

JAYAPURA- Penggunaan ikat kepala dari burung Cenderawasih yang kerap kali ditemui di acara-acara formal maupun pementasan seni lokal Papua perlahan-lahan sudah dikurangi. Menurut Wakil Gubernur Papua, Klemen Tinal, SE., MM., hal ini terjadi tidak lain karena mulai tumbuhnya kesadaran dari para pejabat maupun dari masyarakat.
“Senang kami melihat di acara-acara tidak lagi pakai ikat kepala Cenderawasih, yang benar-benar dari burung Cenderawasih hidup. Memang karena sebenarnya itu tidak pantas juga, sebab burung khas Papua itu dilindungi,” jelas Klemen Tinal, SE., MM., kepada wartawan, Senin (18/3) lalu.
Wagub Tinal menambahkan bahwa perlahan tapi pasti, Burung Cenderawasih sudah tidak lagi dikenakan sebagai ikat kepala. Sebaliknya, saat ini penggunaan ikat kepala terbuat dari bahan imitasi (plastik) dan berbahan dasar manik-manik dan kerang laut.
“Kalau semua pakai Cenderawasih asli sebagai ikat kepala, pastinya burung kebanggaan Papua itu akan habis (punah) di hutan. Tapi, puji Tuhan, sekarang sudah mulai sadar, sehingga tidak digunakan lagi,” tambahnya. (gr/ary)
Aktivitas kantor di Sekretariat DPR Papua, Jumat (25/9) mendadak tegang. Ini lantaran sejumlah penyidik kejaksaan…
Kedatangan para tokoh adat dipimpin Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Waropen di Tanah Tabi, Karlos…
Alih-alih masuk ke blok hunian utama, tim Ombudsman justru menemukan deretan bangunan yang menarik perhatian.…
Presiden Prabowo Subianto memutuskan membentuk Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) untuk memperkuat pencegahan…
Juru Bicara BGN Tysa Novenny mengatakan keterlibatan sekolah menjadi bagian penting dalam membangun sistem pengawasan…
Banyak sekali kebun yang dibuat oleh warga. Lokasi yang harusnya ditumbuhi pepohonan besar tiba-tiba berubah…