Categories: FEATURES

Ditemukan Oleh Seekor Anjing dengan Nama Aslinya yang Berarti Seorang Nenek

Mengunjungi Goa Binsari atau  Goa Jepang di Biak yang Menyimpan Jejak Perang Dunia ke II

Di balik hutan rimbun dan sejuknya udara Biak, ada sebuah tempat yang menyimpan kisah panjang tentang Perang Dunia II. Goa Binsari, yang dikenal oleh masyarakat lokal sebagai Goa Jepang. Bagaimana kondisinya kini

Laporan: Ismail – Biak Numfor

Pada hari Rabu, 14 Mei 2025, Cenderawasih Pos berkesempatan mengunjungi Goa Binsari atau yang biasa dikenal sebagai Goa Jepang dan bertemu langsung dengan pengelola tempat tersebut, Yusuf Rumaropen. Seperti yang diceritakan oleh Yusuf, Goa Binsari bukan hanya sekadar gua yang terletak di Biak Kota, tetapi juga memiliki nilai sejarah yang mendalam, yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa penting pada masa Perang Dunia II.

Goa ini yang pada awalnya ditemukan oleh masyarakat lokal sebagai tempat tinggal dan tempat berkebun, bertransformasi menjadi salah satu lokasi strategis yang digunakan oleh tentara Jepang selama perang. Goa yang terletak sekitar 15 hingga 20 meter di bawah tanah ini dipilih oleh tentara Jepang sebagai tempat persembunyian dan pusat logistik, di mana mereka menyimpan berbagai perlengkapan militer, termasuk makanan, obat-obatan, dan bahkan bahan bakar.

“Goa ini sudah ditemukan jauh sebelum tentara Jepang datang. Warga setempat saat itu menemukan goa ini karena seekor anjing yang tiba-tiba muncul dengan tubuh basah, yang mengarah pada penemuan gua tersembunyi di balik semak-semak,” ujar Yusuf. Sejak saat itu, gua ini pun mulai dikenal dengan nama Abyab Binsari dalam bahasa Biak, yang berarti “seorang nenek,” karena konon sering terdengar suara tangisan seorang nenek dari dalam goa.

Namun, pada masa Perang Dunia II, goa ini menjadi saksi bisu dari pertempuran antara pasukan Jepang dan Sekutu, yang akhirnya menyebabkan terjadinya pemboman di sekitar area tersebut. Menurut cerita dari Yusuf, sekitar 11 ribu tentara Jepang ditempatkan di Biak dan Supiori, dengan sekitar 3.000 tentara Jepang ditempatkan di sekitar Goa Binsari. Di tempat ini pula ditemukan banyak benda bersejarah, seperti tulang belulang tentara, granat, rudal berkarat, serta berbagai peralatan perang lainnya, yang kini dipajang dalam museum kecil di lokasi tersebut.

Meski gua ini sudah dibuka untuk umum sejak tahun 1990-an, pengelolaan Goa Binsari tetap bergantung pada upaya keras dari masyarakat lokal, terutama keluarga Yusuf, yang sudah turun-temurun menjaga dan merawat situs ini. “Kami mulai mengumpulkan benda-benda peninggalan ini sejak tahun 1980-an, sebelum ada pembangunan di sini. Kami ingin menjaga sejarah ini tetap hidup dan mengenalkan kepada generasi mendatang,” lanjutnya.

Page: 1 2

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Golkar Papua Selatan Percepat Konsolidasi Hadapi Pemilu 2029

Dewan Pengurus Partai Golkar Papua Selatan melakukan percepatan melakukan konsolidasi untuk menghadapi Pemilu 2029 mendatang.…

37 minutes ago

Lima Korban Ditemukan Dalam Keadaan Meninggal

Kapolres Jayawijaya melalui Kabag Ops AKP Edy T Sabhara menjelaskan untuk insiden jembatan yang putus…

1 day ago

Larangan Pungli Harus Jadi Perhatian Serius Tiap Sekolah

Menurut Rocky, Dinas Pendidikan Kota Jayapura telah mengingatkan seluruh satuan pendidikan, mulai dari tingkat SD…

1 day ago

Berharap Pergumulan MRP Dapat Ditindaklanjuti Gubernur

ubernur Papua, Matius D. Fakhiri, menggelar pertemuan bersama Majelis Rakyat Papua (MRP) di Gedung MRP,…

1 day ago

Sudah 113 Kali Donorkan Darah, Bangga Karena Diberi Umur Panjang

Franky yang memiliki golongan darah B tersebut mengaku pada awalnya dia melakukan donor ada kekuatiran…

1 day ago

Alokasikan Dana Hibah Rp11 M Untuk 500 Lembaga

Pemerintah Kota (Pemkot) Jayapura, Papua, pada 2026 mengalokasikan dana hibah sebesar Rp11 miliar untuk 500…

1 day ago