

JAYAPURA- Penggunaan ikat kepala dari burung Cenderawasih yang kerap kali ditemui di acara-acara formal maupun pementasan seni lokal Papua perlahan-lahan sudah dikurangi. Menurut Wakil Gubernur Papua, Klemen Tinal, SE., MM., hal ini terjadi tidak lain karena mulai tumbuhnya kesadaran dari para pejabat maupun dari masyarakat.
“Senang kami melihat di acara-acara tidak lagi pakai ikat kepala Cenderawasih, yang benar-benar dari burung Cenderawasih hidup. Memang karena sebenarnya itu tidak pantas juga, sebab burung khas Papua itu dilindungi,” jelas Klemen Tinal, SE., MM., kepada wartawan, Senin (18/3) lalu.
Wagub Tinal menambahkan bahwa perlahan tapi pasti, Burung Cenderawasih sudah tidak lagi dikenakan sebagai ikat kepala. Sebaliknya, saat ini penggunaan ikat kepala terbuat dari bahan imitasi (plastik) dan berbahan dasar manik-manik dan kerang laut.
“Kalau semua pakai Cenderawasih asli sebagai ikat kepala, pastinya burung kebanggaan Papua itu akan habis (punah) di hutan. Tapi, puji Tuhan, sekarang sudah mulai sadar, sehingga tidak digunakan lagi,” tambahnya. (gr/ary)
Terkait Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) ini, Wali Kota Jayapura, Dr. Abisai Rollo menegaskan bahwa…
Kepala Kejaksaan Negeri Jayawijaya, Sunandar Pramono, SH, MH mengatakan dari 9 terdakwa kasus korupsi dana…
Kelompok Kerja (Pokja) Adat Majelis Rakyat Papua (MRP) Papua mengaku kecewa karena tidak dapat bertemu…
Gubernur Apolo menjelaskan, dalam rangka kunjungan tersebut, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Papua…
Menurut Emanuel Gobay, yang juga anggota Koalisi Penegak Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) Papua,…
Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan enam Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Mimika, Papua…