Categories: METROPOLIS

Penjabat Wali Kota Diminta Tuntaskan Status Hibah Pasar

JAYAPURA-Penjabat Wali Kota Jayapura Dr Frans Pikei diminta untuk segera mengurus status penghibahan pasar Mama – Mama Papua yang belum jelas status kepemilikannya. Hal ini di tegaskan Anggota DPR Papua Johm NR Gobai di Jayapura, Jumat, (27/5).

   Ia mengatakan tanah di lokasi psar itu milik Perum Damri, dimana  dimana menurut informasi pemerintah provinsi telah melakukan pembayaran, namun proses hibah dari BUMN ke Pemerintah Provinsi dan Kota rupanya belum selesai.

  “Bagian ini (Hibah Pasar) menjadi tugas pelaksana harian Wali Kota Jayapura Frans Pikei,” katanya.

  Dia juga mengatakan pada saat bertemu perwakilan Kementerian Pendidikan Kebudayaan dan riset teknologi,  dirinya telah menyampaikan agar ada rekomendasi kepada Kementerian BUMN untuk dapat melakukan penyerahan aset.

   Gobai mengatakan harusnya pemerintah serius melihat pasar  mama Papua dan Damri karena sama-sama penting dengan memberikan lahan bagi mereka yang diisukan akan dibangun di Youtefa.

  “Tanah di Youtefa itu milik siapa harus jelas dan banyak juga beberapa asset pemerintah yang belum ditata dengan baik,  ini harusnya ditata dengan baik menjadi aset pemerintah,” katanya.

   Termasuk juga lanjut Gobai soal pengelolaan lantai 4 yang digunakan sewenang-wenang oleh gereja yang menurutnya tidak seharusnya karena pasar tersebut milik Mama Papua.

  “Saudara kalau mau bangun jemaat silakan bangun gereja dan Pimpin Jemaat,  Ini bukan kami anti tetapi tempat ini merupakan pasar, dan kita harus membedakan mana aset umum dan aset yang diperlukan, maka lantai 4 itu harus difungsikan untuk kepentingan pasar, atau  bisa juga dijadikan kantor Damri, sehingga sama-sama bisa saling menguntungkan dalam membangun orang Papua dan ketika Mama ingin transportasi untuk membeli sayur dan beri juga bisa memfasilitasinya, mama  mama yang datang ke pasar,” katanya.

   Ia juga menegaskan pasar harus diperjelas status hukumnya jangan sampai status hukumnya itu pinjam pakai ini masalah. “Jadi ketika habis waktu, pihak BUMN minta kembali, hal begini bisa membuat kita tidak berdaya. Dan saya ingat pemerintah kota dan BUMN sempat menandatangani sebuah perjanjian itu. Apakah pinjam pakai atau penyerahan aset dari BUMN kepada pemerintah kota harus dipastikan dan diselesaikan, ini asetnya siapa mau diserahkan kepada siapa kota atau Provinsi, kalau di situ ada kantor UPT dari pemerintah kota maka pemerintah kota harus urus supaya ada pajak dari pasar itu,” katanya.(oel/tri)

newsportal

Recent Posts

Pesawat Dibakar, Pilot Ditembak, Pelaku Langsung Berpose

Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) atau Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) mengklaim bertanggung…

1 day ago

Marinus Yaung: KKB Tidak Akan Mendapat Dukungan dan Simpati Asing

Menurutnya para elit politik Papua di wilayah Papua Pegunungan, harus bisa membuka ruang-ruang komunikasi dengan…

1 day ago

Presiden Perlu Evaluasi Operasi Keamanan di Papua

Menyikapi peristiwa itu, Kepala Komnas HAM RI Perwakilan Papua, Frits Ramandey, mengeluarkan pernyataan sikap yang…

1 day ago

Singgung Demo Ditahan, Konvoi Bola Dibebaskan

Kepercayaan masyarakat merupakan modal utama bagi setiap institusi penegak hukum. Sekali kepercayaan itu tumbuh, masyarakat…

1 day ago

Okto Disebut Sebagai Wakil Komandan TPNPB-OPM

Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna, menjelaskan bahwa insiden tersebut bermula…

1 day ago

Cetak Sawah Baru di Sota Masih Terkendala Penolakan Warga

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Merauke Leo Patria Mogot menjelaskan,   secara…

1 day ago