Para Tanj dan Monj Port Numbay ketika menaiki rakit untuk memasuki lokasi ekosistem mangrove di sekitar Pantai Hamadi Kamis (17/3) kemarin. Kondisi hutan perempuan hingga kini terus terancam akibat pembangunan maupun sampah. (FOTO: Gamel/Cepos)
JAYAPURA-Setelah mengakhiri semua proses pemilihan, Tanj dan Monj Port Numbay Tahun 2022 satu persatu mulai mengawali langkah dengan menangkap isu – isu kekinian. Salah satunya terkait kearifan lokal hutan perempuan.
Para finalis ini pada Kamis (17/3) mendatangi Rumah Bakau Jayapura untuk menggali informasi terkait ekosistem mangrove termasuk hutan perempuan. Selain melakukan diskusi, Tanj Monj juga membuat video pendek tentang kawasan ekosistem mangrove di sekitar Pantai Hamadi.
“Jadi kalau mau dibilang kondisinya saat ini, dulunya hutan ini masih sangat terjaga. Kami, mama-mama bisa masuk mencari bia (kerang) tanpa busana, sebab hanya ini tempat kami. Tapi sekarang tidak bisa, tempat sudah terbuka,” ujar Petronela Merauje, salah satu warga asal Kampung Engros menceritakan kondisi hutan perempuan tersebut.
Ia mengatakan bahwa perempuan di kampung tidak punya hak untuk berbicara di para-para adat dan itu sudah jadi aturan adat. Perempuan di kampung hanya bisa berbicara di belakang dan posisi hutan itu memang ada di belakang kampung.
“Kami dulu bangga dengan hutan ini, karena kami bica bicara lepas di situ dan hanya ada perempuan, tapi sekarang banyak penimbunan dan rumah-rumah. Sampah – sampah juga banyak,” bebernya.
Sementara Ronnie dari Rumah Bakau menjelaskan bahwa keberadaan komunitas lingkungan yang ada dalam wadah Rumah Bakau satu konsennya adalah ikut berbicara soal penyelamatan hutan bakau.
“Kami percaya ini menjadi dapur bagi mama-mama yang biasa masuk dan mencari kerang. Tapi tekanan demi tekanan terus terjadi dan kami pikir ini kembali ke kebijakan pemerintah kota untuk menjaga. Memproteksi, jangan sampai sudah sedikit atau bahkan hilang baru kita saling menyalahkan,” tambah Ronnie.
Annisa Infandi perwakilan Monj mengatakan bahwa ia dan Tanj Monj lainnya sengaja berkunjung untuk mempelajari apa dan bagaimana hutan perempuan yang sejatinya menjadi satu kearifan yang harus dijaga.
“Kami banyak mendapat cerita di sini bahwa ternyata hutan perempuan memiliki nilai sosial dan budaya bagi masyarakat khususnya perempuan di kampung – kampung. Hanya sayangnya ada kondisi yang memang harus diperbaiki dan kami berterimakasih bisa mendapat cerita ini,” tutupnya. (ade/tri)
Pada dasarnya, kacang bukan satu-satunya makanan yang dapat dikaitkan dengan munculnya jerawat. Jerawat dipengaruhi oleh…
Dalam acara Kick Off Pelatihan Vokasi Nasional Tahun 2026 Angkatan 4 yang digelar secara hibrida…
Sorotan tersebut makin menguat lantaran realisasi anggaran tahun 2026 yang sebesar Rp72 miliar dilaporkan baru…
Malaysia selanjutnya bersiap mengirimkan surat resmi kepada Sekretariat ASEAN. Menteri Luar Negeri Malaysia juga ditugaskan…
Memang, malam itu, santri asal Bangil, Kabupaten Pasuruan, ini sedang menjalankan tugas untuk membersihkan sampah,…
Gubernur Papua, Matius D Fakhiri meminta seluruh pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tidak menahan Pendapatan…