

Penyerahan SK Universitas Muhammadiyah Papua dari Kemendikbud melalui LLDIKTI Wilayah XIV Papua Papua Barat oleh Sekretaris Lembaga Agung Nugroho Marey, M.Pd kepada persyarikatan Muhammadiyah diwakili oleh Ketua PWM Provinsi Papua Prof. H.R Partino, M.Pd dihadiri Ketua STIKOM Muhamadiyah Jayapura Dr. M. Nur Jaya, M.Si dan Wakil Ketua Dr. Indah Sulistiani, M.I.Kom., di kantor LLDIKTI Biak, (13/9) lalu. (Foto: Humas UMP)
JAYAPURA- STIKOM Muhammadiyah resmi berganti nama menjadi Universitas Muhammadiyah Papua (UMP). Peresmian UMP akan dikenalkan pada masyarakat Jumat (23/10) hari ini. Berbagai pemangku kepentingan diundang menghadiri launching kampus ini di kompleks UMP Jalan Abepantai, Tanah Hitam, Abepura.
Nantinya kampus terpadu UMP siap dibangun pada lahan seluas 12 hektar di Holtekam, Distrik Muara Tami,. Acara dilanjutkan dengan peletakan batu pertama di lokasi kampus terpadu tersebut.
Nama Universitas Muhammadiyah Papua digunakan secara resmi setelah terbitnya Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 937/M/2020 tentang Izin Perubahan Bentuk Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Jayapura di Kota Jayapura menjadi Universitas Muhammadiyah Papua di Kota Jayapura Provinsi Papua yang diselenggarakan oleh Persyarikatan Muhammadiyah.
Ketua PW Muhammadiyah Papua Prof. Dr. H.R. Partino, M.Pd., menyampaikan bahwa di awal keberadaannya ini Universitas Muhammadiyah Papua menyelenggarakn 7 program studi yaitu Ilmu Komunikasi (S1), Public Relations (D3), Ilmu Lingkungan (S1), Ilmu Komputer/Informatika (S1), Kewirausahaan (S1), Psikologi (S1) dan Hukum (S1).
“Keberadaan UM Papua merupakan aset berharga bagi kemajuan pendidikan di Tanah Papua. UM Papua hadir untuk Indonesia. UM Papua siap berkontribusi untuk peningkatan kualitas SDM yang lebih baik.” Demikian dikatakan Partino.
Rektor UMP Dr. Ir. H. Muh. Nur Jaya, M.Si menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang menjadi pemikiran dan pertimbangan Pendirian Universitas Muhammadiyah Papua. Pertama, besarnya animo masyarakat untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Kedua, untutan zaman dalam menyongsong era revolusi industri 4.0. mengharuskan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Ketiga tuntutan peningkatan kompetensi di bidang teknologi informasi dan komunikasi di era digital seperti saat ini. Keempat, adanya tuntutan keilmuan yang lebih holistik, integratif, lebih kontekstual berjangka panjang, dan responsif terhadap realitas sosial.
.(Humas)
Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna, menyatakan evakuasi dilakukan setelah pihak…
Krisis pangan dan air bersih melanda ratusan warga di tiga distrik terisolasi Kabupaten Puncak, Papua…
Seratusan orang yang terdiri dari pelajar dan guru di SMAN 5 Jayapura, diduga keracunan makanan…
Badan Gizi Nasional (BGN) mengembalikan Rp311,2 miliar ke kas negara setelah menemukan anomali pada 414…
Kondisi ini diperkirakan kian mengkhawatirkan karena potensi aktifnya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) Positif pada…
Karena itu, Kemenkeu saat ini tengah menghitung kebutuhan tambahan anggaran yang diperlukan untuk menambal kekurangan…