Categories: METROPOLIS

Harusnya Adat yang Mendominasi

JAYAPURA-Pelaksanaan   Kongres Masyarakat Adat Nusantara (KMAN) sejatinya harus bisa memberi angin segar bagi keberadaan masyarakat adat di Papua. Ada banyak momentum untuk saling sharing dan mengoreksi apa yang menjadi ganjalan selama ini. Hanya saya pada hari kedua ini sudah ada tokoh adat yang  kecewa. Bukan pada KMAN nya melainkan panitia yang menggelar.

Ini disampaikan Ketua Dewan Adat Suku Sentani (DAS), Orgenes Kawai kepada Cenderawasih Pos saat ditemui di gedung DPR Papua, Selasa (25/10).  “Saya pikir dari sisi KMAN ini sudah bagus, tapi kalau ditanya soal kebangkitan adat kami pikir ini berat juga, sebab dengan KMAN hari ini, adat seakan – akan hanya sebagai simbol pelengkap dan tidak ada perhatian khusus,” beber Orgenes.

   Ia menyatakan bahwa KMAN merupakan acara yang kental dengan masyarakat adat dan itu bagiannya adat. Namun yang terjadi justru ditangani oleh OPD – OPD, hingga terjadi masalah di kampung – kampung.

“Ini sesuatu yang memalukan, sebab masyarakat datang dari seluruh nusantara dan kami berharap KMAN bisa merubah keadaan di masyarakat adat tapi belum bisa juga. Saya sendiri merasa malu soal yang kemarin ramai di media social terkait  tim yang dimasukkan ke dalam ruangan tanpa alas tidur dan semua kosong,” singgung Orgenes yang berharap ke depan ini dibenahi.

Ia menceritakan bahwa di tempatnya di Kampung Bambar, Sentani juga menjadi tempat serasehan, namun semua berakhir dengan kekecewaan. Pasalnya lokasi di Bambar telah disiapkan oleh masyarakat kampung untuk menerima sekitar 300 orang. Namun jelang saresehan panitia menyampaikan hanya 250 orang dan terakhir hanya 148 orang. Lalu yang membuatnya kecewa adalah Bambar hanya dijadikan lokasi serasehan, bukan untuk tempat tinggal kontingen dari luar.

  “Padahal kalau mau dibilang dari 10 tempat yang lain, kamilah yang paling siap. Kami pastikan peserta aman, nyaman dan tidak akan  kecewa. Tapi panitia datang malah bilang hanya jadi tempat serasehan, jadi  tadi saya sempat marah karena seakan tidak menghargai adat dan mengatur adat seenaknya. Saya punya harga diri,” tegasnya. “Tadi pagi saya sempat melarang dan menggembok pintu balai adat tapi saya mengalah karena ada tamu,” tutupnya. (ade/tri)

newsportal

Recent Posts

Pendapatan Negara di Papua Tembus Rp2,9 Triliun

Pemerintah menargetkan pendapatan negara di wilayah Papua pada 2026 sebesar Rp6,7 triliun, yang terdiri atas…

3 days ago

Persipura Bermarkas di Gelora Delta Sidoarjo

Owen membeberkan bahwa mereka sudah menjajaki dua stadion di Jawa Timur. Dan saat ini masih…

3 days ago

Libatkan Pemda dan Masyarakat Adat Atau Hentikan!

Dari hasil peninjauan, pemerintah menemukan sejumlah aspek yang perlu segera dibenahi, di antaranya sanitasi tempat…

3 days ago

Boyolali Dinilai Cocok Bagi Persipura

Keputusan ini menjadi pengalaman pertama bagi skuad Persipura. Pada musim-musim sebelumnya, mereka lebih sering menggelar…

3 days ago

Selama ini pemerintah daerah tidak pernah dilibatkan dalam pelaksanaan MBG

Menurutnya, selama ini pemerintah daerah tidak pernah dilibatkan secara maksimal dalam perencanaan maupun pelaksanaan program.…

3 days ago

Petugas Avsec Bandara Sentani Gagalkan Penyelundupan 940 Gram Ganja

Penangkapan bermula saat D.H. menjalani pemeriksaan di Passenger Security Check Point (PSCP) Terminal Keberangkatan Bandara…

3 days ago