Categories: FEATURES

Sempat Menanyakan Saya Salah Apa

Sepenggal Cerita Dian Elis Oktoviana Puhiri yang Tewas Karena Luka Bakar Usai Disiram Bensin

Dian seorang remaja yang disiram bensin dan dibakar akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya usai berjuang hampir dua pekan di rumah sakit. Orang dekat maupun teman bercerita jika Dian merupakan sosok anak yang baik.

Laporan: Yohana_Sentani

Kepergian Dian Elis Oktoviana Puhiri masih menjadi luka. Korban ibarat penghubung dan pengobat luka bagi dua keluarga Ohee dan Puhiri. Hubungan dua keluarga ini akhirnya membaik, namun insiden tak mengenakkan justru terjadi belakangan. “Bayangan dan suara Dian masih jelas diingatan saya, gadis kecil yang baru saja tumbuh besar,” katanya Katrin salah satu keluarganya saat ditemui beberapa hari lalu.

Katrin bercerita hingga Dian dibawa ke RS Dian Harapan, ia dan keluarga lainnya langsung menuju rumah sakit. Di ruang perawatan Rumah Sakit Dian Harapan, Dian berulang kali mengucapkan kalimat yang sama. “Saya salah apa ya?”. Bukan sekali. Bukan dua kali. Kalimat itu terus diulangnya selama berhari-hari ketika ia berjuang melawan luka bakar yang menghanguskan sebagian tubuhnya.

Dian tidak marah, tidak ada makian dan tidak ada dendam. Hanya sebuah pertanyaan yang hingga kini masih menggantung di hati keluarga, sahabat, dan siapa saja yang mengenal dirinya. Dian Elis Oktoviana Puhiri lahir pada 1 Maret 2011. Ia baru saja menyelesaikan pendidikan di bangku SMP dan bersiap memasuki babak baru kehidupannya. Seperti remaja seusianya, ia memiliki mimpi besar.

Ia ingin melanjutkan sekolah. Ia ingin melihat dunia yang lebih luas. Ia bahkan pernah bercerita kepada teman-temannya tentang keinginannya melanjutkan pendidikan hingga ke Bogor. Namun semua mimpi itu terhenti pada usia yang masih sangat muda. Bagi orang-orang yang mengenalnya, Dian bukan anak yang suka mencari masalah. Ia dikenal ramah, mudah bergaul, dan selalu menghormati orang yang lebih tua.

Di sekolah, ia dikenal sebagai siswi yang rajin dan aktif. Di lingkungan gereja, Dian hampir tidak pernah absen mengikuti ibadah. “Kami mengenalnya sebagai anak yang baik sekali,”kata Katrin. Senyumnya mudah dikenali, sapanya hangat. Tidak pernah terdengar ia berbicara kasar atau menunjukkan kebencian kepada orang lain.

Karena itulah kabar yang datang pada malam 6 Juni lalu membuat banyak orang tidak percaya.Malam itu, sekitar pukul 22.40 WIT, Dian berada di sebuah kedai pinang di pinggir jalan menuju Kalkhote, Kampung Nolokla. Seperti hari-hari biasanya, ia membantu berjualan bersama mama tirinya.

Di kedai sederhana itu tersedia pinang dan bensin eceran yang dijual kepada warga sekitar. Tidak ada yang menyangka malam itu akan menjadi awal dari perjuangan panjang yang harus dijalani. Menurut keterangan kepolisian dan sejumlah saksi, sebelum peristiwa terjadi sempat terjadi pertengkaran antara korban dan mama tirinya yang berinisial DY.

Dalam situasi yang memanas, tubuh Dian diduga disiram bensin dan kemudian api dinyalakan. Dalam hitungan detik, kobaran api membungkus tubuh remaja itu. Warga yang berada di sekitar lokasi berusaha memberikan pertolongan menggunakan air yang tersedia. Namun api terus membesar. Di tengah rasa sakit yang luar biasa, Dian berlari keluar mencari pertolongan.Ia berusaha menyelamatkan dirinya sendiri.

Dengan tubuh yang terbakar, ia berlari menuju bak penampungan air milik warga dan menceburkan diri ke dalamnya. Malam itu warga berusaha melakukan apa yang mereka bisa. Polisi yang menerima laporan segera datang ke lokasi. Dian kemudian dilarikan ke Puskesmas Harapan sebelum akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Dian Harapan untuk menjalani perawatan intensif.

Sejak saat itu dimulailah perjuangan panjang selama hampir dua pekan. Mama kandungnya, Susi Ohee, bersama Katrin Ohee dan anggota keluarga lainnya bergantian menjaga di samping tempat tidurnya. Mereka menyaksikan bagaimana seorang anak berusaha bertahan hidup di tengah rasa sakit yang sulit dibayangkan. Namun yang membuat keluarga semakin terharu adalah sikap Dian selama menjalani perawatan.

Ia tidak menyalahkan siapa pun, tidak menunjukkan kebencian. Bahkan kepada orang yang diduga menyebabkan dirinya mengalami luka bakar.Kartin Ohee masih mengingat jelas momen itu. Dalam kondisi tubuh yang penuh luka, Dian beberapa kali meminta agar mama tirinya dipanggil mendekat.

Saat perempuan itu datang, Dian justru menggenggam tangannya. Ia mencium tangannya dan meminta maaf.Bahkan ketika melihat air mata jatuh dari wajah mama tirinya, Dian berusaha mengusapnya, dengan kondisi tangannya yang kaku karena terbakar.Pemandangan itu membuat siapa saja yang berada di ruangan tersebut tidak mampu menahan tangis.

“Anak ini sangat kuat. Dia tidak pernah menunjukkan kebencian kepada mama tirinya,” kenang Kartin.Kalimat lain yang tak pernah hilang dari ingatan keluarga adalah ketika Dian berkata,”Mama, saya tidak marah mama. Mungkin selama ini saya salah. Saya minta maaf”. Ucapan itu keluar dari seorang anak yang sedang berjuang antara hidup dan mati. Ucapan yang membuat keluarga bertanya-tanya tentang besarnya hati yang dimiliki Dian.

Dian bukan sosok yang kerap mengeluh. Ia memilih diam, tetap tersenyum. Ia tetap menjalani hidupnya seperti biasa. Selama dua belas hari harapan terus hidup, keluarga terus berdoa, teman-teman sekolah datang memberi semangat. Tenaga medis berusaha melakukan yang terbaik, namun pada 18 Juni, pukul 08.00 WIT, Tuhan memanggil.

Perjuangan panjang itu berakhir, tangis pecah di rumah sakit. Mama kandungnya beberapa kali pingsan karena tidak sanggup menerima kenyataan. Di rumah duka, suasana tidak kalah pilu. Teman-teman sekolah berdatangan dengan mata sembab. Mereka masih sulit percaya bahwa sahabat yang selama ini selalu hadir dengan senyum dan canda kini telah tiada.

Samuel, salah satu teman dekatnya, mengaku terakhir kali berkomunikasi dengan Dian pada malam sebelum kejadian. “Malam itu kami masih sempat berbicara. Dia tidak cerita apa-apa,” katanya.Kini percakapan itu menjadi kenangan terakhir yang tersisa. Yang tertinggal hanyalah cerita tentang seorang anak yang dikenal baik hati, rajin beribadah, hormat kepada orang tua, dan memiliki cita-cita besar untuk masa depannya.

Sementara kakak kedua korban, Doddy Puhiri, mengaku keluarga masih sangat berduka atas kepergian Dian sekaligus menghadapi kenyataan bahwa sosok yang selama ini menjadi mama bagi korban kini harus berhadapan dengan proses hukum. Iapun meminta keluarga dan masyarakat tidak menyebarkan informasi yang tidak sesuai dengan fakta.

“Dari sisi keluarga, kami berharap agar keluarga lainnya tidak lagi menceritakan hal-hal yang tidak benar dan tidak sesuai fakta. Selama hidupnya, Dian diperlakukan dengan baik seperti anak pada umumnya,” ujar Doddy. Menurutnya, pola pengasuhan yang diterapkan kepada Dian tidak berbeda dengan anak-anak lain dalam keluarga. Teguran maupun hukuman diberikan sebagai bagian dari pendidikan orang tua kepada anak.

“Kalau ada kesalahan pasti ditegur. Dian tumbuh dengan baik di keluarga kami dan sangat kami jaga karena dia satu-satunya anak perempuan,” katanya. Doddy mengaku tidak berada di lokasi saat kejadian berlangsung. Namun berdasarkan informasi yang diperolehnya, pada hari kejadian Dian dan DY sedang berjualan seperti biasa. Dian kemudian meminta izin keluar bersama seorang teman yang juga masih memiliki hubungan kekerabatan.

Sekitar 30 menit kemudian, teman tersebut kembali seorang diri dan memberitahukan kepada DY bahwa Dian pergi bersama teman lainnya. Saat dihubungi melalui telepon seluler, korban tidak merespons beberapa kali panggilan. Ketika kembali, terjadi pertengkaran antara Dian dan DY yang berujung pada tindakan pembakaran terhadap korban.

“Kami juga kaget mendengar kejadian itu. Seharian mereka baik-baik saja. Mama selama ini justru sangat membela Dian, sehingga kami tidak menyangka hal seperti itu bisa terjadi,” ujarnya. Ia menambahkan, setelah kejadian berlangsung, DY langsung melaporkan diri ke Polsek Sentani Timur dan tidak berupaya melarikan diri. “Mama siap menjalani proses hukum atas perbuatannya,” kata Doddy.

Pihak keluarga berharap masyarakat maupun kerabat tidak memperkeruh suasana dengan berbagai informasi yang belum tentu benar. “Kami kehilangan adik perempuan kami, dan di saat yang sama kami juga kehilangan mama kami karena peristiwa ini. Kami berharap semua pihak tidak mengintervensi atau membuat cerita yang justru memperburuk keadaan,” tuturnya.

Ditempat terpisah, Kapolres Jayapura AKBP Dionisius V.D.P. Helan melalui Kasat Reskrim Polres Jayapura AKP Axel Panggabean membenarkan bahwa terduga pelaku telah diamankan dan saat ini tengah menjalani pemeriksaan intensif. “Terduga pelaku sudah kami amankan dan saat ini sedang menjalani pemeriksaan mendalam. Penyidik masih terus melakukan pendalaman untuk mengungkap motif maupun latar belakang terjadinya peristiwa tersebut,” ujar AKP Axel Panggabean.

Menurut Axel, selama korban menjalani perawatan di rumah sakit, penyidik tetap melakukan pendalaman kasus. Namun atas pertimbangan kemanusiaan dan permintaan korban yang menghendaki pendampingan, DY sempat diberikan kesempatan untuk menemani korban selama masa perawatan. “Keputusan tersebut diambil atas pertimbangan kemanusiaan dan kebutuhan korban selama menjalani perawatan. Meski demikian, proses hukum tetap berjalan dan penyidik terus melakukan pendalaman terhadap perkara ini,” jelasnya.

Axel juga meluruskan informasi yang beredar di sejumlah media mengenai hubungan antara korban dan terduga pelaku. “Perlu kami luruskan bahwa yang bersangkutan bukan ibu tiri korban, melainkan ibu angkat korban. Informasi ini perlu disampaikan agar tidak terjadi kesalahpahaman di tengah masyarakat,” tegasnya. “Kami memastikan setiap tahapan proses hukum dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku. Saat ini fokus penyidik adalah mendalami motif pelaku serta melengkapi seluruh proses penyidikan guna memberikan kepastian hukum dalam perkara ini,” pungkas AKP Axel. (*)

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Mendagri: 29 Persen Masyarakat di Papua Tak Miliki Rumah

Menteri Dalam Negeri menyoroti masih tingginya angka masyarakat di Papua yang belum memiliki rumah maupun…

38 minutes ago

Wali Kota: SPMB di Sekolah Negeri Gratis!

Terkait Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) ini, Wali Kota Jayapura, Dr. Abisai Rollo menegaskan bahwa…

3 days ago

Tuntutan 13 Tahun Penjara Agar Ada Efek Jera

Kepala Kejaksaan Negeri Jayawijaya, Sunandar Pramono, SH, MH mengatakan dari 9 terdakwa kasus korupsi dana…

3 days ago

MRP Kecewa, Tak Bisa Bertemu Bupati dan Wabup Jayapura

Kelompok Kerja (Pokja) Adat Majelis Rakyat Papua (MRP) Papua mengaku kecewa karena tidak dapat bertemu…

3 days ago

Besok, Wapres Dijadwalkan Kunjungi Asmat

Gubernur Apolo menjelaskan, dalam rangka kunjungan tersebut, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Papua…

3 days ago

Pemerintah Jangan Korbankan Tanah Adat

Menurut Emanuel Gobay, yang juga anggota Koalisi Penegak Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) Papua,…

3 days ago