Untuk bertahan hidup, Yorgen dan keluarganya mengandalkan hasil penjualan barang rongsokan yang dikumpulkan sebulan sekali. Selain itu, anak-anak dan menantu Yorgen juga bekerja serabutan sebagai penjaga parkir, meski tidak tetap, karena mereka bukan karyawan resmi.
Untuk makan sehari-hari pun mereka harus berhemat. Satu bungkus nasi dibagi untuk dua orang. “Kami tidak bisa masak karena tidak ada alat-alat masak. Setiap hari harus beli makanan. Kadang satu bungkus nasi dimakan dua orang,” ungkap Yorgen.
Namun kini, tempat tinggal darurat mereka pun terancam. Pemilik bangunan berencana merenovasi lokasi tersebut, membuat Yorgen dan keluarganya kembali harus mencari tempat baru untuk berlindung.
“Saya bingung sekarang, tempat ini mau direnovasi. Saya tidak tahu harus ke mana lagi cari rumah,” ujarnya dengan wajah penuh cemas. (rel/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Page: 1 2
Komite Nasional Papua Barat (KNPB) menilai bahwa tanggal 1 Mei 1963 adalah salah satu hari…
“Memasuki tahun 2027, kita berada pada tahap integrasi pembangunan. Berbagai upaya yang telah dibangun harus…
“Kota Jayapura, Keerom, Kabupaten Jayapura dan Sarmi menjadi pusat pertanian perkebunan yang akan kami bangun…
Meski dana Otsus terus mengalami peningkatan signifikan secara nominal, narasi kegagalan dalam menyejahterakan Orang Asli…
Suara Perempuan Papua Bersatu menggelar mimbar bebas di Lingkaran Abepura, Kamis (30/4). Sejumlah aspirasi dari…
Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo, menggandeng sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh adat untuk bersama-sama mengimbau…