Dari sisi klinis, Laura menyebut Hantavirus umumnya diawali gejala tidak spesifik, seperti demam, tubuh lemas, dan gangguan gastrointestinal yang kerap sulit dikenali pada tahap awal. Kondisi tersebut dapat berkembang cepat menjadi pneumonia berat hingga Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) dan syok, sehingga pasien memerlukan penanganan intensif di fasilitas kesehatan.
“Bentuk berat infeksi hantavirus yaitu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang memiliki tingkat fatalitas cukup tinggi 30 – 50 persen. Terutama jika penanganan tidak dilakukan secara cepat,” ujar Laura. Sekretaris Lembaga Penyakit Tropis (LPT) UNAIR tersebut menegaskan bahwa penguatan sanitasi, pemantauan gejala, serta komunikasi risiko yang efektif menjadi kunci dalam mencegah penyebaran Hantavirus. (*/JawaPos.com)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Page: 1 2
Pemusnahan kali ini menyasar material sitaan dari 52 perkara tindak pidana umum dengan volume mencapai…
Pemerintah Kota (Pemkot) Jayapura terus memperkuat pengawasan terhadap pelaksanaan program pembangunan dan penggunaan anggaran daerah,…
Panglima Kodam (Pangdam) XXIV/Mandala Trikora Mayjen TNI Frits Wilem Rizard Pelamonia, melakukan silaturahmi kepada Gubernur…
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua menyebut Presiden RI Prabowo Subianto menyalurkan bantuan 10 ekor sapi kurban…
Satuan Reserse Narkoba (Sat Resnarkoba) Polres Mimika melakukan tindakan tegas dalam upaya pemberantasan peredaran gelap…
Ketua Pengadilan Negeri Merauke, lanjut Yuri Ardiansyah, telah menunjuk 3 hakim untuk menangani 2 perkara…