Categories: MIMIKA

Ekowisata Mangrove Pigapu, Babak Baru Kemandirian Adat Kamoro di Mimika

MIMIKA — Sebuah langkah baru pariwisata berbasis komunitas lahir di Tanah Papua. Lewat Paket Eduwisata dan Sejarah Mapurumane, Ekowisata Mangrove Pigapu resmi menjadi inisiatif pertama di Bumi Cendrawasih yang sukses memadukan pilar masyarakat adat dengan pelestarian alam, budaya suku Kamoro, dan kemandirian ekonomi.

Menariknya, seluruh denyut nadi paket wisata ini digerakkan langsung oleh talenta lokal yang tergabung dalam Kelompok Ekowisata Mangrove Pigapu. Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa masyarakat adat pesisir mampu menjadi aktor utama di tanah mereka sendiri.

Salah satu motor penggerak ekowisata ini adalah David Nataimi. Pemuda asli Kampung Pigapu dari klan Taparu Umapi ini bukan pramuwisata biasa.  David telah mengantongi sertifikasi profesi resmi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) melalui LSP Pramuwisata Indonesia (PRAMINDO).

Bagi pria yang akrab disapa Waute Logpon ini, profesinya adalah wujud tanggung jawab moral anak suku Kamoro dalam menjaga wilayah adat.

“Hari ini saya senang bisa berinteraksi dengan adik-adik dan guru dari Sekolah Negeri Pigapu. Tugas saya adalah menceritakan jenis-jenis burung yang ada di wilayah hutan kampung Pigapu, serta sejarah dan nilai yang diwariskan leluhur tentang masing-masing satwa,” ungkap David, saat diwawancarai Cenderawasih Pos, di Kampung Pigapu, Minggu, (28/6) .

David mencontohkan burung Kakatua Raja, yang dalam bahasa Kamoro disebut OPETEPAWE. Dalam kepercayaan turun-temurun, kicau burung ini dipercaya membawa simbol kabar baik bagi masyarakat.

  Bukan sekadar menyuguhkan pesona fauna, eduwisata ini juga membawa pengunjung larut dalam narasi sejarah yang magis.

Kris Kawane, tetua adat sekaligus pemandu sejarah, bertugas menuntun wisatawan menyusuri lini masa migrasi Leluhur Mapurumane dari kawasan pegunungan hingga menetap di pesisir Kampung Pigapu.

Kris juga menjadi jembatan informasi mengenai aturan hukum adat dalam mengelola sumber daya alam yang diwariskan oleh empat taparu (klan adat), yakni Umapi/Uwapi, Maurupi, Hinokowaripimamora, dan Tawarimamora.

Suasana haru sempat menyelimuti kawasan mangrove saat Kris menyampaikan pesan mendalam di hadapan para siswa dan guru. Bagi masyarakat Pigapu, alam adalah identitas yang tidak boleh luntur.

“Kami terharu, baru kali ini kami bisa menceritakan sejarah ini kepada anak-anak sekolah serta para guru secara langsung, sambil melihat saksi sejarah kampung lama serta alam yang begitu indah. Alam ini merupakan identitas jati diri kami yang harus kami wariskan kepada generasi dan akan terus hidup,” tutur Kris.

Perpaduan keahlian pemuda lokal, petuah tetua adat, dan bentang hijau mangrove kini bersiap menjadikan Kampung Pigapu sebagai percontohan baru pariwisata berkelanjutan di Papua.   Sebuah model wisata yang tidak sekadar menjual keindahan lanskap, tetapi juga merawat martabat masyarakat adatnya. (mww/wen)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Miris, di Muara Tami Seorang Bocah SD Disetubuhi Ayah Tiri

Tindakan tidak terpuji terjadi di Distrik Muara Tami, Kota Jayapura. Seorang pria berinisial AK (31)…

10 hours ago

Tangani 1.572 Kasus, 11 Markas KKB Diduduki

Enam bulan pertama Tahun 2026 menjadi periode yang sarat tantangan bagi Kepolisian Daerah (Polda) Papua.…

11 hours ago

Viral Truk Sampah Diduga “Bermain” BBM

Dalam video berdurasi kurang dari dua menit itu, tampak kendaraan operasional Dinas Lingkungan Hidup dan…

12 hours ago

Tersangka Sakit, Kasus Ibu Bakar Anak Dibantarkan

Kapolres Jayapura AKBP Dionisius V.D.P. Helan mengatakan hingga saat ini proses hukum terhadap kasus tersebut…

13 hours ago

7 Kebiasaan Setelah Makan yang Ternyata Kurang Baik untuk Kesehatan

Sebagian kebiasaan tersebut telah menjadi rutinitas sehari-hari sehingga sering dianggap aman. Padahal, jika dilakukan terus-menerus,…

15 hours ago

Biaya Latsarmil Calon Manajer Koperasi Desa Capai Rp30 Juta/Orang

Berdasarkan data yang diungkapkannya, total biaya pelatihan untuk satu orang calon manajer koperasi mencapai angka…

16 hours ago