

Ketua Yayasan Gema Valentine Nerlince Wamuar saat menenangkan orang tua peserta yang melepas anak mereka mengikuti masa basis si Rindam XVII/Cenderawasih, dari Asrama SMA Unggulan Taruna Cenderawasih, Selasa (14/7). (foto:Karel/Cepos)
Mereka yang Memilih Pendidikan di SMA Unggulan Taruna Cenderawasih
SMA Unggulan Taruna Cenderawasih, salah satu sekolah yang menerapkan sistem pendidikan berpola asrama tahun 2026 ini menerima sejumlah siswa angkatan kedua. Sebelum menjalani kehidupan di asrama, mereka harus menjalani pendidikan dasar di Rindam XVII/Cenderawasih.
Laporan: Karolus Daot_Jayapura
Matahari baru saja naik ketika halaman Asrama SMA Unggulan Taruna Cenderawasih mulai dipenuhi kendaraan dan orang-orang yang datang dari berbagai penjuru Papua. Di tangan mereka tergenggam koper, tas pakaian, ember, hingga perlengkapan mandi. Bukan untuk pindah rumah, melainkan mengantar anak-anak mereka memulai babak baru kehidupan.
Hari itu, puluhan siswa kelas X akan berangkat mengikuti pendidikan dasar (Diksar) selama satu bulan di Rindam XVII/Cenderawasih sebelum resmi menjalani kehidupan berasrama.
Sebelum keberangkatan, para siswa mengikuti apel bersama guru, Ketua Yayasan Gema Valentine Papua Nerlince Wamuar, serta jajaran sekolah. Momen itu sekaligus dirangkaikan dengan peringatan HUT ke-18 Yayasan Gema Valentine Papua dan HUT pertama SMA Unggulan Taruna Cenderawasih.
Suasana pagi masih dipenuhi tawa. Yel-yel khas Taruna diteriakkan bergantian. Para siswa saling bercanda, sementara para orang tua duduk di teras asrama memperhatikan anak-anak mereka dengan wajah bangga. Namun, suasana berubah seketika.
Begitu kepala sekolah memberi aba-aba agar seluruh peserta mengangkat barang bawaan ke dalam bus, tawa perlahan menghilang. Orang tua yang semula hanya menjadi penonton spontan bangkit membantu mengangkat koper anak-anak mereka. Tak sedikit mata mulai berkaca-kaca.
Beberapa orang tua sibuk merekam momen itu dengan telepon genggam, seolah ingin menyimpan detik-detik terakhir sebelum anak mereka menjalani kehidupan yang berbeda. Di sudut lain, terdengar isak tangis yang tak lagi bisa disembunyikan.
Hari itu bukan sekadar mengantar anak ke sekolah. Hari itu adalah hari belajar melepaskan. Di antara mereka ada Tabita Wayoi. Perempuan asal Serui itu datang khusus menggunakan kapal hanya untuk mengantar putranya, Benedektus Imanuel Aragay.
“Berat sekali,” katanya berulang kali sambil menahan air mata.
Selama ini Benedektus tinggal di Jayapura bersama neneknya agar bisa bersekolah. Namun dengan diterapkannya sistem asrama, sang ibu merasa benar-benar harus menyerahkan anak laki-laki satu-satunya itu kepada sekolah. “Saya datang dari Serui hanya untuk mengantar dia masuk asrama,” tuturnya.
Sebagai seorang ibu, rasa berat itu tak bisa disembunyikan. Tetapi di balik kesedihan, ada keyakinan yang jauh lebih besar. “Saya percaya dia pasti kuat. Dia punya keinginan untuk maju, punya masa depan yang lebih baik, lebih mandiri dan lebih bertanggung jawab.”
Benedektus merupakan anak kedua dari tiga bersaudara sekaligus satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga. “Anak laki-laki harus kuat,” ucap Tabita pelan.
Baginya, kesempatan sang anak diterima di SMA Unggulan Taruna Cenderawasih adalah anugerah yang patut disyukuri. “Tidak semua anak bisa sekolah di sini. Kami bersyukur sekali. Harapan saya, sekolah ini membentuk generasi Papua yang lebih baik,” tandasnya.
Perasaan serupa juga dirasakan Hardin Karim. Hari itu ia memilih tidak bekerja demi mengantar putri sulungnya, Tasyah Hermawati. Keputusan yang menurutnya tidak akan pernah disesali. “Alhamdulillah saya bersyukur. Ini memang pilihan anak sendiri untuk sekolah di sini,” ujarnya.
Meski bangga, sebagai seorang ayah ia mengakui perpisahan itu bukan perkara mudah. Apalagi selama ini putrinya hampir tidak pernah menginap jauh dari rumah. “Ini pertama kali dia benar-benar jauh,” ujarnya dengan mata berkaca kaca.
Selama mengikuti pendidikan di Rindam, orang tua hanya diberi kesempatan menjenguk dalam waktu yang sangat terbatas. Setelah kembali ke asrama sekolah pun kunjungan tetap dibatasi. “Itu yang paling berat rasanya,” katanya.
Namun seperti orang tua lainnya, Hardin memilih menahan rasa rindu demi masa depan anaknya. “Harapan saya cuma satu, semoga pendidikan di sini bisa membuat dia menjadi orang yang berhasil,” harapnya.
Apa yang dirasakan para orang tua hari itu pernah dialami oleh Sneider Jacolua dan Ingrid Suryani Mamahi. Kini keduanya duduk di kelas XI dan telah satu tahun tinggal di asrama.
Mereka tersenyum ketika mengingat hari pertama meninggalkan rumah.
“Awal-awal memang berat,” kata Sneider. Kami juga dulu menangis,” timpal Ingrid sambil tertawa kecil.
Menurutnya, rutinitas bangun pagi, hidup bersama teman-teman dari berbagai daerah, mengikuti aturan ketat, hingga mencuci pakaian sendiri perlahan menjadi kebiasaan. “Sekarang sudah terbiasa. Jadi lebih disiplin,” ujar Sneider.
Menurut mereka, pendidikan di Rindam menjadi proses penting yang membuat seluruh siswa cepat beradaptasi. “Di sana langsung terbentuk. Setelah itu hidup bersama teman-teman jadi lebih mudah.”
Tanpa telepon genggam yang selalu menemani, mereka justru menemukan kebersamaan yang lebih hangat. “Lebih banyak cerita-cerita dengan teman. Lebih seru,” kata Sneider.
Ketua Yayasan Gema Valentine Papua, Nerlince Wamuar, mengaku meski baru berdiri setahun, namun SMA Unggulan Taruna Cenderawasih telah memiliki dua angkatan dengan total 140 siswa. “Angkatan pertama terdiri dari tiga kelas, sedangkan angkatan kedua dua kelas. Hari ini angkatan kedua kami berangkat ke Rindam XVII/Cenderawasih untuk mengikuti masa basis selama satu bulan,” katanya.
Menurut Nerlince, program masa basis bukan bertujuan meningkatkan kemampuan akademik, melainkan membentuk karakter para siswa melalui pembinaan kesamaptaan, kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, dan rasa percaya diri.
Saat ini SMA Unggulan Taruna Cenderawasih memiliki delapan asrama, masing-masing empat untuk taruna dan empat untuk taruni, serta dua dapur yang dipisahkan untuk siswa laki-laki dan perempuan.
Di sisi lain, pembangunan ruang kelas baru (RKB) juga terus dilakukan dengan dukungan Pemerintah Kota Jayapura melalui Dinas Pendidikan. “RKB sedang dikerjakan oleh Dinas Pendidikan Kota Jayapura. Rancangannya dua lantai, meski tahun ini kemungkinan diselesaikan satu lantai terlebih dahulu. Kami berterima kasih kepada Pemerintah Kota Jayapura yang terus mendukung keberlangsungan sekolah ini,” ungkapnya.
Menurutnya, SMA Unggulan Taruna Cenderawasih memang dipersiapkan untuk mencetak generasi unggul, khususnya bagi anak-anak Port Numbay dan anak-anak asli Papua di Kota Jayapura. Nerlince berharap masyarakat dan para orang tua terus memberikan dukungan terhadap pendidikan karakter yang sedang dibangun melalui sekolah tersebut. (*/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Meski sama-sama gagal melangkah ke final, duel ini diprediksi tetap berlangsung sengit. Prancis ingin menutup…
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Ribka Haluk mengingatkan Pemerintah Provinsi Papua Selatan agar mengoptimalkan penggunaan…
Aksi ini dilakukan pasca-sidang lanjutan gugatan terhadap Bupati Merauke terkait rencana pembangunan jalan akses…
Sejumlah pejabat teras Polri turut mendampingi Fadil, di antaranya Kepala Operasi Damai Cartenz-2026 Irjen Pol.…
Menurut Setyo, pendekatan pencegahan menjadi prioritas utama karena dinilai lebih efektif dalam membangun tata…
Kepala Karantina Papua Tengah Anton Panji Mahendra mengatakan, pengawasan dilakukan sebagai bagian dari tugas Barantin…