“Pelemahan Rupiah bukan sekadar volatilitas teknikal, tetapi sinyal lemahnya kepercayaan pasar,” jelasnya. Diskusi juga menyoroti Agreement on Reciprocal Trade (ART) Indonesia-Amerika Serikat yang diteken pada Februari 2026. Ekonom Universitas Gadjah Mada, Rimawan Pradiptyo, menilai perjanjian tersebut berpotensi membebani Indonesia secara ekonomi.
“Biaya menolak ART lebih murah daripada menerima ART karena ada potensi subordinasi kebijakan ekonomi Indonesia,” katanya. Sementara itu, Ketua Prodi Studi Ekonomi FEB IPB, Prof Sahara, menyebut ART berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga minus 0,41 persen dan memperburuk neraca perdagangan.
“Ini bukan sekadar soal tarif, tetapi juga menyangkut kontrol rantai pasok pangan dan energi nasional,” ujarnya.Forum tersebut menjadi bagian dari rangkaian Tujuh Desakan Darurat Ekonomi yang disuarakan Aliansi Ekonom Indonesia sejak 2025 sebagai bentuk kritik terhadap tata kelola ekonomi dan arah kebijakan nasional.(*/JAWAPOS.COM)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Page: 1 2
Menurut Ria, penggunaan atribut resmi Maxim tidak bisa dijadikan tolok ukur tunggal untuk menyimpulkan keterlibatan…
Akibatnya, tim gabungan bersama masyarakat harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih enam…
Data keseluruhan tahun 2026 belum rampung. Namun, data sementara menunjukkan kasus tertinggi berada di…
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jayapura resmi memperpanjang masa pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 hingga 15…
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen TNI Muhammad Nas mengatakan, rumah dinas tersebut ditempati oleh…
Hampir separo masyarakat Indonesia tidak puas dengan kinerja pemerintahan Presiden Prabowo Subianto-Wapres Gibran Rakabuming Raka.…