

Sejumlah komoditas pertanian yang dijual pedagang di Pasar Youtefa. (foto:Dok/Cepos)
JAYAPURA-Lonjakan harga sejumlah komoditas hortikultura kembali menjadi perhatian pemerintah. Dalam beberapa hari terakhir, harga cabai rawit di pasar tradisional Kota Jayapura sempat menembus Rp140 ribu/kg, sementara bawang merah mencapai Rp100 ribu/kg.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Papua menilai tingginya ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah masih menjadi salah satu penyebab utama fluktuasi harga pangan di Papua.
Plh Kepala Disperindag Papua, Yoniman Ronting mengatakan sebagian besar kebutuhan pangan masyarakat masih didatangkan dari luar Papua sehingga sangat rentan terhadap gangguan distribusi maupun kenaikan biaya logistik.
“Selain itu, kenaikan harga BBM juga turut memengaruhi. Sebagian barang didatangkan dari luar Papua sehingga otomatis biaya transportasi dan distribusi meningkat, yang berdampak pada harga jual di tingkat konsumen,” ucapnya kepada Cenderawasih Pos, Kamis (25/6).
Menurut Yoniman, komoditas yang paling sering memicu inflasi adalah cabai rawit. Pasalnya, harga cabai sangat sensitif terhadap ketersediaan pasokan di pasar. Ketika produksi menurun atau distribusi terganggu, harga dapat melonjak tajam dalam waktu singkat.
“Untuk mengendalikan gejolak harga, Disperindag bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) secara rutin melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pasar serta intervensi pasar apabila terjadi lonjakan harga yang signifikan,” katanya.
Namun demikian, ia menilai langkah tersebut hanya bersifat sementara dan belum menyentuh akar persoalan. “Intervensi pasar memang perlu dilakukan untuk menjaga stabilitas harga. Tetapi itu hanya solusi jangka pendek. Yang lebih penting adalah bagaimana Papua tidak terus bergantung pada pasokan dari luar daerah,” katanya.
Yoniman menilai salah satu langkah yang perlu dilakukan adalah memperbaiki pola tanam komoditas hortikultura di sentra-sentra produksi lokal. Pengaturan jadwal tanam yang terkoordinasi dapat menjaga ketersediaan pasokan sepanjang tahun sekaligus mencegah anjloknya harga saat panen raya.
Ia mencontohkan, wilayah Sentani, Keerom, dan Koya perlu memiliki pola tanam yang berbeda sehingga panen tidak terjadi secara bersamaan. “Kalau semua petani panen cabai pada waktu yang sama, harga langsung turun dan petani yang rugi. Karena itu perlu ada pengaturan pola tanam yang lebih baik dan terkoordinasi,” ujarnya.
Yoniman menegaskan, penguatan sektor pertanian lokal membutuhkan peran aktif pemerintah, terutama instansi teknis yang membidangi pertanian, agar produksi komoditas strategis dapat lebih terencana.
Selain melakukan pemantauan harga setiap hari, Disperindag juga terus meningkatkan pengawasan terhadap distribusi barang di pasar. Dalam beberapa sidak yang dilakukan sebelumnya, petugas bahkan menemukan kasus penimbunan komoditas yang berpotensi memicu kelangkaan dan kenaikan harga.
“Berdasarkan hasil pemantauan kami di lapangan pada 24 hingga 25 Juni 2026, harga cabai rawit berada pada kisaran Rp105 ribu/kg, bawang merah Rp70 ribu hingga Rp80 ribu/kg, sedangkan tomat berkisar antara Rp40 ribu hingga Rp60 ribu/kg,” jelasnya.
Menghadapi kondisi tersebut, Disperindag terus mendorong pengembangan produk lokal sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
“Komoditas seperti cabai, bawang, dan tomat harus terus didorong produksinya di Papua. Semakin kuat produksi lokal, semakin kecil ketergantungan kita terhadap pasokan dari luar,” katanya.
Yoniman juga mengajak masyarakat memanfaatkan lahan pekarangan rumah untuk menanam kebutuhan pangan sederhana seperti cabai, tomat, dan bawang guna membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus mengurangi tekanan terhadap pasar.
“Kalau masyarakat bisa memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam kebutuhan sehari-hari, setidaknya bisa membantu mengurangi pengeluaran dan tidak sepenuhnya bergantung pada harga pasar,” pungkasnya. (fia/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Kepala Kejaksaan Tinggi Papua, melalui Ketua Tim Penyidik sekaligus Kepala Seksi Penuntutan Kejati Papua, Alfisius…
Berdasarkan jadwal yang ditetapkan, pengumuman dan penerimaan berkas berlangsung pada 16-30 September 2026. Selanjutnya, seleksi…
Wanita tersebut diperkirakan sudah lanjut usia dan mengenakan jaket berwarna merah marone dan celana panjang…
"Sebenarnya aksi ini sudah berakhir beberapa hari lalu. Hanya karena kelalaian lembaga yang tidak mengakomodir…
Mayoritas penderita berjenis kelamin laki-laki sebanyak 109 orang, sedangkan perempuan tercatat 90 orang. Kepala Seksi…
Program pemerintah pusat dalam mendoro ekonomi masyarakat di kampung lewat Koperasi Desa Merah Putih (KDMP)…