Categories: PEGUNUNGAN

7.937 KK di 23 Distrik Jadi Korban Banjir

Denny/Cepos Kondisi banjir yang merendam Distrik Musatfak, Pisugi beberapa waktu lalu .

WAMENA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jayawijaya memastikan banjir di Wamena beberapa waktu lalu akibat  hujan deras membuat 23 Distrik dan korban 7.937 kepala keluarga yang tersebar di 23 distrik menjadi korban banjir. Tak hanya itu, dillaporkan juga ada , 1.289 rumah termasuk honai, kebun masyarakat 169 hektar, dan ada 6064 bedeng yang terendam banjir.

  Kepala BPBD Jayawijaya Amsal Wamo S.Sos mengaku jika dari data yang dihimpun oleh timnya sejak banjir kemarin di Jayawijaya, ada 21 distrik yang letaknya di bantaran kali baliem atau wilayah rendah, sementara 2 distrik di kawasan tinggi namun berdampak pada bencana longsor.

  “Untuk distrik yang berdampak longsor itu Wolo dan Melagalome. Sementara 21 Distrik yang terendam banjir itu Assolokobal, Walelagama , Libarek, Kurulu, Witawaya, Pisugi, Siepkosi, Hubikiak, Wesaput, Maima, Assotipo, Yalengga, Asologaima, Silokarno Doga, Muliama, Musatfak , Hubikosi, Usilimo, Bolakme, Pyramid, dan Distrik Wamena,” ungkapnya Selasa (9/3) kemarin.

  Menurutnya, dari 23 distrik yang terdampak banjir sebanyak 7.937 kepala keluarga yang menjadi korban karena 1.289 rumahnya terendam banjir termasuk honai mereka mereka saat ini mengungsi ke daerah yang agak tinggi karena rumah mereka terendam banjir.

  “Sementara untuk kebun masyarakat yang terendam banjir itu 169 hektar, dan ada 6.064 bedeng,   kolam ikan 145 kolam , sementara kerugian ternak yang mati 163 wam (babi) yang mati tenggelam maupun hanyut terbawa banjir,”jelas Amsal Wamo

   Selin itu, ada 17 jembatan kayu yang menghubungkan kampung dan kampung, Distrik dan kampung yang rusak atau patah, kerusakan ini curah hujan yang tinggi dari tanggal 8 Februari sampai 1 maret kemarin lalu hujan dengan intensitas rendah hingga sedang.

  “Akibat banjir yang terlalu lama hampir sebulan akhirnya tanaman masyarakat mati semua , masyarakat mengira banjir ini hanya berlangsung cepat 2-3 hari , namun terlalu lama tergenang air sehingga tidak ada tanaman hipere yang bisa diselamatkan,”katanya.

  Ia menambahkan dampak banjir yang paling parah itu distrik yang ada di bantaran kali Baliem, seperti dari Distrik Maima sampai ke Bolakme,   sehingga masyarakat membutuhkan bahan pangan, namun untuk saat ini pihaknya masih mendata dulu.

  “Sesuai dengan arahan dari pimpinan, kami masih melakukan pendataan lebih dulu, agar kebutuhan masyarakat bisa dihitung, setelah pendataan ini selesai kita menunggu instruksi selanjutnya dari pimpinan,”tutup Amsal. (jo/tri)

newsportal

Share
Published by
newsportal

Recent Posts

Miris, di Muara Tami Seorang Bocah SD Disetubuhi Ayah Tiri

Tindakan tidak terpuji terjadi di Distrik Muara Tami, Kota Jayapura. Seorang pria berinisial AK (31)…

13 hours ago

Tangani 1.572 Kasus, 11 Markas KKB Diduduki

Enam bulan pertama Tahun 2026 menjadi periode yang sarat tantangan bagi Kepolisian Daerah (Polda) Papua.…

14 hours ago

Viral Truk Sampah Diduga “Bermain” BBM

Dalam video berdurasi kurang dari dua menit itu, tampak kendaraan operasional Dinas Lingkungan Hidup dan…

15 hours ago

Tersangka Sakit, Kasus Ibu Bakar Anak Dibantarkan

Kapolres Jayapura AKBP Dionisius V.D.P. Helan mengatakan hingga saat ini proses hukum terhadap kasus tersebut…

16 hours ago

7 Kebiasaan Setelah Makan yang Ternyata Kurang Baik untuk Kesehatan

Sebagian kebiasaan tersebut telah menjadi rutinitas sehari-hari sehingga sering dianggap aman. Padahal, jika dilakukan terus-menerus,…

18 hours ago

Biaya Latsarmil Calon Manajer Koperasi Desa Capai Rp30 Juta/Orang

Berdasarkan data yang diungkapkannya, total biaya pelatihan untuk satu orang calon manajer koperasi mencapai angka…

19 hours ago