Untuk bertahan hidup, Yorgen dan keluarganya mengandalkan hasil penjualan barang rongsokan yang dikumpulkan sebulan sekali. Selain itu, anak-anak dan menantu Yorgen juga bekerja serabutan sebagai penjaga parkir, meski tidak tetap, karena mereka bukan karyawan resmi.
Untuk makan sehari-hari pun mereka harus berhemat. Satu bungkus nasi dibagi untuk dua orang. “Kami tidak bisa masak karena tidak ada alat-alat masak. Setiap hari harus beli makanan. Kadang satu bungkus nasi dimakan dua orang,” ungkap Yorgen.
Namun kini, tempat tinggal darurat mereka pun terancam. Pemilik bangunan berencana merenovasi lokasi tersebut, membuat Yorgen dan keluarganya kembali harus mencari tempat baru untuk berlindung.
“Saya bingung sekarang, tempat ini mau direnovasi. Saya tidak tahu harus ke mana lagi cari rumah,” ujarnya dengan wajah penuh cemas. (rel/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Page: 1 2
Untuk mendukung operasional pengangkutan sampah tersebut, pemerintah menetapkan biaya retribusi. Pares menekankan bahwa nilai nominal…
rea Manager Communication Relations and CSR Papua Maluku Ispiani Abbas mengimbau masyarakat untuk turut berperan…
Pengamanan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Abepura, Kota Jayapura, kecolongan. Enam orang tahanan kasus…
Pemerintah Kota Jayapura menegaskan komitmennya untuk terus mendukung dan menyukseskan berbagai program prioritas yang dicanangkan…
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua menargetkan 1.000 mahasiswa menerima bantuan pendidikan melalui program Mahasiswa Cerdas (Mace)…
Ketua Komisi IV DPR Papua, Joni Y. Betaubun, menegaskan bahwa selama lebih dari satu tahun…