Categories: NASIONAL

Presiden Setuju Lanjutkan Pengentasan Kemiskinan Ekstrem di 212 Kabupaten

JAKARTA – Presiden Joko Widodo menyetujui program pengentasan ekstrem ekstrem. Tahun ini daerah yang disasar sebanyak 212 kabupaten yang tersebar di 25 provinsi. Jumlah ini setara dengan 75 persen kantong kemiskinan ekstrem di Indonesia.
Kabar kelanjutan program pengentasan kemiskinan ekstrem itu disampaikan Masduki Baidlowi selalu juru bicara Wakil Presiden di Jakarta kemarin (17/2). “Dalam Rapat Terbatas pada 15 Februari 2022, Presiden telah menyetujui untuk melanjutkan program tersebut di 212 kabupaten di 25 provinsi,” kata dia.
Masduki mengatakan selalu Ketua Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin pentingnya program pemberdayaan masyarakat, selain pemberian bantuan sosial. Dia mengatakan mempersembahkan bantuan sosial yang tepat sasaran adalah sangat penting. Namun perlu didukung oleh program pemberdayaan.
Dia mengatakan program pemberdayaan masyarakat itu tersebar di banyak kementerian dan lembaga. Anggarannya mencapai Rp 170 triliun lebih. “Sementara, dari data Kementerian Keuangan, anggaran untuk mengatasi kemiskinan dan pengentasan kemiskinan ekstrem di 2022,khususnya terkait program Bantuan Sosial tercatat sekitar Rp 282 triliun dana APBN,” jelasnya.
Masduki mengatakan, Ma’ruf Amin menilai anggaran tersebut cukup besar. Untuk itu dia meminta Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto agar mengoordinasikan pelaksanaan program pemberdayaan ini sehingga benar-benar diterima kelompok sasarannya. “Menurut Wapres, berbagai program ini perlu dikoordinasikan agar tepat sasaran dan terjadi konvergensi,” ujarnya.
Ma’ruf Amin juga mengulas masalah data bantuan sosial. Sebab terkait dengan penayangannya yang tepat sasaran. Ma’ruf meminta pendataan rumah tangga yang masuk ke dalam kategori ekstrem ekstrem dilakukan secara akurat. Sehingga nantinya memberikan bantuan sosial ini diharapkan dapat menggerakkan kegiatan ekonomi lokal dan mendorong turunnya angka kemiskinan.
Ma’ruf menyarankan menggunakan data rumah tangga yang saat ini sedang diperbaiki dengan sumber utama dari pendataan BKKBN. Sebab data dari BKKBN ini relatif baru dan memiliki metode pemeringkatan. Sebagai masukan bagi perbaikan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) Kementerian Sosial. Ma’ruf setuju pendataan rumah tangga miskin dan rentan dikembalikan kepada Badan Pusat Statistik (BPS). Menurut dia, lembaga yang paling kompeten untuk melakukan pendataan ini adalah BPS. (wan/JPG)

newsportal

Share
Published by
newsportal
Tags: NASIONAL

Recent Posts

Ramai Pastikan Persipura Siap Promosi ke Liga 1

Menurut Ramai, program latihan yang telah dijalani tim, baik saat pemusatan latihan di Jayapura maupun…

1 day ago

Lagi, Kapal Nelayan  Indonesia Ditangkap Otoritas PNG

Otoritas Perikanan Nasional Papua Nugini (National Fisheries Authority/NFA) bersama Imigrasi Papua Nugini kembali menangkap kapal…

1 day ago

Pengamanan di Lokasi Pengungsian Diperketat

Pemerintah Kota Jayapura akan memperketat pengawasan di lokasi pengungsian warga terdampak kebakaran di Kelurahan Mandala,…

1 day ago

Cek Langsung Siswa di Pengungsian, Galang Bantuan Sukarela dari Orang Tua Murid

Polres Merauke bersama Densus 88 Antiteror memperkuat sinergi dalam upaya mencegah penyebaran paham radikalisme dan…

1 day ago

152.319 Anak di Papua Tercatat Tidak Sekolah

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua, Marthen Medlama mengatakan data tersebut perlu divalidasi terlebih dahulu untuk…

1 day ago

Boaz Dukung Peminjaman Markus ke PSS Sleman

Pemain senior sekaligus legenda Persipura Jayapura, Boaz Solossa, memberikan dukungan penuh atas langkah klub meminjamkan…

1 day ago