

Marcelino Yonas (foto:Mboik/Cepos)
JAYAPURA– Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia Papua, Marcelino Yonas menyebut pembangunan kota baru menuju daerah pengembangan di wilayah Koya, Distrik Muara Tami tentunya ada implikasi tersendiri kedepanya.
“Kalau saya selalu mengacu bahwa walaupun Belanda itu penjajah, ketika mereka melakukan kolonisasi di Papua mereka juga memperhitungkan aspek-aspek dan dampak pembangunan itu berapa puluh tahun ke depan, salah satunya itu blue print,” kata Marcelino Yonas, Selasa (11/3).
Seperti halnya di Koya dengan kontur tanah yang ada saat ini, dengan kondisi geologi yang sebagian besar merupakan endapan rawa dangkal, sebagianya endapan pantai, sebagian endapan sungai, itu sangat tidak direkomendasikan untuk dijadikan sebagai kawasan permukiman.
“Seharusnya itu, daerah itu dijadikan sebagai daerah pertanian seperti sebelumnya,” katanya.
Namun tentu di sisi lain persoalan pengembangan daerah Kota Jayapura yang sangat terbatas saat ini, sehingga tempat itulah menjadi salah satu kawasan yang dipilih untuk daerah pengembangan kota baru.
“Memang ini menjadi tantangan baru bagi walikota yang baru sekarang, untuk menentukan ke depan bagaimana. Karena saat ini untuk pengembangan kota, yang didorong adalah wilayah Koya,” ungkapnya.
Menurutnya yang bisa dilakukan saat ini adalah rekayasa engineering harus dilakukan. Bahwa setiap pembangunan itu betul-betul dipastikan, misalnya untuk pembangunan bangunan dimulai dari pondasi dan segala macamnya itu harus mengikuti kaidah-kaidah rekayasa engineering.
“Supaya ke depan kita tidak mendengar tiba-tiba ada masalah banjir, karena saat ini sudah banyak yang terjadi khususnya di wilayah Koya Barat. Belum lagi kalau kontraktor atau developer hanya timbun asal-asalan tanpa pemadatan, ini berbahaya,” ujarnya.
Kemudian yang paling penting pengawasan yang berjenjang dari izin lingkungan, yang dilakukan oleh pemerintah melalui Dinas Lingkungan Kota Jayapura. Terutama yang berkaitan dengan penyusunan dokumen yang berhubungan dengan lingkungan hidup harus diperhatikan dengan sebaik-baiknya.
“Karena implikasi ke depan kalau kita hanya ada dokumen secara administratif tanpa melihat dampak jangka panjangnya, berimbang melihat segala sesuatunya. Pasti kita bisa survive ke depannya. Tapi kalau masih dengan kita punya gaya-gaya dulu, nah itu saya pesimis untuk kita lakukan pengembangan kota ini berjalan baik ke depan,”pungkasnya.(roy/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Akar dari permasalahan ini dibongkar oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian. Dalam Rapat Kerja…
Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Jayapura, Kombes Pol Rommy Sebastian, menjelaskan bahwa korban selamat bernama Agnes…
Di berbagai wilayah Papua, tantangan pendidikan masih menjadi perhatian, mulai dari keterbatasan akses pendidikan tinggi…
Dikatakan, untuk LPG 12 kg dijual dengan harga Rp 410.000. Sementara untuk LPG ukuran 5,5…
Media sosial Rabu (10/6) siang kemarin dihebohkan dengan beredarnya sebuah video yang memperlihatkan dugaan menu…
Pejabat Sementara Kasubdit Patroli Polairud Polda Papua, AKP Wilston Latuasan, menegaskan bahwa menjaga kelestarian ekosistem…