

Pelaksnaan kick off rekomendasi penyelesaian non yudisial pelanggaran HAM berat via video confren yang disaksikan Sekda Jayawijaya, Thony M Mayor bersama Forkopimda, korban dan keluarga korban pelanggaran HAM berat di Jayawijaya, Selasa, (27/6), kemarin. (FOTO:Denny/ Cepos)
WAMENA–Upaya pemerintah pusat dalam menyelesaikan pelanggaran HAM berat melalui proses non yudisial, kini mulai dilakukan di seluruh Indonesia khususnya, daerah –daerah yang memiliki kasus tersebut. Kabupaten Jayawijaya salah satunya, sehingga punya kesempatan menyaksikan kick off pelaksanaan rekomendasi penyelesaian non yudisial pelanggaran HAM berat via video confren.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Jayawijaya, Thony M Mayor, SPd, MM menyatakan, program kick off pelaksanaan rekomendasi penyelesaian non yudisial pelanggaran HAM berat, langsung dilakukan oleh Presiden Joko Widodo dari Aceh secara simbolis kepada para korban dan keluarga korban, bahkan pewaris.
“Untuk kita di Jayawijaya dari Kementerian Polhukam pernah datang komunikasi dengan keluarga korban, namun secara budaya memang harus datang dari rumah–ke rumah sehingga bisa disampaikan secara terbuka kepada korban atau keluarga korban pelanggaran HAM berat bisa menerima program ini,”ungkapnya, Selasa (27/6) kemarin.
Ia menyatakan, rekomendasi penyelesaian non yudisial pelanggaran HAM berat dilakukan berdasarkan rekomendasi dari Komnas HAM, sehingga ditindaklanjuti oleh pemerintah dan pemerintah dalam hal ini presiden juga menyatakan, jika ada kesalahan yang dilakukan negara, karena dulunya pelanggaran HAM ini sudah diajukan ke pengadilan, namun bisa bebas karena tak cukup bukti.
Secara terpisah, korban dan keluarga korban pelanggaran HAM berat Jayawijaya, Linus Hiluka menolak semua yang ditawarkan pemerintah pusat dalam upaya penyelesaian pelanggaran HAM berat secara non yudisial, ia merasa kecewa karena pihaknya tak punya kesempatan untuk menyampaikan apa yang diinginkan.
“Penyelesaian secara non yudisial tidak bisa dilakukan di Jayawijaya karena kami sudah menolak hal itu, sebab ada permintaan yang harus dijawab oleh presiden yang dikirim pada 14 November 2022, sehingga dengan cara apapun, kami menolak,”bebernya.
Sementara itu, mewakili perempuan Papua sebagai korban pelanggaran HAM, Margaretha Wetipo menilai, dari sisi perempuan, program ini sangat baik karena sebagai perempuan tak bisa menunggu begitu lama, dan itu ada dampaknya, ketika perempuan menjadi korban pelanggaran HAM akan mengalami stress, dan jadi beban pikiran yang akan berdampak pada anaknya.
“Saya perempuan yang mengalami pelanggaran HAM, saya sangat mendukung program pemerintah pusat, sebab saat ini mereka tidak bisa mengatakan kalau tidak setuju atau segala macam, tapi harus mendengar langsung dari korban,”kata Ketua KPA Jayawijaya.(jo/tho)
Akibat kecelakaan tersebut, satu dari sembilan orang Anak Buah Kapal (ABK) yang berada di atas…
Poster yang beredar luas di media sosial tersebut sempat memicu keresahan warga Timika. Narasi di…
Menurut Pangdam, jika tidak ada perubahan, peresmian akan dilakukan pada 5 Oktober mendatang. Khusus…
Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi Papua menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) Penegakan Peraturan…
Langkah yang dikemas melalui pendekatan humanis ini menyasar dua lembaga pendidikan, yakni SD Pigapu dengan…
Kasus yang turut menyeret nama mantan Sekretaris DPR Papua berinisial JJ tersebut kini memasuki tahap…