

JAYAPURA- Penggunaan ikat kepala dari burung Cenderawasih yang kerap kali ditemui di acara-acara formal maupun pementasan seni lokal Papua perlahan-lahan sudah dikurangi. Menurut Wakil Gubernur Papua, Klemen Tinal, SE., MM., hal ini terjadi tidak lain karena mulai tumbuhnya kesadaran dari para pejabat maupun dari masyarakat.
“Senang kami melihat di acara-acara tidak lagi pakai ikat kepala Cenderawasih, yang benar-benar dari burung Cenderawasih hidup. Memang karena sebenarnya itu tidak pantas juga, sebab burung khas Papua itu dilindungi,” jelas Klemen Tinal, SE., MM., kepada wartawan, Senin (18/3) lalu.
Wagub Tinal menambahkan bahwa perlahan tapi pasti, Burung Cenderawasih sudah tidak lagi dikenakan sebagai ikat kepala. Sebaliknya, saat ini penggunaan ikat kepala terbuat dari bahan imitasi (plastik) dan berbahan dasar manik-manik dan kerang laut.
“Kalau semua pakai Cenderawasih asli sebagai ikat kepala, pastinya burung kebanggaan Papua itu akan habis (punah) di hutan. Tapi, puji Tuhan, sekarang sudah mulai sadar, sehingga tidak digunakan lagi,” tambahnya. (gr/ary)
Pemerintah menargetkan pendapatan negara di wilayah Papua pada 2026 sebesar Rp6,7 triliun, yang terdiri atas…
Owen membeberkan bahwa mereka sudah menjajaki dua stadion di Jawa Timur. Dan saat ini masih…
Dari hasil peninjauan, pemerintah menemukan sejumlah aspek yang perlu segera dibenahi, di antaranya sanitasi tempat…
Keputusan ini menjadi pengalaman pertama bagi skuad Persipura. Pada musim-musim sebelumnya, mereka lebih sering menggelar…
Menurutnya, selama ini pemerintah daerah tidak pernah dilibatkan secara maksimal dalam perencanaan maupun pelaksanaan program.…
Penangkapan bermula saat D.H. menjalani pemeriksaan di Passenger Security Check Point (PSCP) Terminal Keberangkatan Bandara…