“Ketika semua kunci itu dibuka, maka akan menjadi cerita yang menghanyutkan setiap pembaca, untuk kemudian merasakan cerita penindasan yang dialami oleh perempuan Papua,” ungkapnya.
Julia Opki merupakan perempuan Pegunungan Bintang yang lahir di Jayapura. Ia pernah menempuh pendidikan di Universitas Mercubuana Yogyakarta Tahun 2014. Namun dirinya tak sempat meraih gelar sarjananya lantaran faktor ekonomi.
Meski begitu, ia tetap berkeinginan menjadi seorang penulis. Selain melahirkan “Juang Rahim Kaum yang Tertindas”, perempuan yang menyukai sastra ini juga sedang merampungkan buku kumpulan cerpen bersama rekan-rekannya.
Dirinya aktif dalam dunia gerakan, kerap mengikuti kelas teater dan selalu mengupdate isu-isu yang terjadi di Papua. Selain Julia Opki, ada juga penulis perempuan Papua lainnya yaitu Esther Haluk dengan buku ‘Nyanyian Sunyi’ yang mendapat penghargaan Dermakata Award 2024 kategori fiksi dan Aprila Wayar novelis perempuan pertama dari Papua. (*/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Gubernur menegaskan, keputusan tersebut merupakan kebijakan yang tidak populer, namun harus diambil demi menjaga stabilitas…
Turut hadir pula Wakil Panglima TNI Tandyo Budi Revita, KSAD Maruli Simanjuntak, dan KSAL Muhammad…
Insiden pertama terjadi pada Senin (27/4), disusul kejadian serupa pada Selasa (28/4) sekitar pukul 11.22…
Kepala Biro Humas Kemenhaj RI, Moh Hasan Afandi, memberikan pernyataan resmi melalui konferensi pers yang…
Ia menegaskan, tujuan utama negara adalah melindungi seluruh rakyat Indonesia. Karena itu, pendekatan keamanan tidak…
Belum lagi, ”dibantai” penguji saat sidang skripsi. Hal itu membuatnya enggan membuat skripsi. Gayung bersambut,…