

Salah satu pementasan seni ratapan yang dimainkan salah satu tim kesenian pada penutupan pelatihan seni dan music tradisional yang digelar UPT Taman Budaya, Kamis (29/11). (Gamel/Cepos)
JAYAPURA – Proses pelatihan bagi tenaga pengajar terutama yang memiliki basic kesenian yang dilakukan UPT Taman Budaya Provinsi Papua akhirnya rampung. Agenda pelatihan selama 5 hari itu ditutup dengan semangat mengedukasi oleh para guru untuk murid – muridnya.
Kepala UPT Taman Budaya, Herman Saud menyampaikan bahwa pelatihan yang dilakukan ini sudah berjalan selama dua kali dengan tahun yang berbeda dan memang diperuntukkan bagi tenaga pengajar agar setelah mendapatkan pembekalan selama lima hari ini selanjutnya diterapkan di sekolah.
“Materi yang diajarkan juga cukup lengkap, mulai dari pelatihan Seni Musik dan Tari Tradisional, pelatihan Pola Ragam Hias Tubuh Daerah Papua termasuk pagelaran seni ratapan yang selama ini terbilang jarang diperdengarkan,” kata Herman Saud usai penutupan, Rabu (29/11).
Iapun berharap agar dari materi yang disampaikan oleh para akademisi maupun budayawan dan seniman ini benar-benar bisa meningkatkan kapasitas dari seorang guru seni. “Juga jangan sampai guru kesenian ini diganti atau dipindahkan. Ilmu yang diterima tidak berlanjut nanti apalagi kalau mau dibilang jumlah guru kesenian di Papua ini sangat minim,” imbuhnya.
Sementara Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua, Amelia Ondikleuw mengapresiasi agenda pelatihan ini. “Expo ini disebut taman budaya dan bagaimana budaya dan kesenian mau tumbuh apabila tidak dilakukan kegiatan, sehingga dari pelatihan ini saya pikir menjadi upaya yang tidak hanya mengembangkan diri tetapi juga memberi pembelajaran bagi peserta didik,” beber Amelia.
Ia menyebut untuk seni ratapan selama ini hanya bisa di dengar ketika ada kedukaan namun di taman budaya ini hal – hal yang jarang terdengar justru bisa dipentaskan dan menjadi wawasan baru bagi penonton.
“Saya pernah mendengar tangisan ratapan ini dibeberapa tempat kedukaan dan kalau dicek artinya itu sedih sekali. Dan anak – anak era sekarang nampaknya sudah banyak yang tidak bisa menerapkan kebiasaan ratapan lagi sehingga disini bisa diajarkan tradisi yang selama ini dipegang teguh dan harus dilestarikan,” tutup Amelia. (ade/tri)
Kepala BMKG Merauke, Wahyu Hidayat mengungkapkan berdasarkan pemantauan citra satelit Himawari-9 pada Kamis (10/9) pukul…
Kasat Reskrim Polres Jayapura AKP Axel Panggabean, mewakili Kapolres Jayapura AKBP Dionisius VDP Helan, mengatakan…
Berdasarkan hasil analisis pemutakhiran parameter dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), episenter gempa…
Ketua Tim Meteorologi Publik BMKG, Finnyalia Napitupulu, menginformasikan bahwa gambaran cuaca secara umum di…
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Ribka Haluk mengatakan, definisi OAP telah memiliki dasar hukum…
Wali Kota menyoroti kebiasaan sejumlah OPD yang menggelar kegiatan tidak sesuai waktu yang tercantum dalam…