Categories: FEATURES

Sejak Kecil Suka Membela yang Lemah, Tewas Usai Menyuarakan Hak Pekerja

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menilai Marsinah sebagai representasi keteguhan perempuan Jatim dalam memperjuangkan kebenaran.

“Marsinah mengajarkan kepada kita bahwa keberanian tidak mengenal jabatan. Suara seorang buruh pun dapat menggerakkan banyak hati,” ujarnya.Penetapan ini menutup penantian panjang selama tiga dekade dan mengukuhkan Marsinah sebagai bagian dari sejarah perjuangan keadilan di Indonesia.

Marsinah lahir pada 10 April 1969 di Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur. Ia adalah anak kedua dari tiga bersaudara dan dikenal sebagai buruh yang vokal menyuarakan hak-hak pekerja. Marsinah dikenal sebagai buruh di PT Catur Putra Surya (CPS), sebuah pabrik pembuat jam yang berada di Porong, Sidoarjo. Ia dikenal gigih memperjuangkan hak-hak pekerja di era 1990-an.

Pada Mei 1993, setelah memimpin aksi mogok kerja menuntut perbaikan nasib, Marsinah dinyatakan hilang. Tiga hari kemudian, ia ditemukan telah meninggal dunia. Kepergiannya kini menimbulkan duka mendalam dan menjadi simbol perjuangan kaum buruh yang tak kenal lelah menegakkan keadilan di Tanah Air.Sejak kecil, Marsinah sudah menunjukkan keteguhan hati dan jiwa pembela keadilan.

Tak hanya membantu orang tuanya di sawah, Marsinah juga dikenal sebagai pelindung bagi teman-teman sekelasnya.“Waktu sekolah dulu, dia pernah membela temannya yang ditindas. Nggak suka lihat ketidakadilan,” cerita Budhe Sini dengan mata berkaca-kaca.

Pendidikan dasar dan menengah Marsinah ditempuh di kampung halamannya SD Ngelundo, SMPN 5 Nganjuk, dan SMA Muhammadiyah Nganjuk. Setelah lulus, Marsinah merantau ke Sidoarjo, ikut kakaknya, Marsini, bekerja sebagai buruh di PT Catur Putra Surya (CPS), Porong. Di situlah Marsinah mulai aktif sebagai buruh yang vokal menyuarakan hak-hak pekerja.

Namun perjuangan itu harus dibayar mahal. Pada tanggal 8 Mei 1993, jasad Marsinah ditemukan tak bernyawa di sebuah gubuk di Kecamatan Wilangan, Kabupaten Nganjuk. Luka-luka yang ditemukan di tubuhnya menjadi saksi bisu kekerasan yang dialaminya dan hingga hari ini, keluarga masih menanti keadilan. (*)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Page: 1 2

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Tahun ini, SMAN 4 Jayapura Siapkan Kuota 432 Siswa Baru

SMAN 4 Jayapura mulai mempersiapkan pelaksanaan penerimaan peserta didik baru (PPDB) untuk Tahun Ajaran 2026/2027…

2 days ago

KY Tekankan Integritas Penegakan Hukum Pemilu di Papua

Kegiatan ini menjadi bagian dari pelaksanaan tugas pengawasan Bawaslu Provinsi dan Kabupaten/Kota pada masa non-tahapan…

2 days ago

Jembatan Putus, 7 Orang Tewas Tenggelam

Sanking banyaknya orang menaiki jembatan tersebut akhirnya tali jembatan putus dan 30 an orang tenggelam.…

2 days ago

Kejari Musnahkan Barang Bukti 62 Perkara Inkracht

Pemusnahan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan eksekusi perkara pidana oleh kejaksaan, tidak hanya terhadap terpidana,…

2 days ago

Jumlah penduduk Provinsi Papua Capai 1,074 juta

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua mencatat jumlah penduduk di daerah itu mencapai 1,074 juta…

2 days ago

Turun ke Lokasi Kebakaran, ABR Pastikan Penanganan Darurat Terpenuhi

Peristiwa kebakaran yang terjadi sekira pukul 15.45 WIT tersebut menghanguskan sedikitnya 10 petak rumah warga.…

2 days ago