

Yohanes Samkakai ( foto: Sulo/Cepos)
MERAUKE – Sebanyak 13 nelayan asal Kabupaten Merauke yang ditahan pihak otoritas PNG menjalani sidang perdana, Senin (26/9), kemarin.
Kepala Badan Pengelolaan Perbatasan Kabupaten Merauke, Rekianus Samkakai, S.STP, MAP, saat ditemui media ini mengunkapkan, sesuai agenda yang diterima dari KBRI di Moresby PNG, 13 nelayan asal Kabupaten Merauke yang ditangkap otoritas PNG tersebut menjalani sidang perdana 26 September 2022.
‘’Kita minta dan harapkan keringanan hukuman bagi 13 warga negara kita yang sedang menjalani proses hukum di PNG tersebut,’’ katanya.
Para nelayan tersebut, jelas Rekianus Samkakai menjelani sidang di Moresby, ibukota negara PNG.
Rekianus Samkakai juga menjelaskan, dalam menghadapi proses hukum tersebut, ke-13 nelayan tersebut mendapat pendampingan hukum yang disiapkan pihak KBRI. Hal itu disampaikan Rekianus Samkakai terkait dengan keraguan pihak keluarga yang merasa tidak ada pendampingan hukum terhadap 13 nelayan tersebut.
‘’Kita terus ikut perkembangannya sampai putusan nanti. Kita berharap dan meminta keringanan hukuman kepada mereka,’’ tandasnya.
Diketahui ke-13 nelayan tersebut berasal dari KM KMN Arsila 77 dengan Nahkoda bernama Sarif Casiman (32) dengan 6 ABK masing-masing Laode Darsan(40), Riki Hemi Setiawan (38), Farid Sasole (31), Peli Puswakor (22), Joni (46), dan Ceno Jelaful (28).
Sementara untuk KMN Baraka Paris 21 dengan Nahkoda Rohman (43), Joni (51) yang merupakan tukang masak, Amin Nurul Mustofo (21) bagian mesin dan 3 kru yakni Nuriadi (42), Beni Wasel (26) dan Fernando Tuwok (22).
Dengan proses hukum tersebut, sudah tercatat 25 nelayan asal Kabupaten Meraue menjalani proses hukum di PNG karena melanggar teritorial saat menangkap ikan. Sebelumnya, 12 nelayan juga ditangkap dan saat ini sedang menjani hukuman di PNG. Masing-masing nelayan dijatuhi hukuman 4 tahun penjara.
Sebagaimana diketahui, kedua kapal nelayan tersebut ditangkap tentara PNG Selasa (22/8) sekitar pukul 15.30 WIT, karena memasuki wilayah PNG untuk menangkap ikan. Kedua kapal ini masuk wilayah laut PNG bersama dengan KMN Calvin-02.
Namun saat melihat ada kapal patroli PNG, KMN Calvin-02 berusaha kabur sehingga tentara PNG memberondongnya dengan tembakan peluru. Akibatnya, Nahkoda KMN Calvin-02 bernama Sugeng meninggal dunia akibat kena peluru pada bagian kepala.
Sedangkan 8 ABK lainnya berhasil selamat karena merundung dan bersembunyi di bagian mesin yang berada di bagian bawah kapal. (ulo/tho)
Enam langkah itu meliputi pelaksanaan operasi pasar murah secara berkala untuk menjaga keterjangkauan harga, inspeksi…
Pertemuan berlangsung penuh harapan dan suasana emosional, karena para tenaga K2 asli Port Numbay merasa…
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyatakan penolakan tegas terhadap draft Rancangan Undang-Undang Hak…
Terobosan baru yang dihadirkan Pemerintah Kota Jayapura melalui Disdukcapil bekerja sama dengan Pengadilan Negeri (PN)…
Menurut Abisai Rollo, keberadaan para Ondoafi memiliki posisi yang sangat penting karena mereka merupakan pemilik…
Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak cukup hanya dilihat dari besarnya proyek nasional maupun investasi yang masuk,…