Categories: NASIONAL

Ekonom Soroti Kejanggalan Data BPS

Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen Dinilai Perlu Dikaji Ulang

JAKARTA – Aliansi Ekonom Indonesia bersama Paramadina Public Policy Institute menilai angka pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen pada Kuartal I 2026 perlu dikaji ulang karena dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi nasional saat ini.

Diskusi terbuka yang digelar di Universitas Paramadina, Jakarta, Sabtu (23/5), menyoroti adanya dugaan inkonsistensi dalam data Badan Pusat Statistik (BPS) yang merilis pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tertinggi sejak 2012 di luar masa pandemi Covid-19.

Kajian ekonom Ikhsan dan Teuku Riefky menemukan sektor listrik justru mengalami kontraksi minus 0,99 persen ketika sektor manufaktur tumbuh 5,04 persen. Kondisi itu dianggap janggal karena industri manufaktur sangat bergantung pada konsumsi listrik. Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menegaskan akurasi data menjadi faktor utama menjaga kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia.

“Investor membutuhkan kepastian, termasuk kepastian tentang akurasi data pemerintah. Ketika trust hilang, risiko krisis ekonomi akan semakin besar,” ujar Wijayanto. Dalam diskusi tersebut, sejumlah ekonom menilai pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum diikuti perbaikan kondisi masyarakat secara menyeluruh. Penurunan kelas menengah, lemahnya daya beli, dan stagnasi produktivitas dinilai masih menjadi persoalan utama.

Teuku Riefky mengatakan angka pertumbuhan ekonomi tidak boleh dimaknai secara berlebihan tanpa melihat kualitas pertumbuhannya. “Pertumbuhan ekonomi 5,61 persen perlu disikapi hati-hati karena kondisi fundamental ekonomi Indonesia belum benar-benar pulih,” katanya.

Ia memperkirakan apabila data yang dianggap tidak sinkron tersebut disesuaikan, maka pertumbuhan ekonomi riil Indonesia kemungkinan berada di kisaran 4,4 persen hingga 5,2 persen. Selain itu, Kaprodi Studi Ekonomi FEB UI, Vid Adrison, mengingatkan risiko tekanan fiskal pada semester kedua 2026 akibat tingginya belanja negara di awal tahun.

“Front-loading belanja memberi ilusi kesehatan fiskal. Yang perlu diwaspadai justru tekanan APBN pada Q2 hingga Q4,” ujarnya. Peneliti CSIS, Dwiwulan, menilai pelemahan Rupiah saat ini mencerminkan menurunnya kepercayaan investor terhadap arah kebijakan ekonomi nasional. Menurutnya, ketergantungan terhadap arus modal asing membuat ekonomi Indonesia rentan terhadap tekanan global.

Page: 1 2

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Tiga Tersangka Dugaan Korupsi Kantor Bupati Boven Digoel Ditahan

Dalam perkara tersebut, nilai kontrak pekerjaan mencapai Rp11.719.700.000. Sementara berdasarkan hasil audit Badan Pengawasan Keuangan…

5 hours ago

Pemkab Merauke Godok Status Darurat Karhutla

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merauke tengah menggodok penetapan status kedaruratan bencana terkait kebakaran hutan dan lahan…

6 hours ago

Kebakaran Hutan di Gunung Tembagapura Padam,  Potensi Api Susulan Perlu Diwaspadai

​Meski kobaran api utama telah padam, otoritas keamanan setempat mengimbau semua pihak untuk tetap waspada…

7 hours ago

TNI Hormati Putusan MK Soal Pidana Umum di Pengadilan Umum

Hakim Konstitusi Enny Nurbaningsih menyatakan bahwa penataan UU Peradilan Militer perlu waktu paling lama 2…

8 hours ago

Siapkan Dana Cadangan Sejak Awal Tahun, Anggaran BLUD Terus Berputar

RSUD Jayapura memastikan kebutuhan medis terkait bahan medis habis pakai  sejauh ini masih dalam kondisi…

8 hours ago

Aturan Sisa Kuota Internet Belum Dipatuhi Penuh

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menyebut operator seluler belum sepenuhnya mematuhi ketentuan perlindungan…

9 hours ago