Categories: FEATURES

Ada 32 Penari yang Dibina, Prioritaskan Anak OAP Jadi Atlet Barongsai

“Perkembangan olahraga Barongsai di Papua bisa dibilang cukup. Artinya kita itu (FOBI) perlu atlet lebih banyak, supaya semakin berkembang,” ungkap Irwan kepada Cenderawasih Pos di Vihara Arya Dharma Kota Jayapura, Selasa (17/2).

Kepada Cenderawasih Pos, Irwan mengungkapkan bahwa kesulitan selama ini yang membuat FOBI sulit berkembang, ialah kebanyakan atlet yang ada, setelah selesai seklolah melanjutkan pendidikan di luar kota, sehingga mengakibatkan kekosongan.

Kondisi ini mengakibatkan FOBI Papua setiap tahunnya harus mendidik dan merekrut atlet baru. Mulai dari anak-anak hingga remaja dan dewasa agar kesinambungan. “Kita prioritaskan anak-anak Papua untuk menjadi seorang atlet,” cetusnya.

Kendala lain yang menghambat perkembangan FOBI Papua jelas Irwan adalah kurangnya tempat latihan yang permanen untuk para atlet berlatih. Meskipun selama ini tempat latihan bagi para atlet ada, tetapi tidak sesuai yang diharapkan.

Karena itu, ketua FOBI Papua itu berharap, pemerintah dalam hal ini KONI Papua dapat membantu pihaknya dalam mengatasi sejumlah kekurangan yang ada di tubuh FOBI Papua, terutama dari sisi sarana pendukung pelatihan dari para atlet.

“Ya kita prestasi bisa berkembang, tapi kan kita mau kirim atlet keluar daerahkan belum bisa, karena terkendala dengan biaya yang cukup besar. Sementara di KONI kita belum diterima sebagai anggota bagian dari KONI,” pungkasnya.

Sementara itu, Pelatih Barongsai Golden Tiger Papua, Budi mengatakan bahwa Barongsai cukup unik. Dikatakan unik karena di satu sisi Barongsai sebagai warisan budaya, namun di sisi lainnya adalah olahraga.

Ia menegaskan bahwa meskipun barongsai merupakan budaya yang berasal dari negara China, namun dalam perkembangannya telah menjadi cabang olahraga sekaligus seni pertunjukan yang diminati berbagai kalangan.

Saat ini, kata Budi sanggar Golden Tiger Papua memiliki 32 penari sekaligus atlet aktif yang berlatih. Dari jumlah tersebut hampir keseluruhannya adalah anak-anak Papua asli.

“Untuk jumlah atletnya saat ini sebanyak 32 orang di sasana. Dan ini murni olahraga, bukan lebih kepada agama atau kepercayaan, tetapi lebih kepada olahraga sekaligus seni yang ditampilkan,” ujarnya.

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Recent Posts

Ketemu Tupai Jinak, Kayu Bolong dan Guyuran Hujan

Untuk mencapai pintu rimba, kami memilih menggunakan kendaraan milik warga. Pilihan ini bukan tanpa alasan.…

11 hours ago

Komoditas Kayu Masih Jadi Andalan Ekspor Papua

BPS Provinsi Papua, Emi Puspitarini, di Jayapura, Senin, mengatakan komoditas kayu masih menjadi penyumbang terbesar…

12 hours ago

Abisai Rollo: Hutan Bakau Tetap Harus Dilestarikan!

Ia menjelaskan bahwa kawasan hutan bakau di Jayapura, khususnya di wilayah Hamadi hingga Holtekamp, memiliki…

13 hours ago

Awasi Ketat UAS SD, Demi Objektifitas dan Integritas Ujian

Ujian ini dijadwalkan berlangsung selama empat hari, dimulai sejak, Senin 4 Mei hingga Kamis, 7…

14 hours ago

Kelulusan Siswa SMAN 1, Jaga Nama Baik Sekolah

Menurutnya, kelulusan merupakan awal dari harapan baru bagi generasi muda untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang…

14 hours ago

Kibarkan Bintang Kejora Saat Kelulusan, Kobakma Ricuh

Kericuhanpun tak terhindarkan, aparat harus menghindari lemparan batu sambil melepas tembakan gas air mata. Dari…

15 hours ago