

Emma Awinero-Tjoe (FOTO:Foto: Jimi/Cepos)
Mengenal Mama Emma Awinero-Tjoe Pelaku dan Pemerhati Budaya Asal Kampung Nafri
Kegigihan Mama Emma Awinero-Tjoe adalah sebuah seruan sekaligus tamparan bagi generasi muda Papua. Ia membuktikan bahwa keterbatasan materi dan usia bukanlah alasan untuk tunduk pada gerusan zaman.
Laporan: Jimianus Karlodi_Jayapura
Di sebuah teras rumah sederhana berbahan kayu dengan dinding bercat biru mudanya yang mulai memudar, seorang perempuan lansia duduk dengan amat tenang. Rambutnya yang memutih terikat rapi dalam balutan kain penutup kepala bermotif khas Papua yang dibentuk tinggi menjulang. Tatapan matanya yang teduh namun tajam menembus rindangnya pepohonan hijau dan pekarangan Kampung Nafri yang asri.
Dialah Mama Emma Awinero-Tjoe. Di atas bangku panjang kayu yang menjadi saksi bisu jejak pengabdiannya, perempuan yang kini berusia 76 tahun ini sedang memikul sebuah misi besar yang kian hari kian sepi peminat, menjaga agar lidah anak-cucu di Tanah Port Numbay tidak melupakan bahasa ibu mereka.
Kampung Nafri, sebuah perkampungan yang dikelilingi perbukitan berwajah hijau dan deburan ombak lautan di Kota Jayapura, beruntung memiliki sosok seperti Mama Emma. Lahir di Sentani pada, 8 April 1950, Mama Emma bukanlah sekadar lansia biasa. Di balik garis-garis keriput di wajahnya yang sarat akan kebijaksanaan, ia adalah seorang budayawan, pengrajin, dan seniman multi-talenta yang luar biasa.
Tidak tanggung-tanggung, ia menguasai lima bahasa sekaligus secara aktif yakni: Bahasa Nafri, Bahasa Sentani, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Bahasa Belanda. Kemampuan linguistik dan seninya yang langka ini tidak ia gunakan untuk mengejar kemewahan atau popularitas di tengah riuhnya pusat Kota Jayapura.
Sebaliknya, lebih dari satu dekade terakhir tepatnya sejak tahun 2015, Mama Emma memilih mendedikasikan sisa hidup, waktu, dan seluruh energinya untuk mendirikan sebuah sanggar kesenian bernama Fufe Mbea, yang dalam bahasa lokal berarti ‘Satu Hati’. Melalui wadah inilah, ia mengikat janji sunyi untuk merawat peradaban sukunya yang mulai terkikis zaman.
“Kebudayaan itu adalah hidup kita, selalu ada dalam hidup kita, dan kebudayaan itu sangat luas. Apa yang kita pelajari dan apa yang kita buat dalam menghasilkan sebuah seni merupakan bagian dari suatu budaya,” ungkap Mama Emma dengan suara yang tenang namun sarat penekanan.
Kondisi Sanggar Fufe Mbea saat ini sangat jauh dari kata mewah. Letaknya cukup terpencil, bangunannya tampak sangat bersahaja, fasilitasnya minim, dan tidak ada gelontoran dana besar yang mengalir ke sana. Namun, ketiadaan fasilitas itu sama sekali tidak mengurung niat suci perempuan kelahiran Sentani itu.
Di ruang sederhana yang menyatu dengan alam itulah, setiap hari ia meluangkan waktu berharga bagi anak-anak Kampung Nafri.Sebagai seorang penutur asli (native speaker), ia sadar betul bahwa mengajarkan bahasa daerah kepada generasi muda di era digital modern bukanlah perkara mudah. Oleh karena itu, ia menggunakan pendekatan yang menyentuh hati dan menyenangkan.
“Saya mengajar anak-anak dengan cara menyanyi dan berkomunikasi langsung menggunakan bahasa kampung Nafri,” jelasnya sembari tersenyum.Melalui untaian nada, nyanyian daerah, dan cerita-cerita rakyat yang diwariskan leluhurnya, Mama Emma menyelipkan kosakata, struktur kalimat, serta nilai-nilai moral tradisional Nafri agar lebih mudah dicerna oleh memori anak-anak.
Baginya, bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi visual atau audio semata, melainkan jangkar identitas diri. Kehilangan bahasa daerah berarti kehilangan sejarah, runtuhnya nilai-nilai adat, dan hilangnya jati diri suatu suku bangsa. Budaya kaya akan pengetahuan dan keyakinan yang diwariskan dari generasi ke generasi, sehingga menjaga bahasa daerah adalah pilar utama untuk mempertahankan keanekaragaman tersebut.
Kerja keras yang dilandasi ketulusan memang tidak pernah mengkhianati hasil. Meski bergerak dalam senyap di pinggiran Jayapura tanpa fasilitas mentereng ataupun penghasilan yang besar, dedikasi perempuan parubaya itu akhirnya didengar dunia luar. Pemerintah Kota Jayapura melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan secara resmi menganugerahinya Anugerah Kebudayaan Kategori ‘Pelestari’ tahun lalu (2025).
Penghargaan ini menjadi bukti nyata atas kontribusinya yang tak ternilai, termasuk keterlibatan mendalam Mama Emma sebagai salah satu tim penerjemah kitab suci Alkitab ke dalam Bahasa Nafri, serta perannya sebagai pengrajin yang terus melahirkan karya seni berkualitas khas Port Numbay.
Namun bagi Mama Emma, penghargaan tertinggi bukanlah plakat atau piagam, melainkan ketika ia mendengar anak-anak di kampungnya masih bisa menyahut dan berbicara dalam bahasa Nafri dengan fasih. Ia menyadari bahwa kemampuan menjadi penutur bahasa lokal yang sah tidak bisa dimiliki semua orang secara instan.
”Apa yang Mama buat saat ini hanya segelintir saja dari kebudayaan itu. Kebudayaan itu sangat luas dan secara kemampuan, manusia tidak bisa menjangkau semuanya. Hanya segelintir kecil ini yang kami bisa buat,” ujarnya dengan penuh kerendahan hati.Melihat sosok Mama Emma yang telah memasuki usia senja namun masih berdiri teguh tanpa mengeluh, ada sebuah refleksi mendalam yang mengetuk kesadaran kita bersama.
Bergetarkah hati kita melihat seorang lansia masih harus bekerja keras demi mempertahankan benteng terakhir budaya mereka? Tegakkah kita melihat mereka berjuang dengan kemampuan fisik yang secara alami tak lagi mendukung? Bukankah selayaknya para lansia menikmati masa tua mereka dengan tenang, menghabiskan waktu bercerita nyaman bersama anak cucu tanpa beban berat di pundak?.
Kegigihan Mama Emma Awinero-Tjoe adalah sebuah seruan sekaligus tamparan bagi generasi muda Papua. Ia membuktikan bahwa keterbatasan materi dan usia bukanlah alasan untuk tunduk pada gerusan zaman. Melalui Sanggar Fufe Mbea, Mama Emma telah memberikan “Satu Hati”-nya yang utuh untuk Tanah Port Numbay. Kini, giliran generasi penerus yang harus membuka hati mereka untuk meneruskan tongkat estafet yang sedang ia genggam erat, sebelum semuanya terlambat dan terkubur oleh waktu. (*)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Anggota DPR Papua jalur Pengangkatan Otonomi Khusus (Otsus) Daerah Pengangkatan Kabupaten Biak Numfor, Musa Sombuk,…
Dalam persidangan perkara Nomor 9/G/LH/2026/PTUN Jayapura ini, tim kuasa hukum masyarakat adat menghadirkan tiga orang…
Ia memerintahkan seluruh Gubernur, Bupati, Camat, Hingga Kepala Desa untuk memeriksa seluruh dapur Satuan Pelayanan…
Pelaku yang berprofesi sebagai sopir transportasi online (Maxim) ditangkap di Jalan Manokwari, tepatnya di samping…
Selain penegakan hukum, pemerintah juga menekankan pentingnya penguatan perlindungan anak dan pola pengasuhan dalam keluarga…
Ketujuh tersangka masing-masing berinisial MB, AB (23), LS (26), DA, NS, KB, dan SP. Seluruhnya…