Dari sisi klinis, Laura menyebut Hantavirus umumnya diawali gejala tidak spesifik, seperti demam, tubuh lemas, dan gangguan gastrointestinal yang kerap sulit dikenali pada tahap awal. Kondisi tersebut dapat berkembang cepat menjadi pneumonia berat hingga Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) dan syok, sehingga pasien memerlukan penanganan intensif di fasilitas kesehatan.
“Bentuk berat infeksi hantavirus yaitu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang memiliki tingkat fatalitas cukup tinggi 30 – 50 persen. Terutama jika penanganan tidak dilakukan secara cepat,” ujar Laura. Sekretaris Lembaga Penyakit Tropis (LPT) UNAIR tersebut menegaskan bahwa penguatan sanitasi, pemantauan gejala, serta komunikasi risiko yang efektif menjadi kunci dalam mencegah penyebaran Hantavirus. (*/JawaPos.com)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Page: 1 2
Keputusan tersebut tidak datang begitu saja. Taufik diketahui sempat meminta saran kepada mantan atasannya, Dadang…
Laporan itu menjadi salah satu tuduhan paling serius yang pernah dilontarkan terhadap Israel sejak perang…
Dinas Kesehatan Kabupaten Merauke menyatakan terjadi peningkatan kasus campak yang terjadi saat ini. Penyebarannya diduga…
Keduanya adalah pasangan tuli yang kini tengah merintis usaha berjualan kopi di Kotaraja dalam tepatnya…
Ia menjelaskan, Kapal Papua Baru bukan satu-satunya yang tenggelam di kawasan tersebut. Saat ini tercatat…
Peristiwa tersebut mengakibatkan seorang warga bernama Kevin Febrian Chen mengalami luka parah dan meninggal dunia…