikon, lomba merajut noken serta perlombaan karapan ternak babi yang melibatkan wisatawan.

Hari kedua kemarin, Polres Jayawijaya juga menampilkan atraksi para layang yang melibatkan 21 penerjun yang mana dua di antaranya wanita. (jo/nat)

newsportal

Recent Posts

Dana Otsus Bukan untuk Operasional dan Belanja Kantor!

Gubernur Papua Pegunungan Dr. (HC) Jhon Tabo, SE, M.B.A menyatakan penggunaan dana otsus saat ini…

2 days ago

Bupati Keerom Minta Distrik Bersih dan Aman jelang Puncak HUT RI

Fokus utama arahan tersebut adalah menjaga keamanan, kebersihan, serta kedisiplinan jajaran pemerintahan distrik dalam melayani…

2 days ago

Kapolres Merauke: Jangan Sampai Kejadian di Puncak Terjadi di Merauke

Leonardo mengatakan, kejadian tersebut menjadi perhatian bersama karena menimbulkan kerugian. Karena itu, berbagai potensi persoalan…

2 days ago

Ini Alasan Fatal Mengapa Bendera Merah Putih Haram Menyentuh Tanah!

Pengibaran Bendera Merah Putih menjadi salah satu bagian paling dinantikan dalam upacara peringatan Hari Kemerdekaan.…

2 days ago

Potensi Besar di Sektor Retribusi, Tapi Terbentur Kepentingan Masyarakat Adat

   Car Free Day (CFD) yang digelar setiap Sabtu tersebut kini menjadi salah satu ruang…

2 days ago

Meriahkan HUT RI, Joged Veronika dan Yospan Asaibori di Mandala

  Salah satu atraksi yang akan menjadi perhatian dalam peringatan HUT ke-81 RI tahun ini…

2 days ago