Categories: BERITA UTAMA

Perlu Pertimbangkan Kondisi Rill

George Saa (FOTO : George for Cepos)

Terkait Program Beasiswa Luar Negeri Pemprov Papua 

JAYAPURA-Program beasiswa luar negeri yang dilaksanakan Pemprov Papua mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Salah satunya putra asli Papua pemenang lomba First Step to Nobel Prize in Physics tahun 2004, George Saa. 

Menurut George Saa, program beasiswa luar negeri yang saat ini dilaksanakan Pemprov Papua perlu mempertimbangkan kondisi rill di Papua dan luar negeri bagi penerima beasiswa saat ini. 

Dirinya mengapresiasi Gubernur Papua Lukas Enembe yang tetap berkeinginan melanjutkan program 1000 doktor orang Papua yang dirintis oleh pendahulunya Barnabas Suebu. Menurutnya, program tersebut sudah bagus namun perlu banyak pertimbangan dan perombakan lebih lanjut untuk menghasilkan SDM Papua yang sesuai kondisi rill di Papua. 

“Ingin saya beri masukan, pertama ketika gubernur mengirim satu anak Papua ke luar negeri, untuk pendidikan S1, pemerintahan harus mengeluarkan uang yang jumlahnya fantastis hanya untuk 1 orang saja, dimana uang itu setara untuk kuliah 15-40 anak Papua di kampus lokal di Jayapura,” ungkapnya kepada Cenderawasih Pos, Senin (3/6).

Menurutnya, Gubernur Papua secara moral juga bertanggung jawab untuk proses pendidikan anak-anak Papua di tanahnya sendiri. Pasalnya, makin hari mereka yang kuliah di dalam negeri merasa dianaktirikan. Padahal realita saat ini, justru pemimpin-pemimpin di tanah Papua ini merupakan produk kampus-kampus lokal di tanah Papua. 

“Merekalah yang sedang memimpin Papua bersamaan dengan beberapa individu pemimpin Papua lulusan dari kampus dalam negeri di luar Papua. Mereka juga perlu sentuhan beasiswa Otsus dan ini harus diperhatikan,” sebut Oge sapaan akrabnya.

Belajar dari pengalaman dan kondisi saat ini, menurut Oge, mahasiswa/i yang dikirim ke seluruh dunia, sekembalinya ke tanah air mereka belum bisa diharapkan untuk dapat berbuat sesuatu.

“Ini fakta dan realita. Ketika saya masih bekerja di perusahaan multinasional di Papua Barat, fakta membuktikan bahwa banyak anak-anak kloter pertama yang dikirim ke luar megeri melalui program beasiswa, mereka tidak tahu mau bekerja ke mana. Mereka akhirnya harus kami bantu dan support agar bisa masuk ke perusahaan. Bagi saya, ini sangat disayangkan. Mereka-mereka ini harusnya bekerja untuk kepentingan orang Papua secara langsung. Mereka ini telah dibiayai dari dana pemerintah yang sebenarnya adalah milik semua anak-anak Papua,”tuturnya.

Untuk itu, Oge menyarankan agar pengiriman putra-putri Papua ke luar negeri sebaiknya untuk pendidikan S2 dan S3 dengan latar belakang sudah pernah bekerja, berkarir dan paham akan kompleksitas persoalan kekinian di Papua. Sehingga ilmu yang mereka dapat diharapkan dapat memajukan dan menyelesaikan masalah yang ada serta mendatangkan solusi/produk yang menunjang majunya Papua. (oel/nat)

newsportal

Recent Posts

Dana Otsus Bukan untuk Operasional dan Belanja Kantor!

Gubernur Papua Pegunungan Dr. (HC) Jhon Tabo, SE, M.B.A menyatakan penggunaan dana otsus saat ini…

2 days ago

Bupati Keerom Minta Distrik Bersih dan Aman jelang Puncak HUT RI

Fokus utama arahan tersebut adalah menjaga keamanan, kebersihan, serta kedisiplinan jajaran pemerintahan distrik dalam melayani…

2 days ago

Kapolres Merauke: Jangan Sampai Kejadian di Puncak Terjadi di Merauke

Leonardo mengatakan, kejadian tersebut menjadi perhatian bersama karena menimbulkan kerugian. Karena itu, berbagai potensi persoalan…

2 days ago

Ini Alasan Fatal Mengapa Bendera Merah Putih Haram Menyentuh Tanah!

Pengibaran Bendera Merah Putih menjadi salah satu bagian paling dinantikan dalam upacara peringatan Hari Kemerdekaan.…

2 days ago

Potensi Besar di Sektor Retribusi, Tapi Terbentur Kepentingan Masyarakat Adat

   Car Free Day (CFD) yang digelar setiap Sabtu tersebut kini menjadi salah satu ruang…

2 days ago

Meriahkan HUT RI, Joged Veronika dan Yospan Asaibori di Mandala

  Salah satu atraksi yang akan menjadi perhatian dalam peringatan HUT ke-81 RI tahun ini…

2 days ago